Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

Ketua MIUMI: Membangun Peradaban Indonesia itu dengan Budaya Ilmu

Ketua MIUMI: Membangun Peradaban Indonesia itu dengan Budaya Ilmu

Pidato Ketua UMUM MIUMI Pusat, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi pada Silatnas Bangil 2014

Persoalan yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini, khususnya umat Islam Indonesia sangat kompleks. Namun jika disederhanakan dapat dibagi menjadi dua yaitu persoalan eksternal yaitu persoalan yang ditimbulkan oleh faktor di luar umat Islam; dan persoalan internal yaitu persoalan yang disebabkan oleh umat Islam sendiri. Secara eksternal menghadapi persoalan yang muncul dari peradaban lain yang berupa arus globalisasi, westernisasi, liberalisasi, sekularisasi yang disertai oleh faham pluralism, humanism, hedonism, materialisme dan dampak-dampak yang diakibatkan oleh faham-faham tersebut. Secara internal umat Islam menghadapi masalah persatuan dan kesatuan, masalah kualitas sumber daya dan kaderisasi, manajemen lembaga-lembaga, kelemahan ekonomi, hubungan internasional dan sebagainya. Akar dari kedua tantangan tersebut tidak lain adalah kelemahan ilmu pengetahuan umat Islam.

Jika disepakati bahwa akar dari kedua tantangan diatas adalah ilmu pengetahuan maka yang perlu dikembangkan adalah ilmu pengetahuan Islam. Maka dari itu umat Islam perlu menyadari bahwa dalam era globalisasi dan gencarnya isu benturan peradaban (clash of civilization) Islam harus dihadirkan sebagai agama dan peradaban (din dan tamaddun). Selain itu perlu pula memahami kembali bahwa Islam adalah agama yang berwatak individual (private) dan sekaligus publik, maka  berislam bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, tapi juga berurusan dengan masyarakat. Ber-Islam adalah beribadah pada Tuhan dan pada saat bersamaan juga berpolitik, berekenomi, berbudaya, berkehidupan sosial dan sebagainya. Ringkasnya Islam adalah agama yang menekankan ibadah pada Allah dan pada saat yang sama menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Pemahaman seperti ini penting digalakkan dengan tujuan: pertama agar umat Islam sadar bahwa aktifitas bidang apapun merupakan bagian dari agama dan peradaban Islam; kedua agar umat Islam dapat lebih responsif dan bersifat arif dalam menghadapi berbagai tantangan; ketiga agar dapat menepis asumsi dunia internasional yang memandang Islam hanya sebagai agama yang didominiasi oleh doktrin dan kekerasan. Inilah langkah awal dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang telah disebutkan diatas.

Namun, umat Islam tidak cukup hanya berhenti dengan pemahaman yang seperti itu.  Ummat Islam, dengan pemahaman itu perlu saling bekerjasama secara sinergis disegala bidang dan dengan berbagai media serta sarana. Berdasarkan atas hajat umat yang sedemikian itu maka para intelektual dan ulama muda dari berbagai organisasi, kelompok, gerakan dan lembaga-lembaga Islam di Indonesia sepakat mendirikan sebuah Majelis yang dinamakan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Majelis berangkat dari sebuah pendirian bahwa Islam adalah agama yang menghargai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam lebih banyak diwarnai oleh tradisi keilmuan ketimbang percaturan politik dan perebutan kekuasaan. Berbagai persoalan umat baik sosial maupun keilmuan lebih banyak diselesaikan dengan pemikiran dalam bentuk tulisan. Itulah sebabnya karya para intelektual dan ulama di zaman kejayaan Islam berjumlah jutaan judul.

