Metode dan Pendekatan Dakwah Syiah

1. Isu Ukhuwah dan Metode Taqiyyah

Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran tahun 1979, pernah mengumumkan untuk mengekspor revolusi ke Negara-negara Islam. Pemimimpin Negara-negara Islam menyambut dingin ajakan tersebut. Ketika ia menemui hambatan-hambatan dalam meyakinkan pemimpin Negara-negara Muslim tentang proyek revolusi, maka metode pendekatan (taqrib), mencitrakan kesan netral dan menciptakan common enemy (yaitu AS dan Barat) digunakan. Metode Khomeini tersebut merupakan kebijakan politis. Tapi nampaknya, metode politis tersebut dikembangkan da’i-da’i Syiah dalam berdakwah ke Negara-negara Muslim. Ternyata metode ini dalam kenyataan praktiknya didukung oleh akidah taqiyah (menyembunyikan identitas di tengah mayoritas), yang telah menjadi rukun agama dalam ajaran Syiah.

Pasca kerusuhan Sampang Madura, organisasi Syiah Indonesia, ABI (Ahlul Bait Indonesia) dan IJABI (Ikatan Ahlul Bait Indonesia) mengadakan diskusi dan seminar dengan mengusung tema-tema pendekatan dan ukhuwah. Pada 5 November 2012, komunitas Syiah Indonesia mengadakan Seminar Internasional Persatuan Dunia Islam di Universitas Muslimin Indonesia (UMI) Makassar Sulawesi Selatan. Acara tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor UMI, Prof. DR. Hj. Masruroh Mokhtar, MA,NB. , Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, tokoh syiah Internasional, Ayatullah M. Ali Tashkiri, Maulawi Ishaq Madani Ulama Sunni penasehat Presiden Iran untuk urusan Ahlussunah wal Jama’ah, dan Deputi Universitas terbuka Iran, Dr.Mazaher.

Seminar tersebut disambut dengan aksi protes sejumlah ormas Islam Makassar agar menghentikan seminar tersebut. Wahdah Islamiyah Makassar, salah satu ormas yang turun mengajukan protes ke kampus UMI menilai seminar tersebut pada dasarnya ingin melegalkan ajaran sesat Syiah di Indonesia. Sedangkan kesesatan Syiah lebih berbahaya dibandingkan perbuatan maksiat, karena merusak aqidah seorang Muslim. Pada hari yang sama, di TMII Jakarta juga digelar diskusi dengan tema yang sama dalam rangka memperingati hari besar Syiah “Idul Ghadir”.

Tema persatuan dan pendekatan memang menjadi proyek utama. Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku dan orasi ilmiah selalu Syiah tidak meninggalkan tema ini. Selain itu, mereka menerapkan beberapa metode. Di antaranya, Pertama, menampilkan pustaka atau tokoh Syiah berwajah Sunni (Syi’i biwajhin Sunniyin). Prof. Dr. Mohammad Baharun menulis bahwa kitab kitab Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib dan al-Bayan fi al-Akhbar Shahib al-Zaman Oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar diapat diakses oleh pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah.

2. Klaim Madzhab Ahlul Bait

Kerap kali dijumpai juga pengikut Syiah menolak sebagai Syi’i. Tapi terkadang mereka lebih suka disebut pengikut madzhab Ahlul Bait ketimbang pengikut Syiah. Mereka juga menghindari debat terbuka vis a vis. Dalam beberaca acara publik kadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas. Namun diminta untuk bicara ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini merupakan taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya. Wujud Syiah ideologis tidak ditampakkan, tapi menampakkan sebagai simpatisan madzhab Ahlul Bait. Argumentasi yang dikedepankan biasanya mereka mengatakan bahwa Syiah adalah Muslim, karena membela hak-hak kepemimpinan Ahlul Bait.

Bagi Syiah, Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) dijadikan icon utama. Dalam hadis, Syiah hanya menerima jalur periwayatan yang hanya ditransmisikan oleh Ahlul Bait. Di luar Ahlul Bait jalurnya ‘ditutup’. Tapi bisa diterima jika isi hadisnya mendukung keutamaan Ahlul Bait. Akibatnya, Syiah menolak mayoritas hadis yang beredar di kalangan kaum Muslimin (Ahlussunnah wal Jama’ah).

