Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

Krisis Muru’ah

Krisis Muru’ah

Pengertian “muru’ah” dari segi bahasa adalah kehormatan dan harga diri. Al-Fayumi mendefinisikan muru’ah sebagai akhlak kejiwaan yang membawa seseorang untuk senantiasa berakhlak baik dan memiliki sikap menawan, sedangkan Al-Kafawi mendefinisikan muru’ah sebagai tabiat kemanusiaan, bahkan keperwiraan yang sempurna.

Dari segi istilah, muru’ah bermakna salah satu akhlak islami yang dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki jiwa yang bersih dan tidak terkungkung dan diperbudak oleh nafsu syahwatnya; manifestasi karakter seorang muslim yang memiliki cita-cita (himmah) tinggi dan selalu tidak suka pada sesuatu yang rendah dan hina.

Muawiyah bin Abi Sufyan pernah bertanya pada Amr bin Al-Ash tentang muru’ah. Amr menjawab, Muru’ah adalah bertakwa kepada Allah dan menjaling silaturrahim. Muawiyah lalu bertanya pada Mughirah tentang muru’ah, ia menjawab, adalah menjaga diri dari sesuatu yang dilarang oleh Allah dan melakukan sesuatu yang dihalalkan oleh-Nya. Mughirah juga pernah bertanya hal yang sama pada Yazid, dan ia menjawab, Muru’ah adalah sabar atas musibah, bersyukur atas nikmat, dan memaafkan kesalahan orang lain.

Banyak dalil terkait dengan perintah untuk memiliki sifat muru’ah, antara lain firman Allah, Jadilah engkau seorang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang bodoh, (QS. Al-A’raf: 199).

Abdullah bin Zubair menjelaskan, Tidaklah ayat ini diturunkan kecuali untuk menerangkan akhlak. Diriwayatkan oleh Sufyan bin Uyainah dari Asy-Sya’bi, ia berkata, Sesungguhnya malaikat Jibril turun membawa ayat ini kepda Nabi Muhammad, kemudian beliau bertanya, Ayat apa ini wahai Jibril? Sang malaikat menjawab, Saya tidak tau. Saya akan tanyakan kepada Zat Yang Maha Mengetahui. Dalam riwayat lain disebutkan, Saya akan bertanya kepada Tuhanku. Jibril lalu pergi dan beberapa saat datang kembali, ia berkata, Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang berbuat zalim kepadmu, memberikan sesuatu kepada seseorang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan menjaling hubungan dengan seseorang yang memutuskan hubungan denganmu.

Sebuah syair menerangkan bagaimana muru’ah itu, katanya: Termasuk orang yang memiliki kesempurnaan adalah, seorang pemuda yang padanya terhimpun tiga akhlak mulia, menjalin hubungan dengan orang yang memutuskannya, memaafkan orang yang berbuat aniaya padanya, dan memberikan sesuatu kepada orang yang menahan pemberiannya.

Mengenai sifat muru’ah Rasulullah, Ibnu Ishak sebagai ahli sejarah Nabi paling muktabar meriwayatkan sebagaimana berikut, Pada saat Rasulullah masih remaja, Allah telah memelihara dan melindungi beliau dari sifaf-sifat kotor kaum jahiliyah. Itu karena Allah menghendaki beliau menjadi orang terhormat, dan kelak akan diangkat sebagai Rasul-Nya. Beliau memang hidup di tengah-tengah agama kaumnya, tetapi Allah kemudian mengangkatnya sebagai sosok yang memiliki sifat muru’ah paling tinggi di antara mereka, memiliki akhlak paling sempurna, paling baik pergaulannya, paling baik sikapnya terhadap tetangganya, paling jujur perkataannya, paling besar sifat amanahnya dan paling jauh dari sifat keji dan hina.

Pendek kata, Rasulullah sangat terhindar dari akhlak yang dapat menodai kesempurnaan peribadinya. Ia adalah pribadi sempurna yang sudah ada sejak kecil dan dipelihara oleh Allah sehingga tidak terkontaminasi akhlak jahiliyah. Kepribadian suci ini telah terawat sejak kecil pada diri sang Rasul. Karenanya, ketika beliau diutus Allah untuk menyampaikan risalah penutup kenabian, yang diprioritaskan pertama kali adalah menanamkan akhlak suci tersebut di tengah-tengah masyarakat.

