Jika Anda ingin menghancurkan sebuah negara, jangan hancurkan pangkalan militernya. Namun, hancurkan ekonominya. Jika Anda ingin menghancurkan ekonomi sebuah negara, jangan hancurkan kantor Bank Sentralnya. Namun, hancurkan sistemnya. Jika Anda ingin menghancurkan sistem perekonomian negara, jangan hancurkan simbol ekonominya, namun hancurkan manusianya. Jika Anda ingin menghancurkan manusia, jangan bunuh dia. Namun, hancurkan cara pandangnya. Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana menghancurkan cara pandang manusia?

Menurut salah satu inisiator Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Dr. Adian Husaini, cara pandang terhadap kehidupan sangat menentukan seperti apa laku kehidupannya sehari-hari. Seorang individu yang memiliki cara pandang Islam, maka laku kehidupannya akan terbungkus dengan nilai-nilai keislaman yang dianutnya. Begitu pula jika dikaitkan dengan jurnalisme. Bagi Adian, seorang wartawan yang baik tidak perlu menjadi atheis atau kafir untuk mendapatkan liputan yang obyektif.

Jika ditarik lebih luas dalam lingkup negara, maka seorang penyelenggara negara yang memiliki cara pandang Islam, akan menciptakan sebuah negara yang diatur oleh syariat Islam. Salah memiliki cara pandang dalam menyelenggarakan negara, maka akan melahirkan sistem ketatanegaraan yang keliru. Bukan kah manusia yang menciptakan sistem tersebut?

Ada satu definisi yang menarik diungkapkan Ketua MIUMI Dr. Hamid Fahmi Zarkasy, MA. M.Phil. Cara pandang merupakan motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah. Dengan demikian, jika kita ingin mengubah kondisi suatu masyarakat, maka ubah dahulu cara pandang mereka.

Cara pandang ini erat kaitannya dengan paradigma yang menyediakan konsep nilai, standar dan metodologi. Jika suatu negara menghadirkan cara pandang Islam, maka dia adalah identitas untuk membedakan dengan peradaban lain. Islam memiliki konsep nilai, standar dan metodologi yang berbeda dengan peradaban lain. Cara pandang Islam melibatkan aktivitas epistemologis manusia, sebab dia merupakan  faktor penting dalam penalaran manusia.

Dalam khazanah Islam, cara pandang memiliki banyak sebutan. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-Tasawwur al-Islamy (Islamic Vision), Mohammad Ashif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-Islamy (Islamic Principle), Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujud (Islamic Worldview). Apapun sebutannya, maka tujuannya tetap sama, yakni cara pandang Islam.

Negara yang terdiri dari individu yang memiliki cara pandang Islam, maka akan menyerahkan seluruh konsep nilai, standar dan metodologi hidupnya atas kebenaran wahyu di dalam Al Qur’an dan Hadits. Setidaknya itu yang didefinisikan Naquib al Attas mengenai cara pandang Islam atas negara. Singkat kata, kekuasaan Tuhan mewarnai segala aktivitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik, ekonomi, budaya, militer, sosial, bahkan dalam sistem media massa. Apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka cara pandang Islam berarti pandangan Islam tentang kehidupan yang wujud.

Di Ambang Kehancuran Amerika Serikat

Apa kaitan tulisan ini dengan kondisi Amerika Serikat yang kini masih “shutdown”. Sejarah menunjukkan sebuah peradaban justru hancur di saat mengalami masa keemasan. Kekuasaan Yunani berakhir ketika di masa keemasan. Athena menyerah kepada Sparta dalam Perang Peloponnesos pada tahun 404 SM.

Kekaisaran Romawi runtuh ketika menguasai hampir seluruh Eropa, Afrika Utara dan sebagian Afrika Barat. Setelah hampir satu abad mengalami masa keemasan, peradaban ini kemudian hancur oleh suku-suku barbar (Germania). Peradaban-peradaban raksasa yang pernah menggenggam dunia itu satu per satu pecah.