Berbeda dengan Ahlussunnah, semua hadis diterima baik diriwayatkan oleh Ahlul Bait atau bukan asalkan memenuhi syarat-syarat keabsahan hadis dan perawinya. Ahlussunnah juga mencitai Ahlul Biat. Mereka mencintai Ahlul Bait berdasarkan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah, bukan atas dasar fanatisme buta. Ahlul Bait merupakan orang-orang baik, tapi mereka manusia biasa, tidak ma’shum.

Dalam keyakinan Sunni Ahlul Bait itu adalah satu kesatuan rumah tangga Rasulullah saw yang terdiri dari bapak, ibu, mertua, anak, menantu dan para cucu. Namun Syiah menyempitkan anggota Ahlul Bait, terbatas Fatimah, Ali dan keturunannya. Abu Bakar yang menjadi mertua Nabi saw didiskualifikasi. Ustman bin Affan yang menjadi menantu Nabi saw dua kali dibenci dikeluarkan dari anggota keluarga besar rumah tangga Rasulullah saw.

Pendiskualifikasian dan penyempitan makna oleh Syiah awalnya didasarkan oleh ideologi kebencian, yang termakan propaganda palsu Abdullah bin Saba’ bahwa ada sengketa politik bahwa sahabat (termasuk Abu Bakar, Umar dan Ustman) memusuhi Ahlul Bait.

Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, dalam bukunya Kasf al-Asrar menulis dongeng tentang Abu Bakar. Bahwa ambisi Abu Bakar untuk berkuasa sudah tertanam sebelum Abu Bakar masuk Islam. Dikisahkan, Abu Bakar masuk Islam atas petunjuk seorang dukun. Si Dukun menganjurkan Abu Bakar untuk masuk Islam, mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat Abu Bakar bisa langsung menggantikan kekuasaan. Cerita palsu ini kemudian menjadi landasan ideologis.

Padahal tidak ada permusuhan atau sengketa apapun antara sahabat dan Ahlul Bait. Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat kepada anak keturunannya agar menjaga hak-hak sahabat. Sebab hal itu telah dipesankan oleh Nabi saw (Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah). Dalam satu pidatonya, Ali r.a mengingatkan, “Saya sudah lihat sendiri sahabat-sahabat Rasulullah saw. Tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyamai keutamaan mereka”. Nasihat-nasihat Ali r.a ini cukup banyak ditulis dalam buku-buku sejarah. Sama sekali tidak ditemukan cercaan terhadap sahabat, justru yang banyak adalah pesan keutamaan sahabat.

Imam Ja’far al-Shadiq ketika membicarakan keutamaan Abu Bakar r.a beliau berkata, “Di samping sya mengharap syafa’at dari Ali, saya juga mengharap syafa’at dari Abu Bakar” (riwayat al-Daraqutni).

Imam Ja’far pernah mengatakan, “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali” (Ahmad bin Zain al-Habsyi,Syarhul ‘Ainiyah, 22). Ketika ia masih hidup, nama beliau (Ja’far) pernah dibajak oleh orang-orang Syiah. Syiah membuat fitnah bahwa Ja’far berlepas diri dari Syaikhoni (Abu Bakar dan Umar). Sontak ia marah. Beliau mengatakan, “Allah berlepas dari mereka (orang-orang Syiah). Demi Allah, sesungguhnya aku berharap Allah memberiku manfaat berkat hubungan kekerabatku dengan Abu Bakar” (Abdullah bin Syekh al-Aidarus,Al-Iqdun Nabawi, 230).

Pernyataan Ja’far al-Shadiq ini menunjukkan bahwa antara dia beserta nasab-nasabnya mengakui Abu Bakar sebagai kerabat (Ahlul Bait). Keturunan Ja’far juga berkeyakinan sama. Ini menunjukkan, bahwa Ja’far, yang diagungkan oleh Syiah sebagai imam, tidak menyempitkan makna Ahlul Bait. Definisi ini sama dengan keyakinan Ahlussunnah dari dulu hingga kini.

