Pages Navigation Menu

Untuk Indonesia yang Lebih Beradab

Filsafat Pendidikan Ibnu Khaldun

Filsafat Pendidikan Ibnu Khaldun

 

Adalah ilmuan ulung yang turut memberikan andil dalam menganalisa kemajuan dan keruntuhan sebuah negera dan peradaban yang dikenal sebagai peletak dasar ilmu sosiologi sangat layak untuk ditelaah karyanya. Namanya diabadikan dalam sebuah universitas Islam di Bogor yang menjadi role model islamisasi ilmu dan pendidikan Islam. Dialah Abdurrahman Ibnu Khaldun Al-Magribi Al-Hadrami Al-Maliki, yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun, hidup antara 1223 hingga 1406 Masehi.

Karena kesibukannya sebagai pejabat tinggi negara dan keterlibatannya dalam politik, serta pengembaraan ilmiahnya begitu jauh dan rumit, Ibnu Khaldun tidak banyak mengahasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat, “Lubab al-Muhashshal“, tentang tasawuf “Syifa as-Sa’il li-Tahdzib al-Masa’il“, dan sebuah otobiografi “at-Ta’rif“. Namun, ketika berada dalam penjara, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul, “Al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wal Barbar wa man ‘Asharahum min dzawas-Sulthan al-Akbar“, atau disingkat “Al-‘Ibar”. Uniknya, justru bagian pendahuluan dari kitab ini yang berjulul “Al-Muqaddimah” justru yang melejitkan namanya ke seantero jagad,  seakan tak kenal setting ruang dan waktu.

Ibnu Khaldun adalah ilmuan dan sekaligus praktisi, pakar dan praktisi pendidikan, dibuktikan dengan menjadi guru besar Universitas Al-Azhar Mesir; pakar hukum tata neraga yang bekerja sebagai hakim di Kairo; juga seorang politikus ulung, administrator, filsuf, dan peletak dara ilmu sosiologi, karenanya ia ditahbis sebagai ‘Bapak Sosiologi’.

Pemikiran Pendidikan

Fokus telaah  kitab “Al-Muqaddiman” kali ini, terletak pada Bab “Berbagai Jenis Ilmu Pengetahuan, Metode Pengajaran, Cara Memperoleh dan Berbagai Dimensinya, dan Segala Sesuatu yang Berhubungan dengannya“. Bab ini, meliputi 50 pasal pembahasan, dan setiap pasal membahas satu jenis ilmu. Setiap satu pasal berhubungan dengan pasal lainnya.

Ibnu Khaldun rahimahullah, memulai pembahasan tentang ilmu dengan memaparkan keunggulan manusia dengan ciptaan Allah lainnya. Menurutnya, yang membedakan manusia dari binatang karena manusia mencari petunjuk untuk mendapatkan mata pencaharian, bekerja sama dengan sesama jenisnya, memahami Tuhan yang disembahnya, dan ajaran-ajaran yang dibawa para utusan-Nya, sehingga semua binatang tunduk dan berada dalam kekuasaannya. Dengan keunggulan demikianlah Allah mengutamakan manusia dari makhluk lainnya.

Pernyataan Ibnu Khaldun di atas sinkron dengan firman Allah,  Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan diberi mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan, (Al-Qur’an Surah, Al-Isra’: 70). Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut, berpendapat bahwa kutamaan manusia dengan makhluk lainnya dapat dilihat dari dari sisi fisiknya, karena mampu berdiri tegak di atas kakinya, makan dengan kedua tangannya, juga memiliki indera penglihatan, sehingga dapat melihat, memahami dan membedakan sesuatu, baik maupun buruk yang berhubungan dengan agama maupun dengan dunia. (Ibnu Katsir, Al-Misbahul-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir, diterjemahkan Tim Pustaka Ibnu Katsir, dengan Judul Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Jilid. 5. Cet. V; Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2012, h. 418).

Ada pun Qurasih Shihahb, ia menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memuliakan manusia dengan bentuk tubuh yang bagus, kemampuan berbicara dan berfikir, juga berpengetahuan, serta Allah juga memberikan kebebasan memilih dan memilah, (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Musbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid. 7. Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007, h. 511).