Selain itu Majelis juga berpandangan bahwa Peradaban Ilmu dalam Islam itu berdiri dan ditopang oleh kekuatan ekonomi dan stabilitas Politik sehingga kegiatan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan berjalan lancar.  Saat ini umat Islam telah memiliki lembaga pendidikan dan organisasi Islam yang kegiatan utamanya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu diantara kelompok umat Islam yang lain ada  yang bertekun dalam perjuangan mereka melalui partai politik. Ada pula yang bergerak dalam bidang ekonomi. Namun masalahnya masing-masing bidang tersebut berjalan sendiri-sendiri seakan-akan tidak berkaitan antara satu bidang dengan bidang yang lainnya. Yang bergerak dalam bidang ekonomi tidak berhubungan dengan mereka yang berjuang melalui politik atau pendidikan. Yang berjuang dalam bidang politik dan ekonomi, misalnya tidak didukung oleh atau tidak berkaitan dengan aktifitas keilmuan dan keagamaan. Demikian seterusnya yang pada intinya dalam tubuh umat Islam tidak terdapat sinergi yang menguntungkan.

Akibatnya banyak persoalan yang menggelayuti umat Islam dalam bidang-bidang tersebut tidak diselesaikan dengan ilmu, dengan kata lain tidak diselesaikan dengan kecerdasan para intelektual atau kealiman para ulama. Padahal kelemahan umat dalam bidang ekonomi, politik, sosial  dan budaya lebih disebabkan oleh faktor ilmu.

Secara praktis Majelis ini diharapkan dapat berperan sebagai pemberi peringatan (munzir al-qaum). Dalam konteks kekinian peran itu dapat diperluas. Intelektual dan ulama dapat memberi informasi, masukan, dan bahkan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh para politisi, pejabat, ekonom, pengusaha, tokoh masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka dari itu Majelis ini perduli dengan masalah-masalah yang bersifat akademis dan juga populis.

Majelis ini juga dapat berperan selain mensinergikan potensi umat. Hal ini dengan bekerjasama secara sinergis dengan para aktifis politik atau penguasa, praktisi ekonomi atau pengusaha, tokoh masyarakat dalam bidang sosial keagamaan dan lain sebagainya dalam berbagai macam bentuk dan bermacam-macam media. Artinya jika intelektual dan ulama yang pakar dalam bidangnya masing-masing di negeri ini dapat dihimpun dalam sebuah wadah  dan kemudian dapat menjalin kerjasama dengan mereka yang berkecimpung dalam bidang-bidang lain, insya Allah akan banyak persoalan yang dapat diselesaikan dan akan menopang kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Untuk itu masalah yang muncul yang disebabkan oleh perbedaan dalam masalah-masalah furu’iyyah atau ijtihadiyah sayogyanya diselesaikan dengan ilmu pengetahuan dan kelapangan dada sebagaimana para imam mazhab bersikap terhadapa mazhab yang lain. Jika terdapat persoalan yang menyangkut penyimpangan dalam bidang aqidah solusinya tetaplah berdasarkan ilmu pengetahuan dan sikap ulama haruslah tegas.

Untuk masalah yang muncul dalam bidang ilmu pengetahuan modern yang berkaitan dengan Islam dan umat Islam, maka Majelis dengan kekuatan para intelektualnya harus dapat merespon dengen sikap yang kreatif dan innovative. Artinya Majelis dengan kerjasama antara para intelektual dan  ulama muda perlu melakukan proses verifikasi, integrasi dan Islamisasi sains kontemporer agar dapat memperkuat peradaban Islam.

Kerjasama secara sinergis ini adalah warisan peradaban Islam dizaman kejayaan yang lalu sebagaimana yang terabadikan dalam pintu gerbang universitas Cordova: “kebaikan dunia ini hanya ditangan empat kelompok: pengetahuan orang bijak, keadilan penguasa, doa orang–orang saleh, dan terakhir keberanian ksatria.”  Dalam bahasa modern barangkali keempat  unsur itu adalah intelektual, ulama,  penguasa, dan militer.

Ringkasnya, MIUMI berpendirian bahwa persoalan yang muncul saat ini perlu dihadapi dengan ilmu pengetahuan; dan perubahan yang diinginkan harus didasarkan pada ilmu pengetahuan pula.  Oleh sebab itu motto yang diusung Majelis ini adalah “Untuk Indonesia Yang Lebih Beradab”.  Artinya bahwa MIUMI ingin meningkatkan kualitas umat Islam dan sekaligus memberi kontribusi pada bangsa Indonesia agar menjadi semakin beradab yaitu semakin beriman, berilmu dan berakhlaq.

Print Friendly
468 ad