Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

MIUMI Pusat

tentang MIUMI pusat

Print Friendly

Visi Misi Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia

Posted by on May 26, 2015 in Profil | 0 comments

Visi. Menjadi lembaga kepemimpinan formal islam terdepan dalam menegakkan nilai-nilai Islam. Menjadi wadah pemersatu para intelektual dan ulama Indonesia dalam membangun peta -perjuangan menuju kejayaan islam. Misi. Membangun wibawa kepemimpinan formal Islam yang bisa dipercaya umat melalui good governance. Menjadikan hasil riset sebagai landasan penetapan fatwa agar dapat tersosialisasi dengan baik. Menyatukan potensi para intelektual dan ulama dalam membentuk peta perjuangan dakwah yang mendatangkan pertolongan Allah SWT dalam memenangkan Islam dan menjayakan umat Islam.   Islam jelas panduannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah dan Rasulullah. Sementara tradisi, kebiasaan, adat, budaya, itu nggak ada patokannya,...

read more

Silatnas MIUMI Garut: Meningkatkan Peran Ideal Ulama

Posted by on Feb 12, 2015 in Nasional | 0 comments

Silatnas MIUMI Garut: Meningkatkan Peran Ideal Ulama

Garut – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) kembali melaksanakan hajatan nasional. Acara bertajuk Silaturahim Nasional (Silatnas) dan Pelantikan MIUMI Wilayah Jawa Barat dan 18 pengurus daerah-daerah di Jawa Barat ini digelar di Hotel Sumber Alam, Cipanas, Garut, Jawa Barat, pada Selasa dan Rabu, 13-14 Januari 2015. Silatnas dibuka pada Selasa 13/01/2015 jam 20.00. KH. Aceng Zakaria, sesepuh kota Garut memberi sambutan pertama. Dalam sambutan singkatnya, ia menerangkan tentang karakter ulama. Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango, serta Pengurus dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut ini mengapresiasi keberadaan MIUMI. Menurutnya, ia merasa senang dan berbesar hati, karena masih banyak orang yang akan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Pria yang lahir di Sukarasa, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, 66 tahun silam itu lalu menjelaskan hakikat dan prinsip ulama. “Penulisan kata ‘al Ulama’ dalam al Qur’an, di atas wawu ada hamzah, berbeda dengan tulisan yang baku. Hal ini karena tidak semua yang dianggap ulama itu adalah ulama,” jelasnya berfilosofi. Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut ini lantas mengutip penjelasan Ibnu Abbas tentang hakikat ulama. Menurut Ibnu Abbas, ulama adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, istiqamah menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, serta yakin bahwa dia akan berjumpa dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Selanjutnya, Kiai Aceng yang juga tokoh Persis Jawa Barat ini mengutip pendapat Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, tentang tiga klasifikasi ulama. Pertama, ulama yang menghancurkan dirinya sendiri dan menghancurkan orang lain (muhlikun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini telah mencintai dunia atas nama agama. Kedua, ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain (mus’idun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini mengajak manusia kepada Allah secara lahir batin. Ketiga, ulama yang menghancurkan dirinya dan membuat bahagia orang lain (muhlikun nafsahu mus’idun ghairahu). Ulama dengan kriteria ini, mengajak kepada Allah dan secara lahiriah menolak dunia, namun dalam diri sebenarnya dia cinta dunia dan bertujuan mencari popularitas. Imam Ghazali menutup penjelasan tersebut dengan pertanyaan menohok, “Min ayyi aqsaamin anta (dari golongan ulama manakah dirimu)?” Lebih lanjut KH. Aceng Zakariyya mengibaratkan, ulama pertama itu seperti rokok. Dia sendiri meleleh dan setelah menjadi puntung diinjak-injak manusia. Ulama jenis kedua, dia ibarat matahari yang menyinari dunia. Ia terus bersinar, meski di permukaan bumi terkadang orang yang disinari tidak melaksanakan shalat. “Al-syamsu syamsun wa lau lam taraha al-a’ma (matahari itu matahari meski tidak terlihat oleh orang buta),” jelas dia bertamsil. Sementara kriteria ulama ketiga, dia seperti lilin. Ia menyinari yang lain, namun dirinya sendiri meleleh. “Ulama tidak punya atasan kecuali Allah. Terkadang ulama masih memiliki atasan selain Allah. Situasi sekarang membutuhkan seorang ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain,” pungkasnya. Sementara Ketua Umum MIUMI Pusat, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menerangkan bahwa Silatnas ini tidak hanya berbentuk silaturahim, namun juga hubungan ilmiah (shilah ‘ilmiyyah). Dalam ungkapan bertanya, ia menyatakan, “Untuk apa kita bertemu? Karena ada tiga persoalan besar, atau three common enemis, yaitu liberalisme, aliran sesat, dan misionarisme.” Kunci menghadapi semua ini, menurutnya, adalah kekuatan umat. “Amerika sudah melakukan ini, namun dengan bahasa mereka, yaitu hegemoni. Sementara bahasa kita adalah al fath atau pembebasan,” jelas dia. Hamid memberi contoh, di India dan negeri lain misalnya, yang terjadi bukanlah hegemoni Islam, namun pembebasan manusia dari animisme dan dinamisme. “Oleh karena itu, Islam, sesuai namanya, adalah agama yang membebaskan,” simpul dia. Cita-cita MIUMI ingin membebaskan umat Islam yang terhegemoni itu. Hamid...