Sedangkan, Wahbah az-Zhuhaili, berpendapat bahwa keutamaan manusia dapat dilihat dari tiga sisi. Pertama. Allah memuliakan manusia dengan memberinya kenikmatan tambahan selain nikmat hidup, seperti ditundukkannya berbagai macam kendaraan yang ada di daratan dan di lautan demi mempermudah urusannya; Kedua. Menyelamatkan manusia dari musibah yang ada di laut, agar ketika kembali ke darat meyembah Allah tanpa menyekutukannya; Ketiga, manusia dimuliakan oleh Allah karena adanya akal dan fikirannya. Ia juga membedakan antara istilah at-takrim dan attafdhil, yang pertaman adalah lebih kepada bentuk jasadiyah, seperti dapat berbicara, bentuk muka yang elok, tubuh yang sempurna, dan sejenisnya. Sedang yang kedua adalah, lebih kepada maknawiyah, seperti manusia diberi akal dan pemahaman, mencari kebenaran, berakhlak dan beradab, dan semisalnya.

Namun apakah manusia lebih utama dari Malaikat? Terdapat dua pendapat, pertama manusia lebih utama dari malaikat, dengan dalil seorang mukmin lebih mulia dari malaikat karena memiliki nafsu dan mampu menundukkan nafsunya, sedangkan malaikat tidak memiliki nafsu. Pendapat kedua, malaikat lebih mulia dari manusia secara mutlak. Az-Zuhaili berpendapat bahwa yang kedua adalah pendapat yang paling benar, sebab, Allah hanya berfirman, “‘ala katsirin mimman khalaqna. Mengutamakan dengan mayoritas ciptaan”, bukan ‘alal-kull, semua ciptaan. Bahkan ia mengutif perkataan az-Zamakhsyari, keberadaan manusia pada dasarnya mendongkrtak posisi malaikat ke derajat yang lebih tinggi, an turfa’a ‘alaihimul mala’ikah zu al-manzilah al-‘aliah ‘indallah. (Wahbah Az-Zuhaili,  At-Tafsir al-Munir, Jilid. VIII. Cet. IX; Damaskus: Darul-Fikr, 2003), h. 136-137.

Ibnu Khaldun berpendapat, bahwa keistimewaan manusia dari anatomi tubuh dan akalnya sehingga dimuliakan. Terutama akal dan hati yang dapat mendorong manusia mencari ilmu dan kebenaran.

Pada Bab Ilmu kitab “Almuqaddimah. Darul-Fikr, t.tp., t.th.” memulai pembahasan dengan keterangan yang komplit terkait kesamaan manusia dengan makhluk lainnya, terutama hewan, kesamaan itu, menurutnya, meliputi, perasaan, bergerak, makan, bertempat tinggal, dan lainnya. Yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah kemampuannya berfikir yang dapat mendatangkan petunjuk baginya, mendapatkan mata pencaharian, serta dapat bergotong-royong antar sesamanya, atau bersyarikat dalam rangka untuk bekerja secara komunal, atau berjamaah dalam mengikuti jalan kebaikan, menjalankan perintah Allah, demi untuk menuju kehidupan akhirat.

Bagi Ibnu Khaldun, manusia adalah makhluk pikir, tidak ada suatu masalah pun tanpa didahului dengan pemikiran. Bahkan, getaran pemikiran lebih cepat dibandingkan kedipan mata. Dan lewat kekuatan berpikir inilah akan tumbuh berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian. Pemikiran juga akan selalu berkeinginan untuk menambah wawasan yang tidak atau belum dikuasai oleh manusia. Karena itu, manusia harus belajar dari pendahulunya yang memiliki pengetahuan yang belum diketahuinya, untuk menambah ilmu dan wawasan, atau belajar dari orang yang pernah mendapatkan pengetahuan dari para nabi dan rasul yang telah menyampaikan ajaran kepada umatnya. Demikianlah kedudukan ilmu bagi manusia. Qad tabayyana bidzalik anna al-‘ilm wa at-ta’lim thabi’iyyun fi al-basyar. Sangat jelas bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang alami bagi manusia.

Ibnu Khaldun juga menguraikan kurikulum pendidikan sebagai bahan untuk diajarkan pada peserta didik,  yang menurutnya secara umum dibagi menjadi dua: pertama, Aqli, berupa ilmu alami bagi manusia yang dapat diperoleh dengan akal dan fikirannya. Kedua, Naqli. Yaitu ilmu yang diperoleh dari para guru. Aqli, bagi Ibnu Khaldun adalah ilmu-ilmu hikmah dan filsafat. Ilmu ini dapat dipelajari manusia dengan menggunakan akal dan pemikirannya secara natural. Manusia dapat mempelajari berbagai tema, teori dan praktiknya,  metodologi pendidikan, yang pada akhirnya mendorong untuk melakukan koreksi dan kesalahan yang ada dengan daya dan kekuatan pemikirannya sebagai manusia.