Kini, negara adikuasa Amerika Serikat di ambang bangkrut karena tidak lagi memiliki anggaran untuk membayar utang. Negara itu menutup seluruh pelayanan publik, dan tentunya menghentakkan publik internasional. Ada sekitar satu juta pekerja yang dirumahkan dan tidak mendapat gaji. Kondisi ini menunjukkan sistem yang dibangun Amerika sangat rentan.

Amerika Serikat pun sebelumnya didera krisis. Pada tahun 2008, krisis global berawal dari krisis keuangan Amerika Serikat. Krisis tersebut terjadi karena banyaknya default payment dari instrumen credit default swap di pasar keuangan Amerika Serikat.  Subprime mortgage merupakan istilah untuk kredit perumahan (mortgage) yang diberikan kepada debitor dengan sejarah kredit yang buruk atau belum memiliki sejarah kredit sama sekali, sehingga digolongkan sebagai kredit yang berisiko tinggi. Penyaluran subprime mortgage di AS mengalami peningkatan pesat yakni sebesar US$ 200 miliar pada 2002 menjadi US$ 500 miliar pada 2005.

Sifat serakah dan tidak peduli terhadap dampak internasional menjadi ciri kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Negeri Paman Sam tidak peduli dengan dampak global dari krisis di dalam negeri. Bagi mereka, langkah apapun akan dilakukan meski berdampak buruk bagi negara-negara lain, khususnya negara berkembang.

Kita tentu masih ingat dengan penolakan ribuan warga AS terhadap pembangunan pipa kilang minyak di sepanjang Gulf Coast. Saat itu, ribuan orang menduduki Wall Street dengan aksi mereka yang dikenal “Occupy Wall Street”. Gerakan protes ini dimulai 17 September 2011 di Zuccoti Park, di distrik Wall Street New York City. Gerakan ini dicetuskan oleh Adbuster, kelompok aktivis asal Kanada. Mereka memprotes atas ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, pengangguran yang tinggi, kerakusan perusahaan dakam mengeruk keuntungan yang tidak masuk akal.

Slogan We are the 99% yang disuarakan para demonstran merujuk pada ketidaksetaraan pendapatan dan kekayaan di AS antara orang-orang kaya (1%) dan seluruh penduduk Amerika Serikat. Protes di New York City telah mendorong munculnya protes dan gerakan Occupy serupa di seluruh dunia.

Rakyat Amerika tentunya sudah muak dengan keserakahan Pemerintah mereka yang lebih memikirkan minyak, ketimbang kehidupan manusia.

Politik luar negeri seperti ini sudah menjadi tabiat bagi Presiden Amerika. Ketika Obama menggelar kampanye pemilu, ada harapan agar AS berubah. Tagline “Change” digunakan Obama untuk merebut simpati rakyat AS dan masyarakat internasional. Namun, setelah berkuasa, Obama menunjukkan watak asli pemerintahnya yang agresif merebut sumber daya alam di negara-negara lain.

Janji Obama untuk membuat hubungan yang mesra dengan dunia Islam pun tidak terbukti. Hal ini dapat dilihat dari keputusan AS untuk menolak Palestina masuk dalam keanggotaan PBB. Bahkan, AS pernah mengancam penghentian bantuan dana ke Unesco karena menerima Palestina sebagai anggotanya.

Pada Juni 2011, sebuah jajak pendapat dikeluarkan oleh  Universitas Quinnipiac menunjukkan 58 persen warga AS tidak menyetujui cara Presiden Obama menangani ekonomi AS. Jajak pendapat ini dikeluarkan untuk mengumpulkan kekecewaan rakyat AS atas lambannya pertumbuhan ekonomi di negara mereka.

Dan, sadarkah kita, bahwa kerusakan di Amerika Serikat ini, memiliki dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia di bumi, berawal dari cara pandang kapitalisme dan sekulerisme yang memang membuang jauh-jauh agama dalam laku kehidupan manusia sehari-hari? Jika ekonomi dan politik sudah “shutdwon”, untuk apalagi memiliki persenjataan canggih dan militer yang tangguh?. (*)

Print Friendly, PDF & Email