Definis ini lebih masuk akal, sebab pendapat ini berdiri secara adil. Tanpa ada cacian, pilih-pilih sahabat. Yang dikedepankan Ahlussunnah adalah metodologi, bukan doktrin mitologi.

Ja’far memang bukanlah berakidah Syiah, tapi beliau adalah imam besar kaum Ahlussunnah. Jadi sesungghunya pendahulu dan pembesar Ahlul Bait berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan Syiah.

Syekh Yusuf al-Nabhani dalam Sywahidu al-Haq mengatakan bahwa para Ahlul Bait dan keturunannya berakidah Ahlussunnah mencintai sahabat dan mayoritas bermadzhab Syafi’i.

Ali bin Husein, salah satu pembesar Ahlul Bait, pernah didatangi oleh orang-orang Syiah yang mencela Abu Bakar, Umar dan Ustman. Ali lantas berbicara panjang lebar dan menyebut mereka (kelompok yang mencela sahabat) itu bukan golongan yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Habib Abdullah al-Haddad, ulama yang disegani di kalangan bani Alawi, menilai Syiah itu seperti kotoran hewan dibelah dua (Tastbitul Fuad, 226).

Sejatinya madzhab Ahlul Bait itu tidak ada. Yang ada adalah madzhabnya Ahlul Bait (madzhab yang dianut oleh Ahlul Bait). Syiah tidak tepat disebut madzhab Ahlul Bait sebab, ternyata Ahlul Bait sendiri mencela Syiah karena akidahnya yang mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para habaib, hampir semuanya berakidah Sunni.

Klaim itu seperti diungkapkan tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat. Pada acara miladnya ke-63, Rabu 29 Agustus 2012 lalu, Jalaluddin Rahmad (Kang Jalal) memberi penjelasan kontroversial bahwa para habaib yang menyebarkan agama Islam dulu adalah Syiah. Dugaan Jalal itu diulang dalam wawancara dengan TEMPO pada 29/08/2012 disertai perjelasan agak lebih detil.

Jalal menerangkan, bahwa penyebar agama Islam di Indonesia dari Hadramaut itu bermadzhab Syiah tapi bertaqiyah. “Ketika itu, orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tak menunjukkan dirinya Syiah. Melainkan ber-taqiyah (berpura-pura) menjadi pengikut madzhab Syafi”i”, terang ketua Dewan Syura IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) ini (tempo.com 3/10/2012).

Namun, teori bahwa muballigh yang datang ke Indonesia itu Syiah yang ber-taqiyah, itu telah lama dibantah sejarawan dari Bani Alawiyin, Habib Alwi bin Thohir al-Haddad, dan beberapa ulama’ dari kalangan habaib. Alwi al-Haddad, yang pernah menjabat mufti Johor Malaysia, menerangkan dalam bukunya ‘Uqudul Almas bahwa kaum Alawiyyin serta pendahulu-pendahulu mereka berakidah Ahlussunnah dan menilai bahwa Syiah adalah paham sesat.

Pakar filsafat sejarah, Syed Naquib al-Attas menampik bahwa Islam di Nusantara dibawa kaum Syiah. Dalam bukunya Historical Fact and Fiction, al-Attas menyodorkan butkti-bukti dari penulis Muslim baik klasik maupun kontemporer bahwa Islam dibawa ke Nusantara ini oleh para dai-dai Ahlussunnah yang diutus secara resmi oleh penguasa di tanah Arab. Mereka, bukanlah pedagang atau kaum Sufi.

Dalam catatan-catatan otoritatif sejarah, memang telah ditulis bahwa habaib dari nenek moyang mereka di Hadramaut sampai sekarang di Indonesia mayoritas justru anti-Syiah. Organisasi al-Rabithah al-Alawiyyah Indonesia (organisasi yang menghimpun keturunan bani Sadah Alawiyah keturunan Sayyidina Husein bin Ali) pernah mengeluarkan maklumat bahwa Rabithah bermadzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, dan menolak ajaran caci maki sahabat (Syiah).