read more

MIUMI Harus Bantu Pemerintah Atasi Masalah Sosial

Posted by on Feb 10, 2015 in Nasional | 0 comments

MIUMI Harus Bantu Pemerintah Atasi Masalah Sosial

Tarakan – Kehadiran Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di sejumlah daerah, khususnya di Kalimantan Utara (Kaltara), diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam mengatasi berbagai masalah sosial. Demikian pernyataan Gubernur Kaltara Dr. Irianto Lambri dalam sambutannya saat menghadiri pelantikan pengurus MIUMI Wilayah Kaltara (07/02). Hadir pula pada acara yang digelar di Masjid Al Ma’arif itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara KH. Zaenuddin Dalilla, serta Ketua Harian MIUMI Pusat Adnin Armas  MA dan Sekjen MIUMI Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM. Menurut Irianto, Indonesia dewasa ini sedang mengalami krisis ulama yang dapat dijadikan tempat untuk berkonsultasi bagi pemimpin daerah dalam melahirkan kebijakan publik. “Karenanya kehadiran MIUMI saya sambut baik, agar mampu melakukan percepatan dalam melahirkan ulama muda yang mumpuni dalam ilmu agamanya, sekaligus berwawasan sosial yang tinggi,” ungkapnya. Senada dengan Gubenur Kaltara, Ketua MUI Kaltara mengibaratkan kehadiran MIUMI di Tarakan seperti lampu penerang baru. Dimana lampu yang baru ini akan menambah terang masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial dan beragamanya di provinsi yang baru ini. “Bagi saya MIUMI ibarat lampu baru yang akan menambah terang lampu penerang yang sudah ada, yaitu MUI,” ujar KH. Zaenuddin Dalilla. Ia berharap agar Pengurus MIUMI menjadi partner bagi MUI dalam memberi masukan bagi pembangunan masyarakat di Kaltara agar tak jauh dari ajaran agama. Karena belakangan ini, menurutnya, sudah mulai muncul prilaku-prilaku negatif masyarakat Kaltara dengan merebaknya pemakai narkoba di kalangan anak muda. Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Harian Miumi Adnin Armas MA menilai umat Islam di Indonesia secara global memang sedang mengalami masalah yang sangat besar. “Yang jika masyarakat Islam bersatu pun masalahnya belum tentu bisa terselesaikan. Apalagi jika kita tidak bersatu,” tandasnya. Ia melihat di era globalisasi ini telah terjadi jurang pemisah yang cukup dalam antara ajaran agama dengan kehidupan sosial masyarakat. Sehingga, katanya, masih ada ustadz dan da’i yang menggangap bahwa antara agama dan kehidupan itu seakan terpisah, yakni antara akhlak dan ilmu sains yang dipelajari masyarakat. “Agama seharusnya hadir dalam berbagai masalah kehidupan sosial yang harus cepat ditanggapi oleh para ustadz atau ulama yang langsung berhadapan degan masyarakat,” ujarnya. Ust. Adnin memberi contoh pada upaya MIUMI dan masyarakat Islam di Jakarta, yang pernah berhasil menggagalkan konser Lady Gaga, serta Kontes Ratu Kecantikan di Sentul. “Kami juga ikut menyoroti draft Rancangan UU Kesetaraan Gender dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR. Akhirnya RUU yang membolehkan nikah beda agama itu ditunda pembahasannya hingga saat ini,” ungkapnya. Menurut pakar pemikiran Islam yang juga aktif di INSIST ini, kemajuan negeri tanpa ada unsur Islam, maka pembangunan negeri itu akan rusak. “Jika Islam secara teologis dan ideologis tidak hadir dalam masyarakat, maka masyarakat itu akan rusak,” tegasnya. Fenomena seperti ini, lanjut Ust. Adnin, bisa terjadi di kalangan umat Islam saat ini karena banyak umat Islam yang tak peduli lagi dengan ajaran Islam. “Islam hanya dijadikan sebagai asesoris yang kurang menarik, bukan dijadikan impian dan dambaan. Karena agama hanya menjadi urusan di waktu sisa mereka,” tuturnya. Sekjend MIUMI Ust. Bachtiar Nasir menambahkan, jika para ulama dan da’i yang bekerjasana dengan pemerintah daerah tidak kembali kepada Al Qur’an dalam membangun Indonesia yang lebih beradab, maka hal itu cuma mimpi. Karena menurutnya, Al Qur’an adalah kitab peradaban sebagaimana Rasulullah membangun peradaban Islam di jazirah Arab hingga menguasai 2/3 dunia. “Anak-anak di Kaltara harus dididik sejak dini dengan Al Qur’an agar menjadi ulama. Apakah ibu-ibu siap?” tanya Ust. Bachtiar yang...