Hadis bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, Kemuliaan orang mukmin ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya, sedangkan keutamaannya ada pada akhlaknya. Ada pun riwayat dari Abu Mas’ud, Di antara sabda Nabi yang dikenal luas oleh manusia adalah, jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. Idza lam tastahyi fashna’ ma tasya’!

Bangsa ini, terutama para pemimpin dan aparatur negaranya selalu mengalami kirisis muru’ah. Berbagai kasus silih berganti, datang menerpa, tak terkecuali kasus korupsi dan asusila. Bahkan dari pusat pemerintahan, para menteri satu persatu tersandung kasus korupsi dan lengser sebelum masa jabatannya selesai sebagaimana dialami Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014). Di daerah, tidak sedikit kepala daerah baik gubernur, walikota dan bupati juga mengalami hal yang sama. Bahkan di Provinsi Banten, ada kepala daerah beserta istrinya terbukti melakukan korupsi berjama’ah.

Muru’ah benar-benar telah lenyap, padahal mereka, hampir semuanya mengaku beragama Islam. Begitu pula dengan anggota legislatif yang priode 2014-2019 ini, kita saksikan di layar kaca bagaimana rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membahas alat kelengkapan dewan, Selasa, 28 Oktober 2014 yang berakhir ricuh.

Keributan terjadi setelah pimpinan mengetuk palu untuk mengesahkan susunan anggota komisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sangat susah rasanya mengakui bahwa mereka adalah para wakil rakyat terhormat. Nyata sekali kalu mereka sesungguhnya sudah kehilangan muru’ah dan sulit untuk dihormati.

***

Trobosan presiden dan wakil presiden terpilih 2014-2019, Ir. Joko Widodo dan Dr. M. Jusuf Kalla dalam menyeleksi para menterinya dengan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) patut diapresiasi. Di antara empat puluh lebih nama yang diajukan Tim Transisi, delapan diantaranya dicoret KPK.

Setelah tertunda beberapa hari, akhirnya, pengumuman kabinet pun dilaksanakan Jokowi-JK (26/10/2014) dengan nama “Kabinet Kerja” yang berjumlah 34 personil, 8 di antaranya perempuan. Dalam sejarah kemunculan bangsa Indonesia, ini adalah kabinet yang berisi perempuan sebanyak itu. Bahkan di era kepemimpinan presiden wanita sekalipun. Karena kabinet ini adalah “Kabinet Kerja” maka bangsa ini berharap, termasuk saya, untuk membawa Indonesia lebih bermartabat, berwibawah, dan tentu saja memiliki muru’ah di mata bangsa-bangsa lain.

Untuk menjadikan bangsa bermuru’ah harus didahului dengan contoh dari para pemimpinnya, termasuk para menteri yang telah dilantik pada 27 Oktober 2014. Sikap muru’ah dimulai dari diri sendiri, menghindari hal-hal yang menurunkan martabat seperti makan-minum dengan tangan kiri, merokok sambil wawacara, atau memamerkan tato.

Kabinet ini harus bekerja yang dilandasi amanah, tanggungjawab, dan kesadaran bahwa apa pun yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jabatan setingkat menteri adalah posisi yang akan menjadi penghalang untuk masuk surga jika tidak digunakan untuk kemaslahatan umat, dan sebaliknya akan menjadi pelicin untuk masuk surga jika dipahami sebagai media dakwah, begitulah alam pandang Islam (islamic worldview) memandang sebuah jabatan. Berdasarkan hadis Nabi, Kalian akan rakus berebutan jabatan, padahal jabatan akan jadi penyesalan di hari kiamat, (Muttafaq Alaih).

Kini saatnya presiden, wakilnya, dan para menteri, serta gubernur dan bawahannya menunjukkan bahwa mereka adalah pilihan terbaik. Ekspektasi bangsa ini begitu besar, untuk melihat para pengelolahnya sebagai panutan yang penuh muru’ah, sayang jika dikecewakan. Wallahu A’lam!

Dimuat Tribun Timur, 31 Okt. 2014

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama, BAZNAS-DDII/Pengurus KPPSI Pusat

 

Print Friendly
468 ad