Alwi bin Thohir al-Haddad menjelaskan, kaum Alawiyyin adalah anak keturunan Rasulullah melalui jalur Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah. Mereka biasa disebut sayyid, asyraf, atau di Indonesia dipanggil habaib. Leluhur bani ‘Alawi yang bernama Sayyid Ahmad bin Isa al-Muhajir berasal dari Irak merupakan leluhur yang sangat masyhur dalam sejarah keturunan bani Alawi. Sayyid al-Muhajir berjasa menyelamatkan keturunannya dari serangan isu dan fitnah pengikut Syiah di Irak, dengan cara berhijrah ke Hadramaut, Yaman.

Dalam buku Jalan Lurus Sekilas Pandang Tariqah Bani Alawi, Novel Alaydrus mengutip buku al-Barqah menulis alasan Sayyid al-Muhajir hijrah ke Yaman:

“Berkat hijrah beliau (al-Muhajir ke Hadramaut) selamatlah anak cucu beliau dari kerusakan akidah, fitnah, kegelapan bid’ah, penentangan terhadap Sunnah (Ahlussunnah) dan pengikutnya. Berkat hijrah tersebut, mereka selamat dari kecenderungan untuk mengikuti berbagai keyakinan Syiah yang sangat buruk yang saat itu melanda sebagian asyraf yang berada di Irak”

Fitnah pengikut Syiah terhadap keturunan Alawiyyin di Irak yang terjadi pada pertengahan abad ke-10 M mendorong para kaum Alawyyin hijrah. Agar supaya anak keturunannya tidak tersangkut fitnah Syiah, yang memakai ‘topeng’ madzhab Ahlul Bait.

Kaum Alawiyyin dikenal sangat ketat menjaga tradisi keberagamaannya. Maka, apapun rintangannya akan dihadapi demi menyelamatkan agama anak keturunan. Mereka kaum pemberani dalam menghadapi tantangan, tapi lembut dan low profile terhadap sesama saudara dan ikhwan seagama. Sikap pura-pura (taqiyah) bukan karakter pribadi kaum Alawiyyin. Sayyid al-Muhajir hingga akhir hayatnya di Hadramaut mendidik keturunannya dengan akidah Ahlussunnah dengan madzhab Syafi’i.

Sejumlah data-data sejarah yang ditulis sendiri oleh para pendahulu Alawyyin menunjukkan secara tegas bahwa mereka berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ali bin Abu Bakar al-Sakran, tokoh terkemuka dari Bani Alawiyyin, menulis:

“Adapun anak cucu Imam Syihabuddin Ahmad bin Isa yang tiba di hadramaut dan kemudian tinggal di Tarim adalah asyraf Sunni” (al-Barqah al-Masyiqah, hal. 133). Seorang ulama’ terkemukannya bernama Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam Tasbitul Fuad I/227 cukup tegas lugas menolak akidah Syiah. Ia menyebut Syiah sebagai golongan orang-orang ahli batil. Dalam segala hal pendapat-pendapat mereka (Syiah) tidak dapat diambil.

Habib al-Haddad di kalangan bani Alawiyyin dan nadhliyyin sangat terkenal dengan dzikirnya yang disebut dzikir ratib al-Haddad. Dzikir ini memiliki sejarah penting dalam pembentengan kaum Alawiyyin dari dakwah Syiah. Syekh Abdullah Ba Saudan menerangkan latar belakang disusunnya dzikir ratib ini:

“Ketahuilah bahwa penyusun ratib al-Haddad ini dimulai pada tahun 1971 H dan disusun disebabkan setelah para pemuka-pemuka Hadramaut mendengar berita bahwa banyak dari pengikut Syiah Zaidiyah masuk Hadramaut. Mendengar hal itu, para pemuka Hadramaut meminta kepada Habib Abdullah al-Haddad agar mengumpulkan dzikir-dzikir dari Rasulullah sebagai benteng bagi masyarakat Hadramaut agar tidak terpengaruh akidah Syiah tersebut, lebih-lebih bagi masyarakt awam”.

