Untuk memudahkan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, para ulama meletakkan beberapa kaidah. Di antara kaidah tersebut:

  1. Nama dan Sifat Allah adalah sesuatu yang tauqifi (tidak ditetapkan kecuali berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah). Tidak ada ruang bagi akal dalam perkara ini. Seseorang wajib berhenti pada nash al-Quran dan as-Sunnah, tidak menambah-nambah atau menguranginya. Karena akal tidak mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang pantas bagi Allah. Allah ta’ala berfirman

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

 yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Israa: 36)

Sebagian ulama menegaskan bahwa ada tiga cara yang bisa membuat seseorang dapat mengetahui sifat-sifat sesuatu: melihatnya secara langsung, melihat yang serupa dengannya, mengetahuinya dari orang yang mengerti tentangnya. Sementara pengetahuan kita tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya hanya terbatas dengan cara ketiga, yaitu mengetahui sifat sesuatu dari orang yang mengerti tentang sesuatu tersebut. Dan tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah kecuali diri-Nya sendiri kemudian orang-orang yang diberi wahyu oleh Allah tentang diri-Nya, yaitu rasul-rasul-Nya. Maka kita wajib mengikuti wahyu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena kita belum pernah melihat Allah Subhaanahu wa ta’ala.

2. Keyakinan tentang sifat Allah seperti keyakinan tentang Dzat-Nya. Maksudnya, sifat, dzat, dan perbuatan Allah tidak serupa dengan apapun. Jika Allah memiliki dzat secara hakiki dan dzat itu tidak serupa dengan dzat apapun, demikian pula sifat-sifat Allah yang ada di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Allah menyandang sifat-sifat tersebut secara hakiki dan tidak serupa dengan apapun.

3. Keyakinan tentang sebagian sifat Allah seperti keyakinan tentang sebagian sifat yang lain. Maksudnya, cara memahami sebagian sifat-sifat Allah sama dengan cara memahami sebagian sifat dan yang lain.

4. Semua nama Allah adalah baik. Maksudnya, nama-nama Allah semuanya baik, dan sama sekali tidak ada yang buruk,  karena nama-nama itu menunjukkan dzat yang memiliki nama tersebut yaitu Allah ‘azza wa jallaa. Nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak mengandung kekurangan sedikitpun dari segala sisi. Allah berfirman

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

yang artinya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik.” (QS. al-A’raaf: 180)

  1. Nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu. Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Aku meminta kepada-Mu dengan segenap nama-Mu, yang telah Kau namakan diri-Mu dengannya, atau Kau turunkan dalam kitab-Mu, atau Kau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu atau Kau simpan didalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.” (HR. Ahmad 3712)
Print Friendly, PDF & Email