Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

MIUMI Harus Bantu Pemerintah Atasi Masalah Sosial

MIUMI Harus Bantu Pemerintah Atasi Masalah Sosial

Tarakan – Kehadiran Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di sejumlah daerah, khususnya di Kalimantan Utara (Kaltara), diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam mengatasi berbagai masalah sosial.

Demikian pernyataan Gubernur Kaltara Dr. Irianto Lambri dalam sambutannya saat menghadiri pelantikan pengurus MIUMI Wilayah Kaltara (07/02). Hadir pula pada acara yang digelar di Masjid Al Ma’arif itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara KH. Zaenuddin Dalilla, serta Ketua Harian MIUMI Pusat Adnin Armas  MA dan Sekjen MIUMI Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM.

Menurut Irianto, Indonesia dewasa ini sedang mengalami krisis ulama yang dapat dijadikan tempat untuk berkonsultasi bagi pemimpin daerah dalam melahirkan kebijakan publik. “Karenanya kehadiran MIUMI saya sambut baik, agar mampu melakukan percepatan dalam melahirkan ulama muda yang mumpuni dalam ilmu agamanya, sekaligus berwawasan sosial yang tinggi,” ungkapnya.

Senada dengan Gubenur Kaltara, Ketua MUI Kaltara mengibaratkan kehadiran MIUMI di Tarakan seperti lampu penerang baru. Dimana lampu yang baru ini akan menambah terang masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial dan beragamanya di provinsi yang baru ini.

“Bagi saya MIUMI ibarat lampu baru yang akan menambah terang lampu penerang yang sudah ada, yaitu MUI,” ujar KH. Zaenuddin Dalilla.

Ia berharap agar Pengurus MIUMI menjadi partner bagi MUI dalam memberi masukan bagi pembangunan masyarakat di Kaltara agar tak jauh dari ajaran agama. Karena belakangan ini, menurutnya, sudah mulai muncul prilaku-prilaku negatif masyarakat Kaltara dengan merebaknya pemakai narkoba di kalangan anak muda.

Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Harian Miumi Adnin Armas MA menilai umat Islam di Indonesia secara global memang sedang mengalami masalah yang sangat besar. “Yang jika masyarakat Islam bersatu pun masalahnya belum tentu bisa terselesaikan. Apalagi jika kita tidak bersatu,” tandasnya.

Ia melihat di era globalisasi ini telah terjadi jurang pemisah yang cukup dalam antara ajaran agama dengan kehidupan sosial masyarakat. Sehingga, katanya, masih ada ustadz dan da’i yang menggangap bahwa antara agama dan kehidupan itu seakan terpisah, yakni antara akhlak dan ilmu sains yang dipelajari masyarakat.

“Agama seharusnya hadir dalam berbagai masalah kehidupan sosial yang harus cepat ditanggapi oleh para ustadz atau ulama yang langsung berhadapan degan masyarakat,” ujarnya.

Ust. Adnin memberi contoh pada upaya MIUMI dan masyarakat Islam di Jakarta, yang pernah berhasil menggagalkan konser Lady Gaga, serta Kontes Ratu Kecantikan di Sentul. “Kami juga ikut menyoroti draft Rancangan UU Kesetaraan Gender dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR. Akhirnya RUU yang membolehkan nikah beda agama itu ditunda pembahasannya hingga saat ini,” ungkapnya.

Menurut pakar pemikiran Islam yang juga aktif di INSIST ini, kemajuan negeri tanpa ada unsur Islam, maka pembangunan negeri itu akan rusak. “Jika Islam secara teologis dan ideologis tidak hadir dalam masyarakat, maka masyarakat itu akan rusak,” tegasnya.

Fenomena seperti ini, lanjut Ust. Adnin, bisa terjadi di kalangan umat Islam saat ini karena banyak umat Islam yang tak peduli lagi dengan ajaran Islam. “Islam hanya dijadikan sebagai asesoris yang kurang menarik, bukan dijadikan impian dan dambaan. Karena agama hanya menjadi urusan di waktu sisa mereka,” tuturnya.

Sekjend MIUMI Ust. Bachtiar Nasir menambahkan, jika para ulama dan da’i yang bekerjasana dengan pemerintah daerah tidak kembali kepada Al Qur’an dalam membangun Indonesia yang lebih beradab, maka hal itu cuma mimpi. Karena menurutnya, Al Qur’an adalah kitab peradaban sebagaimana Rasulullah membangun peradaban Islam di jazirah Arab hingga menguasai 2/3 dunia.

“Anak-anak di Kaltara harus dididik sejak dini dengan Al Qur’an agar menjadi ulama. Apakah ibu-ibu siap?” tanya Ust. Bachtiar yang disambut baik oleh jamaah. “Siap!” jawab mereka. [Abu Lanang/aqlislamiccenter]

Print Friendly
468 ad