read more

Hoax E-Number Lemak Babi: Kasus White Koffee, Es Krim Magnum, & Lays

Posted by on Feb 2, 2015 in Artikel, Nasihat | 0 comments

Hoax E-Number Lemak Babi: Kasus White Koffee, Es Krim Magnum, & Lays

Assalaamu ‘alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh. Sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT. Saat ini, masih juga ada berita menghebohkan di masyarakat yang menyebutkan bahwa beberapa produk makanan terkenal tertentu yang bersertifikat halal resmi MUI ternyata haram karena menggunakan bahan dari babi. Tulisan yang bertajuk: “Kode Babi pada Makanan Kemasan (termasuk dalam ES KRIM MAGNUM)” ini beredar di internet, melalui: email, mailist, Facebook, Twitter, maupun SMS, WhatsApp, Telegram. Anehnya, si penulis artikel tidak mengidentifikasi kandungan babi tersebut menggunakan fasilitas uji laboratorium, seperti Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), atau Gas Chromatography – Mass Spectrum (GC-MS). Penulis menyebutkan bahwa kandungan babi sebuah bahan dapat diketahui dari keberadaan kode E tertentu pada label di kemasan. Ini yang menarik! Penulis ternyata ‘memastikan’ keberadaan bahan baku makanan dari babi bukan didasarkan pada analisis ilmiah, namun sekedar keberadaan sebuah huruf tertentu pada kemasan. Atas saran banyak sahabat, saya diminta membuat tulisan agar mudah di-copy paste sahabat-sahabat, agar bisa bersama-sama mengoreksi kesalahan dan kembali menenangkan umat dengan berita yang benar. Sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah Swt. Saya pertama kali memperoleh hoax (informasi bohong di internet) ini di sekitar tahun 2004/2005. Sekarang hoax ini muncul lagi, bahkan menyebut salah satu produk dari sebuah perusahaan terkenal di tanah air. Saya sedih…hoax ini jadi pesan berantai. Banyak saudara kita yang tidak tahu, lalu merasa wajib menyebarluaskannya. Semua gara-gara termakan issue bohong…! Efeknya tentu menjadi sangat buruk, Pertama, muncul image bahwa LPPOM MUI tidak amanah, padahal lembaga ini sudah sangat ketat sistemnya dan istiqomah para auditornya. Kedua, umat seakan jadi sangat mudah diombang-ambingkan berita dari orang fasiq. Bahkan beberapa kalangan dalam umat Islam sekarang gemar menyebarkan berita yang aneh-aneh, padahal tidak jelas status kebenaran berita tersebut. Ketiga, ini bisa jadi fitnah bagi perusahaan yang bersangkutan. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah melarang kita bersikap tidak adil hanya gara-gara kita tidak suka dengan perusahaannya. Maka dari itu, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa hal sbb.: Pertama, Allah Swt meminta kita melakukan tabayyun (klarifikasi) jika kita mendengar berita yang meragukan. Jangan sampai kita melakukan perbuatan yang tidak baik, yang kelak akan membuat kita menyesal. Sebagaimana Firman Allah Swt. Berikut, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujuraat 49: 6) Kedua, Ice cream Magnum dari Walls sudah memiliki Sertifikat Halal (no. 00290047180208, berlaku sd. 22 Januari 2016). Artinya, produk tersebut telah diperiksa dengan cermat dan sangat teliti oleh para ahli (auditor) yang tergabung dalam LPPOM MUI. Emulsifier/stabilizer E472 yang dipakai perusahaan ini juga telah diteliti dan sudah dipastikan bahwa bahannya bukan dari lemak babi. Sebatas yang saya ketahui dan saya yakini sebagai ‘bekas’ Sekretaris Eksekutif LPPOM MUI Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sangat kecil kemungkinan PT. Unilever sebagai produsen Walls nekad menggunakan bahan haram. Alasannya, pertama, Unilever adalah perusahaan raksasa internasional. Apa iya mereka berani mempertaruhkan nama besar perusahaan mereka dengan menggunakan bahan haram. Ajinomoto cukup menjadi pelajaran berharga bagi banyak perusahaan, bahwa kalau nekad menggunakan bahan haram (padahal sudah bersertifikat halal), maka kepercayaan masyarakat bisa hilang. Saat itu omzet penjualan Ajinomoto anjlok hingga tinggal 20%. Ketiga, LPPOM sangat ketat dalam melaksanakan tugas audit halal. Saat ini, setiap perusahaan yang menghendaki Sertifikat Halal (SH) diwajibkan untuk menerapkan Sistem Jaminan Halal (SJH). Ini adalah sistem yang...

