Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

Silatnas MIUMI Garut: Meningkatkan Peran Ideal Ulama

Silatnas MIUMI Garut: Meningkatkan Peran Ideal Ulama

Garut – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) kembali melaksanakan hajatan nasional. Acara bertajuk Silaturahim Nasional (Silatnas) dan Pelantikan MIUMI Wilayah Jawa Barat dan 18 pengurus daerah-daerah di Jawa Barat ini digelar di Hotel Sumber Alam, Cipanas, Garut, Jawa Barat, pada Selasa dan Rabu, 13-14 Januari 2015.

Silatnas dibuka pada Selasa 13/01/2015 jam 20.00. KH. Aceng Zakaria, sesepuh kota Garut memberi sambutan pertama. Dalam sambutan singkatnya, ia menerangkan tentang karakter ulama.

Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango, serta Pengurus dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut ini mengapresiasi keberadaan MIUMI.

Menurutnya, ia merasa senang dan berbesar hati, karena masih banyak orang yang akan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Pria yang lahir di Sukarasa, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, 66 tahun silam itu lalu menjelaskan hakikat dan prinsip ulama. “Penulisan kata ‘al Ulama’ dalam al Qur’an, di atas wawu ada hamzah, berbeda dengan tulisan yang baku. Hal ini karena tidak semua yang dianggap ulama itu adalah ulama,” jelasnya berfilosofi.

Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut ini lantas mengutip penjelasan Ibnu Abbas tentang hakikat ulama. Menurut Ibnu Abbas, ulama adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, istiqamah menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, serta yakin bahwa dia akan berjumpa dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Selanjutnya, Kiai Aceng yang juga tokoh Persis Jawa Barat ini mengutip pendapat Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, tentang tiga klasifikasi ulama.

Pertama, ulama yang menghancurkan dirinya sendiri dan menghancurkan orang lain (muhlikun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini telah mencintai dunia atas nama agama.

Kedua, ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain (mus’idun nafsahu wa ghairahu). Ulama dengan kriteria ini mengajak manusia kepada Allah secara lahir batin.

Ketiga, ulama yang menghancurkan dirinya dan membuat bahagia orang lain (muhlikun nafsahu mus’idun ghairahu). Ulama dengan kriteria ini, mengajak kepada Allah dan secara lahiriah menolak dunia, namun dalam diri sebenarnya dia cinta dunia dan bertujuan mencari popularitas.

Imam Ghazali menutup penjelasan tersebut dengan pertanyaan menohok, “Min ayyi aqsaamin anta (dari golongan ulama manakah dirimu)?”

Lebih lanjut KH. Aceng Zakariyya mengibaratkan, ulama pertama itu seperti rokok. Dia sendiri meleleh dan setelah menjadi puntung diinjak-injak manusia.

Ulama jenis kedua, dia ibarat matahari yang menyinari dunia. Ia terus bersinar, meski di permukaan bumi terkadang orang yang disinari tidak melaksanakan shalat. “Al-syamsu syamsun wa lau lam taraha al-a’ma (matahari itu matahari meski tidak terlihat oleh orang buta),” jelas dia bertamsil.

Sementara kriteria ulama ketiga, dia seperti lilin. Ia menyinari yang lain, namun dirinya sendiri meleleh.

“Ulama tidak punya atasan kecuali Allah. Terkadang ulama masih memiliki atasan selain Allah. Situasi sekarang membutuhkan seorang ulama yang membuat bahagia dirinya dan orang lain,” pungkasnya.

Sementara Ketua Umum MIUMI Pusat, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menerangkan bahwa Silatnas ini tidak hanya berbentuk silaturahim, namun juga hubungan ilmiah (shilah ‘ilmiyyah).

Dalam ungkapan bertanya, ia menyatakan, “Untuk apa kita bertemu? Karena ada tiga persoalan besar, atau three common enemis, yaitu liberalisme, aliran sesat, dan misionarisme.”