Jadi, terhadap Syiah Zaidiyah pun bani Alawiyyin sangat mewaspadai. Dan data ini menyodorkan bukti bahwa Bani Alawiyyin berseberangan dengan golongan Syiah manapun, baik Zaidiyah maupun Imamiyah.

Dari para asyraf Hadramaut inilah yang menurunkan para dai-dai yang menyebarkan agama Islam ke rantau Melayu-Indonesia. Mereka membawa tradisi-tradisi keagamaan yang diajarkan di negeri Yaman untuk disebarkan kepada masyarakat melayu. Maka, hingga kini pun dijumpai dzikir-dzikir dan ritual yang memiliki kemiripan dengan tradisi di Hadramaut Yaman. Tradisi dan ritual ini murni tradisi kaum Alawiyyin Sunni.

Tidak ditemukan data-data sejarah yang valid bahwa merek yang hijrah ke Melayu adalah Syiah. Adapun teori-teori dari sejarawan Syiah, sifatnya baru spekulatif. Sejumlah ritus yang diklaim seperti tahlilan, membaca yasin, membaca shalawat dan peringatan asyuro, secara geneologis dan ideologis tidak memiliki ketersambungan dengan tradisi kaum Syiah dimanapun, baik Zaidiyah di Yaman atapun Imamiyah di Irak dan Irak. Justru sebaliknya, ritus-ritus tersebut adalah tradisi turun-temurun para anak cucuk Sayyid al-Muhajir yang Sunni bermadzhab Syafi’i.

Para leluhur Ahlul Bait Sayyid al-Muhajir, seperti Ali Zainal Abidin, Ja’far al-Shodiq, Muhammad al-Baqir – yang ketiganya diklaim Syiah sebagai imamnya – ternyata sangat kuat memegang akidah Ahlussunnah. Serta mecerca kaum Syiah yang menodai kehormatan sahabat Nabi Saw.

Ali Zainal Abidin pernah didatangi orang-orang Syiah. Kaum Syiah tersebut mencela sahabat Abu Bakar, Umar dan Usman. Sontak, Ali Zainal Abidin mengusir mereka dan bersumpah bahwa mereka bukan dari golongan yang benar. Muhammad al-Baqir juga pernah didatangi kaum Syiah seraya mengejek Abu Bakar. Lantas al-Baqir marah dan mengatakan bahwa mereka tidak akan dibenarkan oleh Allah. Ja’far al-Shadiq pernah mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai khlaifah tidak akan mendapat syafaat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Jalan nan Lurus Sekilas Pandan Tariqah bani Alawi, 46).

Data-data ini juga menjadi bukti bahwa Ahlul Bait Nabi menghormati sahabat-sahabat Nabi dan mencerca orang-orang yang mengkiritik apalagi menodai kehormatan mereka. Sehingga, kita dapat membuat kesimpulan bahwa siapakah sesungguhnya pengikut setia dan pecinta Ahlul Bait Nabi dan siapa pula yang mengkhianati keturunan Nabi tersebut.

3. Memberikan Image Netral

Satu sisi mengkampanyekan ukhuwah, namun di kesempatan mengkritik Sunni. Yaitu mengkritik pustaka-pustaka Sunni, dan para ulama’. Yang menjadi sasaran biasanya hadis-hadis riwayat Abu Hurairah dan Bukhari-Muslim. Selain itu juga pendekatan melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana serta janji-janji kerja sama jika umat bersedia bergabung ke dalam insitutusi tertentu. Kini, Syiah menggerakkan dunia pendidikan. Mendirikan sekolah-sekolah unggulan mulai TK hingga SMA. Menyelenggarakan training-training metode pendidikan.

Dengan dukungan aktivis Liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlussunnah sama-sama. Tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah adalah Muslim. Dalam kenyataannya di Indonesia, liberalism telah menjadi ‘agen’ dalam ekspansi dakwah Syiah. Mereka bergerak secara kolaboratif. Ulil Abshar Abdallah menyikapi bahwa kasus Ahmadiyah dan Syiah adalah perbedaan penafsiran agama, bukan penyimpangan agama. Dalam diskusi bertema “Memberitakan Isu Keberagamaan” di Surabaya pada 24 November 2012, Ulil mengeluarkan statemen relativis bahwa Ahlussunnah dan Syiah sama, hanya beda tafsir.