read more

Kecerdasan Imam Abu Hanifah

Posted by on Dec 10, 2014 in Artikel, Profil Tokoh, Syiah | 0 comments

Kecerdasan Imam Abu Hanifah

Dalam sebuah majelis ilmu yang diisi oleh Imam Abu Hanifah, salah seorang laki-laki berdiri lantas bertanya, Wahai Abu Hanifah, bagaimana pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang berkata seperti ini, Aku tidak mengharap surga dan tidak takut neraka; Aku suka memakan bangkai dan darah; Aku benci terhadap sesuatu yang hak (benar); Aku lari dari rahmat Allah; Aku juga meminum khamar; Aku bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kulihat; Aku mencintai fitnah; Aku salat tanpa wudhu’; Aku tidak mandi setelah mengalami junub; dan aku suka membunuh manusia! Sebelum menjawab pertanyaan yang rumit (complicated question) di atas, Abu Hanifah melihat pada hadirin lalu berkata, “Jika menurut kalian, bagaimana?” Para hadirin menjawab, “Orang itu jelas kafir!”. Mendengar jawaban mereka, Abu Hanifah tersenyum sejenak, lalu berkata, Itu adalah tanda orang mukmin. Mendengar jawaban Sang Imam, para hadirin keheranan dan berkata, Kenapa bisa begitu? Abu Hanifah menjawab, Yang dimaksud aku tidak mengharap surga dan tidak takut pada neraka itu benar, karena ia berharap dan takut hanya kepada Pencipta surga dan neraka. Yang dimaksud aku suka memakan bangkai dan darah itu berarti ia memakan bangkai ikan dan belalang serta memakan hati dan limpa. Yang dimaksud aku membenarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika berkata bahwa mereka tidak akan selamat. Yang dimaksud aku benci terhadap sesuatu yang hak (benar) itu artinya ia membenci kematian, karena datangnya kematian merupakan sesuatu yang benar. Yang dimaksud aku lari dari rahmat Allah adalah lari ketika kehujanan dan hujan merupakan rahmat Allah. Yang dimaksud aku juga meminum khamar adalah ia juga meminum khamar pada saat darurat. Yang dimaksud aku mencintai fitnah adalah ia mencintai harta dan anak, padahal keduanya fitnah. Allah berfirman, Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah. Innama amwalukum wa auladukum fitnah. Yang dimaksud aku bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kulihat artinya, ia bersaksi kepada Allah, para malaikat, para nabi dan rasul, padahal ia tidak melihatnya. Yang dimaksud aku salat tanpa wudhu adalah ia membaca shalawat kepada Nabi tanpa perlu berwudhu. Yang dimaksud aku tidak mandi setelah mengalami junub artinya ketika ia tidak menjumpai air untuk mandi. Dan yang dimaksud aku senang membunuh manusia adalah ia senang membunuh orang-orang kafir, karena Allah menyebut orang-orang kafir sebagai manusia juga, Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu (Muhammad). (QS. Ali Imran: 173). *** Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah Imam Abu Hanifah di atas. Beliau memang dikenal sebagai ahlul ra’yi, atau banyak menggunakan logika dan filsafat dalam memecahkan masalah-masalah yang rumit dan terjadi di sekitarnya. Patut dicatat, pengasas Mazhab Hanafiah itu hidup di Basrah atau Irak saat ini, yang bersentuhan langsung dengan orang-orang asing dari bangsa Persia yang terkenal dengan kecerdasan dan logikanya. Karena itu, pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tidak mungkin diselesaikan hanya dengan menghafal dalil Al-Qur’an dan Hadis melainkan harus dipadu dengan menggunakan mantiq dan filsafat. Maka, seorang ulama, tidak semestinya hanya menguasai ilmu-ilmu turats terkait Al-Qur’an, Hadis, dan Fikih, tapi sebaiknya turut mempelajari mantik atau filsafat sebagai seni menjawab pertanyaan yang tak terduga, atau memecahkan masalah yang rumit. Kecuali itu, akan lebih sempurna jika seorang da’i memiliki ilmu psikologi, sebagaimana Imam Abu Hanifah di atas, jadi seorang penanya tidak mesti ia belum tahu jawabannya, namun boleh jadi ia hanya menguji, sejauh mana pengetahuan kita terkait soal-soal yang tak terbayangkan sebelumnya, dan seperti apa jawabannya. Tak kalah pentingnya, ketika tidak bisa menjawab, katakan saja, Saya belum tau, karena itu lebih baik daripada...

