Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

Jaringan Ulama Asia Tenggara

Kedudukan ilmu dalam agama Islam sangat istimewa, karena segenap sendi kehidupan umat manusia tidak akan bergerak tanpa ilmu. Bahkan Allah mengutus para nabi untuk mengajarkan ilmu kepada para kaumnya.

Dan jika menarik tali sejarah jauh ke belakang, tepatnya ketika Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, dan terjadi perdebatan sengit antara malaikat dan Allah yang telah menyampaikan pemberitahuan bahwa Dia akan menciptakan makhluk bernama manusia.

Malaikat tidak setuju, karena dikhawatirkan jika makhluk yang kemudian disebut ‘manusia’ itu tercipta, hanya akan mengerjakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Namun Allah selaku pencipta manusia, malaikat, langit dan segenap isinya Maha Tahu, bahwa selain mendatangkan keburukan sebagaimana dikhawatirkan para malaikat, manusia juga adalah jenis makhluk yang akan membawa kemaslahatan, dengan syarat ia harus berilmu.

Singkat kata, manusia pertama diciptakan, namanya Adam, langsung dibekali dengan ilmu, dan menjadi guru kepada para malaikat. Lalu, para murid Nabi Adam itu, diperintahkan oleh Allah untuk bersujud pada gurunya sebagai tanda penghormatan dan pernghargaan akan ketinggian ilmunya. Semua bersujud, kecuali iblis yang enggan bahkan sombong, angkuh bin takabbur (aba wastakbara). Karena menentang perintah Allah dan menantang Nabi Adam, maka iblis pun dikutuk hingga hari kiamat, dan kelak akan dijebloskan ke penjara neraka untuk selamanya. Kisah ini, diulang-ulang dalam Al-Qur’an, misalnya Al-Baqarah: 30-38.

Setelah Nabi Adam wafat, dan keturunnya kian hari kian bertambah dan bertaburan, maka Allah kembali mengutus rasul demi rasul untuk mengajak dan mengajar kepada kaumnya tatacara hidup dan beribadah dengan baik dan benar yang berlandaskan ilmu.

Hingga rasul pamungkas tiba yaitu, Muhammad SAW yang membawa ajaran dan agama Islam yang tertuang dalam wahyu, berupa Al-Qur’an dan hadis.

Jika umat-umat terdahulu, selalu dimanjakan dengan diutusnya para nabi dan rasul, maka, umat Nabi Muhammad tidak demikian. Setelah sang Rasul pamungkas tutup usia, ajarannya harus terus terjaga dengan adanya kitab wahyu dan manusia-manusia yang mengabdi dan mewakafkan diri untuk mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan warisan Rasulullah tersebut: Al-Qur’an dan hadis. Golongan inilah yang disebut “ulama”.

Jika umat terdahulu, nabinya wafat, maka ilmu pun ikut tercabut. Tapi, bagi umat Islam, ketika Nabi wafat ilmu tetap terjaga di kalangan para ulama. Namun perlu dicatat, ulama tidaklah wujud sebagaimana wujudnya para nabi dan rasul yang diutus langsung oleh Allah. Menjadi ulama adalah sebuah proses yang berliku dan penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Karena itu, Allah sangat mengapresiasi golongan manusia yang berangkat berjuang demi meraih ilmu agar dapat menjadi ulama.

Dari Abu Darda’ sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi, Nabi bersabda, Barangsiapa melalui suatu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan membukakan jalan menuju surga. Dan sungguh, para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhahannya atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu. Bahkan ikan-ikan di air melakukan hal yang sama, dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham [uang] mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.

Peran Ulama

Di era globalisasi dan penuh dengan tantangan, peran strategis ulama sangat dibutuhkan. Betapa tidak, informasi yang telah menggelobal menjadikan manusia modern hidup tanpa sekat. Apa yang terjadi di belahan Barat nun jauh di sana, dengan mudah dapat disaksikan dimana pun. Bahkan ragam ideologi lintas organisasi, agama, dan bangsa dengan mudah terpasarkan.

Masalah kemudian muncul, bahwa apa yang terjadi di Barat dalam artian bukan sekadar arah mata angin tetapi meliputi segala sendi, termasuk ideologi, budaya, ekonomi, dan tatanan hidupnya, banyak yang tidak sesuai bahkan berbenturan dengan apa yang ada di belahan Timur yang kental dengan nuansa religi, dalam hal ini Islam sebagai agama dominan. Globalisasi akan mendudukkan Barat dan Timur vis a vis, yang dalam Istilah Huntington “The Clash of Civilization” atau benturan peradaban.

Ulama harus mengambil peran, khusunya dalam ranah pengajaran dan penyadaran ‘tarbiyah wa tauiyyah’ kepada umat agar ke dalam menyadari pentingnya memperkuat landasan agama terutama akidah sedangkan ke luar melawan segala bentuk gelombang globalisasi yang berbenturan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Peta Perjuangan

Agar peran ulama dapat maksimal dan tertata rapi, maka hal penting yang harus dilakukan adalah. Analisa masalah keumatan, lalu pemetaan, dan penyusunan target agar dapat mencapai tujuan dan sasaran secara tepat.

Selama ini, para ulama masih jalan sendiri-sendiri dan hasilnya pun dinikmati sendiri-sendiri. Masih sama-sama bekerja, belum ada kerjasama yang solid. Dapat disaksikan sekarang, umat ibarat anak ayam kehilangan induk yang para induk sibuk mengurus diri sendiri.

Adanya kesadaran bersama di waktu yang sama, dan geografi tertentu, akan melahirkan kesolidan antarsesama sehingga program-program pemberdayaan umat akan terlaksana secara rapi dan terorganisir. Kebatilan saja, jika dikoordinir dengan baik akan mengalahkan kebenaran yang kocar-kacir, al-haqqu bila nizham yaghlibuhul al-bathil bin-nizham.

Saat ini, pimpinan umum Wahdah Islamiyah (WI) yang berpusat di Makassar, bersama sejumlah tokoh Islam dalam negeri dan manca negara menginisiasi pembentukan Ikatan Ulam dan Da’i Se-Asia Tenggara (ASEAN). Pembentukan Ikatan ini dimaksudkan sebagai wadah konsolidasi dan koordinasi antar Ulama dan Da’i Se- ASEAN, yang akan diawali dengan Deklarasi dan Muktamar I, pada Sabtu (28-29/11/2014) di Depok Jawa Barat. Deklarasi sekaligus muktamar Ikatan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara ini untuk menegaskan eksistensi keteladanan ulama Islam serta sebagai wadah konsolidasi para ulama dan da’i. Dipertegas dengan seminar internasional dengan tema, Membangun Peradaban Asia Tenggara dengan Prinsip Moderat Islam (al-Wasatiyyah).

Kita sangat berharap, agar para ulama memiliki andil dalam membangun umat dan bangsa. Menjadi pionner dalam mereduksi kebatilan dan menegakkan kebenaran, termasuk menjadi rujukan para pemimpin dalam membuat keputusan. Ulama jenis inilah yang disebut suluh penerang dalam kegelapan.

Mari kita renungkan perkataan Imam Al-Gazali, Fasadul umara bifasadil ulama. Rusaknya para pemimpin dimulai dengan kerusakan para ulama. Jika para ulama berlomba-lomba ke kota untuk menjilat kekuasaan demi menumpuk-numpuk harta, di saat yang sama para penyesat umat dari pendeta dan golongan sesat berbondong-bondong ke kampung untuk menyesatkan umat, maka kehancuran hanya menunggu waktu. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Ketua Lembaga Penelitian MIUMI Sulsel.

Print Friendly
468 ad