Kunci menghadapi semua ini, menurutnya, adalah kekuatan umat. “Amerika sudah melakukan ini, namun dengan bahasa mereka, yaitu hegemoni. Sementara bahasa kita adalah al fath atau pembebasan,” jelas dia.

Hamid memberi contoh, di India dan negeri lain misalnya, yang terjadi bukanlah hegemoni Islam, namun pembebasan manusia dari animisme dan dinamisme. “Oleh karena itu, Islam, sesuai namanya, adalah agama yang membebaskan,” simpul dia.

Cita-cita MIUMI ingin membebaskan umat Islam yang terhegemoni itu. Hamid memerinci, saat ini telah ada orang yang masuk dalam hal perumusan undang-undang. Di Mahkamah Konstitusi (MK) sudah ada pihak yang ingin mengajukan undang-undang dengan misi tertentu. Orang-orang Syiah juga sudah masuk jantung kekuasaan.

Hamid menjelaskan, di antara tugas MIUMI adalah memberi penjelasan terhadap fatwa MUI. “Tugas anak-anak muda itu melayani yang tua. Fatwa MUI terkadang masih membutuhkan penjelasan agar dipahami umat,” jelas dia.

Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini juga mengkritisi sepak terjang dan pemikiran kaum liberal. Menurutnya, mereka saat ini sering mengeluarkan pernyaaan, lebih baik humanis, daripada religius, tapi teroris. Menurut Hamid, ini adalah wacana yang membingungkan. “Kita katakan, orang religius itu pasti humanis dan moralis,” tegas doktor jebolan ISTAC Malaysia ini.

“Tugas MIUMI adalah mendukung dan mensosialisasikan fatwa MUI,” demikian ujar Hamid.

Selain itu, kehadiran MIUMI adalah memperkuat persatuan umat Islam, baik yang ada di partai politik, organisasi massa (ormas), dan segala potensi umat dalam bidang apapun.

“Kita mendorong menjadi Indonesia lebih beradab,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Pascasarjana UNIDA Gontor tersebut sempat menyinggung jika awal pendirian MIUMI memiliki 3 persoalan (common enemy) yakni liberalisasi, aliran sesat dan maraknya pemurtadan.

Menurutnya, saat ini misionarisme bekerjasama dengan liberalisme telah masuk pada sistem sosial kemasyarakatan.

“Saat ini liberal sedang berusaha melakukan penghapusan UU Penistaan Agama, artinya di masa datang akan ada penghapusan agama,” ujar putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini.

Menurutnya, semua gerakan ini tidaklah bisa dilihat sederhana, tetapi semua sudah dirancang. Liberalisme, aliran sesat dan misionarisme telah bergerak melalui undang-undang dan konstitusi. Semua ini, menurut Hamid adalah gazwul fikri (Perang Pemikiran).

“Jika tak ditangani orang-orang seperti ulama, sudah tak ada lagi yang akan memikirkan,” tambahnya. Karena itu kunci semua ini adalah kekuatan umat dan para ulamanya.

Di hari kedua, dalam forum mudzakarah Hamid mengatakan  persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini sesungguhnya kembali lemahnya peran maksimal ulama dan image buruk terhadapnya.

“Tidak semua yang disebut ‘ulama’ itu merupakan ulama. Ada ulama suu’ (jahat), dan ulama ‘jadi-jadian,’” ujar Hamid pada Pada Silaturahim Nasional (Silatnas) ke-3 MIUMI, di Sumber Alam Resort Cipanas, Garut Jawa Barat.

Image tidak baik terhadap ulama misalnya, tegas Hamid, karena memang kesalahan ilmu seperti masih kuatnya dikotomi ilmu.

“Ada ulama kuasai fikih tetapi tidak tahu ilmu sosial, ada ahli sains namun tidak tahu syariah. Tugas ulama kita sekarang menghilangkan dikotmi itu. Gap yang terjadi ini tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia Islam,” tambah Direktur Pascasarjana UNIDA Gontor tersebut.