read more

KH. Jamaluddin Amien, Ulama Pejuang Syariat

Posted by on Dec 10, 2014 in Artikel, Profil Tokoh, Syiah | 0 comments

KH. Jamaluddin Amien, Ulama Pejuang Syariat

KH. Jamaluddin Amin, pertama kali saya mengenal dan berinteraksi langsung ketika ikut dalam diklat dai yang diadakan Asia Moslem Charity Foundation (AMCF). Dikoordinir oleh Ma’had Ali Al-Birr di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Makassar. Saat itu, Pak Kiyai, demikian sapaan akrabnya, membawakan tausiyah pelepasan para peserta diklat yang telah dibina, diajar, dan digembleng selama tiga bulan penuh, dari  November 2009 hingga Januari 2010. Dalam tausiyahnya, ia menekankan kepada para dai agar senantiasa berjuang mengajarkan dan menegakkan agama Allah kapan pun dan di mana pun berada, dan lebih khusus mereka yang akan dikirim ke pedalaman agar bersabar menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, karena itu semua sunnatullah. Bahkan, ia juga menceritakan pengalamannya, terutama saat-saat Orde Baru yang saat itu perjuangan dakwah jauh lebih berat dibandingkan zaman Reformasi. Pak Kiyai selanjutnya memberikan sugesti kepada para calon dai yang segera bertugas ke daerah, dengan membacakan beberapa ayat dan hadis, ketika sedang membaca dalil, ia lupa, dan berkata. Inilah akibatnya kalau orang sudah berumur seperti saya, ingatan tidak lagi normal. Tapi saya teringat dengan sebuah syair Arab yang pas pada diri saya, Ya laeta as-syababu ya’udu yauman, fa akhbaru bima yaf’alul musyib. Andai saja masa muda itu akan kembali padaku walau hanya sehari, akan kukabarkan padamu bagaimana rasanya berada dalam masa uzur. Tiga bulan lamanya saya mengikuti diklat yang diasramakan di kompleks kampus Unismuh. Setiap waktu shalat tiba, setiap itu pula KH. Jamaluddin Amien berada di Masjid Kampus langsung memimpin salat untuk segenap jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan segenap civitas akademika. Dalam sebuah khutbah Jumat yang diisi oleh Pak Kiyai, ia menekankan dengan tegas tentang keharusan bagi para penghuni kampus, khususnya para mahasiswa, dan lebih khusus lagi para dosen untuk menghentikan perkuliahan dan bergegas ke masjid jika azan sudah berkumandang demi menegakkan salat berjamaah. Beliau malah mengukur maju dan mundurnya sebuah kampus itu tidak dilihat dari mewahnya bangunan dan fasilitas, atau ramainya mahasiswa, tapi dilihat, sejauh mana para penghuni kampus mengamalkan kewajiban agamanya, dan itu semua dimulai dari salat berjamaah, kalau salat jamaah saja tidak mampu diwujudkan, maka agenda umat lainnya akan sulit terlaksana. Ia juga menilai bahwa keruntuhan dan kehancuran umat Islam, termasuk lembaga pendidikan jika sudah meninggalkan salat berjamaah. Karena itu, semasa hidupnya, KH. Jamaluddin Amien sangat terkenal dengan ketegasan dan keistiqamahannya dalam menjalankan salat berjamaah. Pendirian Pak Kiyai di atas bukan tanpa alasan, karena secara umum para ulama Ahlussunnah wal-Jamaah menilai bahwa salat berjamaah hukumnya wajib, namun jika dilakukan secara sendirian salat tetap sah dan tidak usah diulangi. Wajib di sini, bukanlah wajib yang sama dengan rukun iman dan rukun Islam, tetapi kedudukannya di bawah itu. Wajib yang dalam istilah Imam Abu Hanifah sebagai, Ma tsabata bidalil dzonniy, yang dalilnya berbentuk dzonni (interpretasi). Sedangkan yang dalilnya bersifat qath’i (pasti) maka itu disebut fardhu, seperti salat, puasa, zakat, dst. Karena itu, salat jamaah dalam pandangan sebagian ulama, terutama bermazhab syafi’i adalah sunnah muakkadah, atau sunnah yang sangat ditekankan. Berdasarkan hadis Nabi, Shalatul jama’ah khaerun min shalatil fazzi bisab’in wa ‘isyrina darajah. Salat berjamaah itu lebih utama 27 derajat dari salat sendirian. Artinya, jika setahun kita melaksanakan salat berjamaah berturut-turut, sama dengan 27 tahun melaksanakan salat dengan sendirian. Dan, ini merupakan bagian dari keistimewaan umat Nabi Muhammad, sekali melaksanakan ibadah, dapat ganjaran sebanyak 27 kali lipat. KH. Jamaluddin Amien selaku ulama senior sangat memahami itu, maka ia pun berusaha mengamalkannya dengan menekankan...

read more

Krisis Muru’ah

Posted by on Dec 10, 2014 in Artikel, Kepemimpinan, Nasihat | 0 comments

Krisis Muru’ah

Pengertian “muru’ah” dari segi bahasa adalah kehormatan dan harga diri. Al-Fayumi mendefinisikan muru’ah sebagai akhlak kejiwaan yang membawa seseorang untuk senantiasa berakhlak baik dan memiliki sikap menawan, sedangkan Al-Kafawi mendefinisikan muru’ah sebagai tabiat kemanusiaan, bahkan keperwiraan yang sempurna. Dari segi istilah, muru’ah bermakna salah satu akhlak islami yang dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki jiwa yang bersih dan tidak terkungkung dan diperbudak oleh nafsu syahwatnya; manifestasi karakter seorang muslim yang memiliki cita-cita (himmah) tinggi dan selalu tidak suka pada sesuatu yang rendah dan hina. Muawiyah bin Abi Sufyan pernah bertanya pada Amr bin Al-Ash tentang muru’ah. Amr menjawab, Muru’ah adalah bertakwa kepada Allah dan menjaling silaturrahim. Muawiyah lalu bertanya pada Mughirah tentang muru’ah, ia menjawab, adalah menjaga diri dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dan melakukan sesuatu yang dihalalkan oleh-Nya. Mughirah juga pernah bertanya hal yang sama pada Yazid, dan ia menjawab, Muru’ah adalah sabar atas musibah, bersyukur atas nikmat, dan memaafkan kesalahan orang lain. Banyak dalil terkait dengan perintah untuk memiliki sifat muru’ah, antara lain firman Allah, Jadilah engkau seorang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang bodoh, (QS. Al-A’raf: 199). Abdullah bin Zubair menjelaskan, Tidaklah ayat ini diturunkan kecuali untuk menerangkan akhlak. Diriwayatkan oleh Sufyan bin Uyainah dari Asy-Sya’bi, ia berkata, Sesungguhnya malaikat Jibril turun membawa ayat ini kepda Nabi Muhammad, kemudian beliau bertanya, Ayat apa ini wahai Jibril? Sang malaikat menjawab, Saya tidak tau. Saya akan tanyakan kepada Zat Yang Maha Mengetahui. Dalam riwayat lain disebutkan, Saya akan bertanya kepada Tuhanku. Jibril lalu pergi dan beberapa saat datang kembali, ia berkata, Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang berbuat zalim kepadmu, memberikan sesuatu kepada seseorang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan menjaling hubungan dengan seseorang yang memutuskan hubungan denganmu. Sebuah syair menerangkan bagaimana muru’ah itu, katanya: Termasuk orang yang memiliki kesempurnaan adalah, seorang pemuda yang padanya terhimpun tiga akhlak mulia, menjalin hubungan dengan orang yang memutuskannya, memaafkan orang yang berbuat aniaya padanya, dan memberikan sesuatu kepada orang yang menahan pemberiannya. Mengenai sifat muru’ah Rasulullah, Ibnu Ishak sebagai ahli sejarah Nabi paling muktabar meriwayatkan sebagaimana berikut, Pada saat Rasulullah masih remaja, Allah telah memelihara dan melindungi beliau dari sifaf-sifat kotor kaum jahiliyah. Itu karena Allah menghendaki beliau menjadi orang terhormat, dan kelak akan diangkat sebagai Rasul-Nya. Beliau memang hidup di tengah-tengah agama kaumnya, tetapi Allah kemudian mengangkatnya sebagai sosok yang memiliki sifat muru’ah paling tinggi di antara mereka, memiliki akhlak paling sempurna, paling baik pergaulannya, paling baik sikapnya terhadap tetangganya, paling jujur perkataannya, paling besar sifat amanahnya dan paling jauh dari sifat keji dan hina. Pendek kata, Rasulullah sangat terhindar dari akhlak yang dapat menodai kesempurnaan peribadinya. Ia adalah pribadi sempurna yang sudah ada sejak kecil dan dipelihara oleh Allah sehingga tidak terkontaminasi akhlak jahiliyah. Kepribadian suci ini telah terawat sejak kecil pada diri sang Rasul. Karenanya, ketika beliau diutus Allah untuk menyampaikan risalah penutup kenabian, yang diprioritaskan pertama kali adalah menanamkan akhlak suci tersebut di tengah-tengah masyarakat. Hadis bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, Kemuliaan orang mukmin ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya, sedangkan keutamaannya ada pada akhlaknya. Ada pun riwayat dari Abu Mas’ud, Di antara sabda Nabi yang dikenal luas oleh manusia adalah, jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. Idza lam tastahyi fashna’ ma tasya’! Bangsa ini, terutama para pemimpin dan aparatur negaranya selalu mengalami kirisis muru’ah. Berbagai...