Kebangkitan Syiah Militan?

H. As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU, pernah menulis bahwa Syiah di Indonesia akan membuat lembaga Marja’iyyat al-Taqlidi seperti di Iran (www.nu.or.id 30/5/2011). Mereka disebut Syiah politik yang berupaya menegakkan sistema keimamahan seperti halnya Khomeini. Iran dulu membentuk lembaga ini sebelum menyalakan api revolusi. Tentu saja komentar KH. Ali Maschan Moesa pada tahun 2007 saat mengunjungi Iran yang menghimbau kepolisian perlu mewaspadai alumni Iran, masuk akal. Menurut mantan ketua PWNU Jawa Timur ini para pelajar Indonesia di Iran yang berjumlah sekitar 5000 orang meminta untuk mendirikan masjid sendiri di Indonesia, yang terpisah dengan Muslim lainnya.

Dari informasi yang diungkap As’ad Ali, Syiah-Politik ini yang mengendalikan gerak dakwah Syiah di Indonesia. Antara Syiah-politik dan non-politik saling berkolaborasi. Syiah non-politik konsen di dalam dakwah pendidikan. Namun, arah dan strateginya dikontrol Syiah-politik. Di Indonesia dimonitor oleh ICC (Islamic Cultural Center) yang langsung di bawah pengawasan SCRC Iran (Supreme Cultural Revolution Council). ICC membina Yayasan OASE yang gerakkanya cenderung politis. Yayasan ini mengkhususkan kepada bidang pembentukan opini publik atau memobilisasi wacana.

Lembaga Marja’ Taqlidi , selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan dan konstitusi, juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintahan, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut amkatab atau lajnah asykariyah. Dari informasi ini, geliat Syiah sesungguhnya cukup massif, tapi tidak terlihat. Syiah lebih menampakkan kampanye ukhuwah, persaudaraan, dan toleransi. Apa di balik kampanye ukhuwah ini? Tidak lain membungkam da’i-da’i Sunni untuk tidak memperdebatkan perbedaan Sunnah-Syiah lagi. Jika da’i-da’i Sunni sudah tidak berenergi memperdebatkan Syiah, maka rencana pembentukan Marja’ Taqlidi jauh lebih mudah.

Kita masih ingat, pada tahun 1984, Indonesia pernah diributkan kasus pengeboman candi Borobudur, Gereja di Malang dan Bus Pembudi Expres jurusan Bali. Salah satu pelakunya, terprovokasi gaung api revolusi Iran tahun 1979. Perancang pemboman itu mengaku ingin menjadi imam di Indonesia, seperti Khomeini di Iran. Sayap militansi Syiah pada era delapan puluhan meningkat. Konon, sang arsitek ini kabur ke Suriah kemudian ke Iran setelah kasus pengeboman tersebut dikuak kepolisian.

Dalam akidah Rafidhah, elemen yang tidak bisa diabaikan adalah Imamah. Pengamalan imamah dianggap sempurna jika telah ada lembaga Marja’ Taqlidi, dan pemerintahan yang berdasarkan hukum Imam, atau pengganti Imam. Imamah dan cita-cita politik, itu tidak bisa dipisahkan dalam Rafidhah. Ayatullah Khomeini dalam bukunya Kasyf al-Asrar pernah mengatakan, bahwa hal yang paling penting dalam Syiah adalah jabatan Imamah. Saat berhasil merebut kekuasaan dari Syah Reza melalui revolusinya, Khomeini sudah mengumumkan untuk mengekspor revolusinya ke Negara-negara Islam.