Kedua adalah Naql, berupa jenis-jenis ilmu yang diajarkan dan ditransformasikan. Ilmu-ilmu ini disandarkan padan informasi dari manusia-manusia pilihan yang dipilih untuk menyampaikan, karena akal tidak memiliki tempat dalam jenis ilmu ini kecuali hanya sekadar menarik kesimpulan dari kaidah-kaidah utama untuk cabang-cabang permasalahannya. Semua ilmu naql bersumber dari syariat, yakni kitabullah dan Sunnah Rasulullah, yang merupakan peraturan bagi kita dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ada pun ilmu-ilmu yang berhubungan dengan wahyu tersebut berguna untuk menunjang supaya mendatangkan manfaat yang lebih besar. Dan untuk memahami ilmu tersebut harus semuanya ditunjang dengan pemahaman bahasa Arab karena bahasa inilah Al-Qur’an diturunkan. Jenis-jenis naqli sangat banyak, sebab seorang mukallaf berkewajiban mengetahui hukum-hukum Allah yang dibebankan kepadanya dan kepada sesamanya. Hukum syar’i tersebut semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan hadis Rasulullah, baik melalui teks yang jelas maupun melalui keterangan dari ijma’ dan qiyas.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk menggali dan memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dengan cara menjelaskan kata-katanya terlebih dahulu disebut dengan ilmu tafsir. Ada pula ilmu qira’at yang mempelajari perbedaan riwayat para qurra’ mengenai bacaan Al-Qur’an. Sedang Assunnah adalah ilmu yang membahas para perawi yang mengutif riawayat-riwayat tersebut, mengetahui biografi dan integritas para perawi, agar hadis-hadis yang mereka riwayatkan dapat dipercaya keabsahannya, sehingga kita dapat mengetahui mana hadis yang harus, sunnah, mubah, makruh, atau haram untuk diamalkan.

Ada pula imu Ushul Fiqh, berupa prinsip-prinsip dasar agar kita dapat berkonklusi bagi hukum terntentu, melalui aspek hukum legal sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada kita tatacara bristimbath, atau menarik kesimpulan. Setelah mengetahui Ushul Fiqh, maka hasilnya berupa kemampuan mengetahu hukum-hukum Allah yang dibebankan kepada mukallaf. Inilah disebut ilmu fikih. Ada pula ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah keimanan, dalam Dzat dan Sifat,  masalah-masalah tentang dikumpulkannya makhluk di padang mahsyar, pahala dan kenikmatan, siksa, qadha, dan qadar Allah. Hujjah-hujjah dari kayakinan dan keimanan, dapat dibuktikan dengan dalil naqli dan aqli, jenis ini dinamai ilmu kalam.

Ibnu Khaldun mengaskan, bahwa Syariat Islam melarang umatnya menjadikan kitab-kitab agama terdahulu sebagai pandangan hidup (worlview) selain Al-Qur’an, berdasarkan sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari, Jangan kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya. Katakanlah bahwa kami beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan pada kalian. Tuhan kami dan Tuhan kalian satu.

Filsafat pendidikan Ibnu Khaldun menekankan perlunya epistemologi ilmu yang kuat, terutama yang berhubungan dengan metodologi menggapai ilmu pengetahuan dengan menguasai dasar-dasarnya, berupa akidah yang benar (Ahlussunnah wal Jemaah), termasuk penguasaan ilmu ushul-fiqhi sebagai epistemologi fikih, demikian pula ilmu musthalahul hadits, ulmut-tafsir dan sejenisnya.

Dari segi ontologi atau materi pendidikan juga sangat menarik, karena ia membagi ilmu menjadi aqli berbasis filsafat dan sains empiris dengan naqli yang berbasis wahyu bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Serta aksiologi, atau kemanfaatanya adalah puncak dari tujuan seseorang belajar, untuk menggapai manfaat sebanyak-banyaknya, baik kemaslahatan peribadi juga untuk agama, masyarakat, dan negara. Filsafat pendidikan Ibnu Khaldun, telah menjadi kapsul untuk mengobati racun sekularisasi dan liberalisasi pendidikan di Indonesia, yang selalu diotak-atik oleh penguasa. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama BAZNAS-DDII; Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Print Friendly
468 ad