read more

Jaringan Ulama Asia Tenggara

Posted by on Dec 10, 2014 in Artikel, Kepemimpinan | 0 comments

Kedudukan ilmu dalam agama Islam sangat istimewa, karena segenap sendi kehidupan umat manusia tidak akan bergerak tanpa ilmu. Bahkan Allah mengutus para nabi untuk mengajarkan ilmu kepada para kaumnya. Dan jika menarik tali sejarah jauh ke belakang, tepatnya ketika Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, dan terjadi perdebatan sengit antara malaikat dan Allah yang telah menyampaikan pemberitahuan bahwa Dia akan menciptakan makhluk bernama manusia. Malaikat tidak setuju, karena dikhawatirkan jika makhluk yang kemudian disebut ‘manusia’ itu tercipta, hanya akan mengerjakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Namun Allah selaku pencipta manusia, malaikat, langit dan segenap isinya Maha Tahu, bahwa selain mendatangkan keburukan sebagaimana dikhawatirkan para malaikat, manusia juga adalah jenis makhluk yang akan membawa kemaslahatan, dengan syarat ia harus berilmu. Singkat kata, manusia pertama diciptakan, namanya Adam, langsung dibekali dengan ilmu, dan menjadi guru kepada para malaikat. Lalu, para murid Nabi Adam itu, diperintahkan oleh Allah untuk bersujud pada gurunya sebagai tanda penghormatan dan pernghargaan akan ketinggian ilmunya. Semua bersujud, kecuali iblis yang enggan bahkan sombong, angkuh bin takabbur (aba wastakbara). Karena menentang perintah Allah dan menantang Nabi Adam, maka iblis pun dikutuk hingga hari kiamat, dan kelak akan dijebloskan ke penjara neraka untuk selamanya. Kisah ini, diulang-ulang dalam Al-Qur’an, misalnya Al-Baqarah: 30-38. Setelah Nabi Adam wafat, dan keturunnya kian hari kian bertambah dan bertaburan, maka Allah kembali mengutus rasul demi rasul untuk mengajak dan mengajar kepada kaumnya tatacara hidup dan beribadah dengan baik dan benar yang berlandaskan ilmu. Hingga rasul pamungkas tiba yaitu, Muhammad SAW yang membawa ajaran dan agama Islam yang tertuang dalam wahyu, berupa Al-Qur’an dan hadis. Jika umat-umat terdahulu, selalu dimanjakan dengan diutusnya para nabi dan rasul, maka, umat Nabi Muhammad tidak demikian. Setelah sang Rasul pamungkas tutup usia, ajarannya harus terus terjaga dengan adanya kitab wahyu dan manusia-manusia yang mengabdi dan mewakafkan diri untuk mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan warisan Rasulullah tersebut: Al-Qur’an dan hadis. Golongan inilah yang disebut “ulama”. Jika umat terdahulu, nabinya wafat, maka ilmu pun ikut tercabut. Tapi, bagi umat Islam, ketika Nabi wafat ilmu tetap terjaga di kalangan para ulama. Namun perlu dicatat, ulama tidaklah wujud sebagaimana wujudnya para nabi dan rasul yang diutus langsung oleh Allah. Menjadi ulama adalah sebuah proses yang berliku dan penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Karena itu, Allah sangat mengapresiasi golongan manusia yang berangkat berjuang demi meraih ilmu agar dapat menjadi ulama. Dari Abu Darda’ sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi, Nabi bersabda, Barangsiapa melalui suatu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan membukakan jalan menuju surga. Dan sungguh, para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhahannya atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu. Bahkan ikan-ikan di air melakukan hal yang sama, dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham [uang] mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak. Peran Ulama Di era globalisasi dan penuh dengan tantangan, peran strategis ulama sangat dibutuhkan. Betapa tidak, informasi yang telah menggelobal menjadikan manusia modern hidup tanpa sekat. Apa yang terjadi di belahan Barat nun jauh di sana, dengan mudah dapat disaksikan dimana pun. Bahkan ragam ideologi lintas organisasi, agama, dan bangsa dengan mudah terpasarkan. Masalah kemudian muncul, bahwa apa yang terjadi di...