Menurutnya, secara ideal seorang ulama adalah seperti ulama dahulu menguasai syariah sekaligus menguasai ilmu-ilmu ‘umum’ atau sains.

Tapi, kata Hamid, kita saat ini kesulitan untuk mencapai hal tersebut. Setidaknya, tegas Hamid, adalah agar tidak ada ulama ‘jadi-jadian’ itu maka ulama dan para ahli ilmu-ilmu umum harus silaturahim.

“Mereka para ahli harus duduk bersama,” nasihatnya.

Dalam Silatnas yang dihadiri pengurus MIUMI dari berbagai daerah itu, ketua Umum MIUMI itu menjelaskan bahwa ada pandangan bahwa para ahli umum itu orang pintar sedangkan orang ahli syariah itu tidak pintar.

“Krisis semua itu karena hegemoni pendidikan sekuler yang diiekspor ke dunia Islam,” tambahnya.

Karena itu, maka perlu dibuat contoh yang benar konsep pendidikan Islam di PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam).

Karena itu ia berharap kehadiran Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) sebagai bagian dari kekuatan untuk memikirkan dan menyelesaikan persoalan umat Islam di Indonesia.

Dr. Adian Husaini yang hadir juga menasihati agar hati-hati terhadap penyakit ulama. Ia menyampaikan, terkait kita yang tidak pantas disebut ulama harus tahu diri.

“Kita harus bisa mengukur, kita dimana tingkat keilmuannya. Seperti imam al-Ghazali dia ikut imam Syafi’i. Ini adab yaitu tahu menempatkan diri,” terangnya.

Makanya, tambah ketua prodi Pendidikan Islam Pascasarjana UIKA Bogor mengingatkan tentang kerusakan ulama itu karena tiga faktor.

“Penyakit ulama ada tiga yaitu; hasad, riya dan ujub. Tiga sifat tersebut yang menghancurkan ulama,” tegas inisiator MIUMI tersebut.

Kata Adian, yang penting kita saat ini adalah pemberdayaan ulama. Mengutip Prof Syed al-Attas, ia mengatakan bahwa problem umat adalah lost of adab. Siapa yang harus dihormati dan yang tidak pantas dihormati.

“Kita usulkan, kader-kader kita melakukan mulazamah kepada ulama tertentu. Seperti misalnya yang mau pemikiran Islam mulazamah dengan Ustadz Hamid. Atau kita kirim kader-kader untuk mulazamah”, ujarnya.

Menurutnya MIUMI harus bangun otoritas. Otoritas itu otoritas ilmu, akhlak dan sosial. Siapa yang akan kita plot jadi ahli ilmu tertentu harus didata.

Otoritas kelembagaan MIUMI harus dibangun dengan menyuarakan MIUMI dalam menyelesaikan masalah-masalah yang beredar di masyarakat.

“Kita harus aktif menangani masalah-masalah umat”, tegasnya.

Bachtiar Nasir, Sekjen MIUMI Pusat, mengusulkan kepada MIUMI daerah agar mereka menjadi pelayan atau khidmah kepada umat.

“Ulama itu harus melayani umat bukan dilayani,” tegasnya.

Bagi Bachtiar, karakter tersebut disebabkan sikap feodalisme dan egoisme.“Maka, untuk menjadi pemenang kita harus kuat,” ujarnya.

Untuk itu, terang Bachtiar, umat Islam harus memiliki pendidikan yang bagus. Selain itu, saat ini Ulama kata dia harus membantu umat dalam memberdayakan ekonominya. Kata dia, agama kuat ekonomi juga harus kuat. (Laporan: Cholis Akbar, Faris Khoirul Anam dan Ahmad Kholili Hasib/inpasonline)

Print Friendly
468 ad