read more

Fikih Pembangunan Ibnu Khaldun

Posted by on Dec 10, 2014 in Artikel, Kepemimpinan | 0 comments

Fikih Pembangunan Ibnu Khaldun

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Ibnu Khaldun Al-Magribi Al-Hadrami Al-Maliki, yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun. Lahir di Tunisia pada bulan Ramadhan 732H/133M. Berasal dari keluarga ilmuan dan terhormat yang berhasil menyatukan antara jabatan ilmiah dan pemerintahan, sehingga Ibnu Khaldun tumbuh menjadi pribadi yang haus ilmu pengetahuan dan cinta jabatan secara profesinal. Ibnu Khaldun memulai pendidikannya dengan membaca, menelaah, dan menghafal Al-Qur’an yang langsung dididik oleh sang ayah, Abu Abdullah Muhammad sebagai guru pertama yang sekaligus  menjabat sebagai menteri walau akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan beralih menekuni kesufian. Pada tahun 749H, terjadi wabah pes yang dahsyat dan mematikan, di antara korbannya adalah kedua orang tua Ibnu Khaldun, serta beberapa gurunya, dan karenanya, ia terpaksa putus sekolah lalu hijrah ke Magrib. Secara keseluruhan, Ibnu Khaldun memiliki empat periode dalam hidupnya, bermula ketika berada di Tunisia dan berakhir di Kairo Mesir, setiap periode memiliki ciri khas tersendiri. Pertama, periode pertumbuhan, belajar dan menuntut ilmu (732-751H), selama 20 tahun, seluruhnya dihabiskan di Tunisia. Pada periode ini, Ibnu Khaldun berhasil menyelesaikan studinya dan memiliki ijazah ilmiah, antara guru-gurunya yang memiliki pengaruh dalam membentuk worldview bagi dirinya adalah, Syeikh Muhammad Ibnu Ibrahim guru dalam ilmu-ilmu filsafat dan sastra. Juga, Syaikh Abdul Muhaimin Ibnu Hadrami dalam ilmu-ilmu agama yang meliputi, kitab-kitab hadis seperti Kutub as-Sittah, dan al-Muwatta’. Kedua, periode sebagai pejabat negara dengan menduduki jabatan-jabatan administrasi, sekertaris dan politik (751-776H). Selama sekitar 25 tahun, ia pindah-pindah dari berbagai negeri Magrib, hingga sampai di Andalusia (Spanyol), dan menduduki jabatan startegis. Ketiga, periode uzlah, atau mengasingkan diri dengan menulis dan mengadakan penelitian (776-784H). Pada periode ini, Ibnu Khaldun berhasil menulis karyanya yang amat fenomenal “Al-Muqaddimah”. Keempat, periode mengajar dan menjadi hakim (784-808H). Pada periode ini Ibnu Khaldun meninggalkan kehidupan politik secara totalitas, dan beralih profesi sebagai hakim negara di Mesir sekaligus menjadi guru besar di Al-Azhar dan beberapa sekolah lainnya. Ibnu Khaldun adalah penulis produktif, tulisan-tulisannya begitu banyak membahas berbagai macam persoalan. Kitab “Al-Muqaddimah” yang merupakan tulisan pengantar dari kitab intinya, “Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada’ wa Akhbar fi Ayyam al-‘Arab wa Al-‘Ajam wa Al-Barbar waman Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-Akhbar”,  atau disingkat “Al-‘Ibar”, adalah pengantar yang terpanjang dalam sejarah tulis menulis. Dan, kata pengantar inilah menjadi inti dari seluruh persoalan yang dibahas dalam “Al-Ibar”. Ia juga menulis sebuah otobiografi dengan judul “At-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban” yang disebut juga “At-Ta’rif”. Ia menulis biografinya sendiri dengan cara yang sistematis dan ilmiah. Ibnu Khaldun adalah seorang yang memiliki banyak keahlian, dan telah menghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Beliau dikategorikan sebagai pakar pendidikan, ahli sejarah,  bapak sosiologi, ekonom dan politikus handal. Bahkan pemikiran ekonominya telah melampaui zaman sesudahnya, termasuk yang dikemukakan Adam Smith (1723-1790) atau David Ricardo (1772-1823). Publikasi ilmiah Ibnu Khaldun adalah berbasis dari hasil penelitian, termasuk pengamatannya dalam berbagai jenis dan level masyarakat. Selain itu, beliau bukan hanya terpaku pada filsafat dan teoritis, melainkan aplikatif dengan cara terjun langsung menjadi pejabat pemerintah, hakim, dan guru besar. Fokus telaah Ibnu Khaldun kali ini adalah, konsep pembangunan negara. Fikih Pembangunan Pengertian fikih secara bahasa adalah pemahaman, sedangkan menurut istilah merupakan ilmu yang mempelajari hukum syariat, termasuk menetapkan kejelasan hukum sebuah perkara, mulai dari wajib, sunnah, mubah, makruh, hingga haram dengan berlandaskan Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan istimbat para ulama muktabar. Fikih juga dapat bermakna lebih luas, berupa pemahaman dan konsep. Karena itu, ‘fikih pembangunan’ dimaksud adalah konsep...

read more

Filsafat Pendidikan Ibnu Khaldun

Posted by on Dec 10, 2014 in Pendidikan | 0 comments

Filsafat Pendidikan Ibnu Khaldun

  Adalah ilmuan ulung yang turut memberikan andil dalam menganalisa kemajuan dan keruntuhan sebuah negera dan peradaban yang dikenal sebagai peletak dasar ilmu sosiologi sangat layak untuk ditelaah karyanya. Namanya diabadikan dalam sebuah universitas Islam di Bogor yang menjadi role model islamisasi ilmu dan pendidikan Islam. Dialah Abdurrahman Ibnu Khaldun Al-Magribi Al-Hadrami Al-Maliki, yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun, hidup antara 1223 hingga 1406 Masehi. Karena kesibukannya sebagai pejabat tinggi negara dan keterlibatannya dalam politik, serta pengembaraan ilmiahnya begitu jauh dan rumit, Ibnu Khaldun tidak banyak mengahasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat, “Lubab al-Muhashshal“, tentang tasawuf “Syifa as-Sa’il li-Tahdzib al-Masa’il“, dan sebuah otobiografi “at-Ta’rif“. Namun, ketika berada dalam penjara, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul, “Al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wal Barbar wa man ‘Asharahum min dzawas-Sulthan al-Akbar“, atau disingkat “Al-‘Ibar”. Uniknya, justru bagian pendahuluan dari kitab ini yang berjulul “Al-Muqaddimah” justru yang melejitkan namanya ke seantero jagad,  seakan tak kenal setting ruang dan waktu. Ibnu Khaldun adalah ilmuan dan sekaligus praktisi, pakar dan praktisi pendidikan, dibuktikan dengan menjadi guru besar Universitas Al-Azhar Mesir; pakar hukum tata neraga yang bekerja sebagai hakim di Kairo; juga seorang politikus ulung, administrator, filsuf, dan peletak dara ilmu sosiologi, karenanya ia ditahbis sebagai ‘Bapak Sosiologi’. Pemikiran Pendidikan Fokus telaah  kitab “Al-Muqaddiman” kali ini, terletak pada Bab “Berbagai Jenis Ilmu Pengetahuan, Metode Pengajaran, Cara Memperoleh dan Berbagai Dimensinya, dan Segala Sesuatu yang Berhubungan dengannya“. Bab ini, meliputi 50 pasal pembahasan, dan setiap pasal membahas satu jenis ilmu. Setiap satu pasal berhubungan dengan pasal lainnya. Ibnu Khaldun rahimahullah, memulai pembahasan tentang ilmu dengan memaparkan keunggulan manusia dengan ciptaan Allah lainnya. Menurutnya, yang membedakan manusia dari binatang karena manusia mencari petunjuk untuk mendapatkan mata pencaharian, bekerja sama dengan sesama jenisnya, memahami Tuhan yang disembahnya, dan ajaran-ajaran yang dibawa para utusan-Nya, sehingga semua binatang tunduk dan berada dalam kekuasaannya. Dengan keunggulan demikianlah Allah mengutamakan manusia dari makhluk lainnya. Pernyataan Ibnu Khaldun di atas sinkron dengan firman Allah,  Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan diberi mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan, (Al-Qur’an Surah, Al-Isra’: 70). Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut, berpendapat bahwa kutamaan manusia dengan makhluk lainnya dapat dilihat dari dari sisi fisiknya, karena mampu berdiri tegak di atas kakinya, makan dengan kedua tangannya, juga memiliki indera penglihatan, sehingga dapat melihat, memahami dan membedakan sesuatu, baik maupun buruk yang berhubungan dengan agama maupun dengan dunia. (Ibnu Katsir, Al-Misbahul-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, diterjemahkan Tim Pustaka Ibnu Katsir, dengan Judul Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Jilid. 5. Cet. V; Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2012, h. 418). Ada pun Qurasih Shihahb, ia menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memuliakan manusia dengan bentuk tubuh yang bagus, kemampuan berbicara dan berfikir, juga berpengetahuan, serta Allah juga memberikan kebebasan memilih dan memilah, (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Musbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid. 7. Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007, h. 511). Sedangkan, Wahbah az-Zhuhaili, berpendapat bahwa keutamaan manusia dapat dilihat dari tiga sisi. Pertama. Allah memuliakan manusia dengan memberinya kenikmatan tambahan selain nikmat hidup, seperti ditundukkannya berbagai macam kendaraan yang ada di daratan dan di lautan demi mempermudah urusannya; Kedua. Menyelamatkan manusia dari musibah yang ada di laut, agar ketika kembali ke...

read more