Ternyata hal itu bukan basa-basi Khomeini. Ia kemudian menanam Garda Revolusinya ke Lebanon. Hingga sekarang menjadi sayap militer Hizbullah. Mereka adalah rantai penghubung yang menunjukkan otot kekuatan Syiah di Timur Tengah. Lebanon memang tidak menjadi Negara Syiah. Tapi tetangganya Suriah, meski mayoritas rakyatnya Sunni, tapi Negara ini dua kali dipimpin Presiden berakidah Syiah.

Jadi, semangat membara di balik revolusi sebenarnya adalah Syiahisasi. Secara ekstrim, Khomeini menyebut rival-rival politiknya dengan sebutan-sebutan seperti musuh Imam Dua belas. Ia mendeskripsikan musuhnya dengan sebutan toghut, mofsidin fil-arz. Imam ke duabelas Syiah sangat dinanti kedatangannya. Rupanya, Khomeini memanfaatkan momentum ini. Gerakan revolusionernya menyiratkan bahwa revolusi merupakan pintu awal kembalinya Imam Mahdi, imam kedua belas. Setelah revolusi, Khomeini diangat menjadi Na’eb-e Imam (Deputi Imam keduabelas).

Pengumuman ekspor revolusi itu adalah panggilan kepada umat Syiah untuk menjadi misionaris Syiah di Negara-negara Muslim. Panggilan itu ada yang dijawab dengan cara-cara radikalisme, ada pula dengan pendekatan halus. Syiah Arab cenderung merespon secara ekstrim. Upaya Syiahisasi di Irak memakan waktu yang sangat panjang. Perang Irak-Iran selama delapan tahun, bukan sekedar perkara perebutan lahan minyak, tapi ini perang ideologis. Saddam Husein pasca revolusi sangat khawatir, revolusi Iran dijawab oleh aktivisme Syiah Irak dengan radikal. Khomeini pun kecewa sebab Syiah Irak dibungkam oleh Saddam. Ketika perang, tawaran damai ditolak mentah-mentah oleh Khomeini. Baru tahun 2000-an ini ambisi Khomeini menjadi nyata. Diawali tumbangnya Saddam Husein pada 2003, diikuti suksesi politik dengan bantuan Amerika-Iran. Syiah Irak secara politik berada di dua kaki, satu kaki AS dan satunya lagi kaki ideologis Iran. Syiah Irak sangat berhutang kepada AS, karena yang menumbangkan Saddam adalah AS. Begitu tumbang, Syiah mengambil alih pemerintahan di bawah Nuri al-Maliki.

Radikalisme Syiah Arab makin nyata pada krisis Syiria. Syekh al-Shobuni mengecam tindakan Rafidhah di sana. Ketika ceramah di Masjid al-Akbar dan Unesa Surabaya, Syekh al-Shobuni menceritkan bahwa mereka menyembelih anak-anak, wanita dan merobohkan masjid-masjid. Ia menerangkan apa yang terjadi di Syiria, kaum Majusi Rafidah yg mengutuk sahabat-sahabat Rasulullah saw membunuh anak-anak, wanita. Mereka orang terkutuk. “Apakah ini akhlak orang beriman?”, tanya penulis tafsir Tafsir Ayati al-Ahkam ini. Bahkan Syekh al-Shobuni, sangat kecewa dengan mengatakan bahwa Iran bukan lagi Syiah, tapi Majusi. Seperti diungkapkan ketika ceramah di Gresik.

Dalam krisis Suriah ini, Iran mengakui sendiri menyokong rezim Bashar Asad. Kabarnya, Korps Garda Revolusioner Islam Iran (IRGC) memberikan bantuan “non-militer” di Suriah. Hal ini pernah diakui oleh Panglima Muhammad Ali Jafari. “Sejumlah anggota Pasukan Quds berada di Suriah tetapi ini bukanlah merupakan kehadiran militer,” kata kantor berita Iran, ISNA, mengutip Jafari dalam sebuah konferensi pers.

Sementara di Indonesia, Syiah cenderung menggunakan pendekatan halus dan akhlak tingkat tinggi. Namun, kiblatnya tetap sama, Iran dan Khomeini sebagai icon perjuangan. Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdusshomad Buchori, pernah mengingatkan bahwa jika mereka besar bisa mengancam NKRI. Sampai-sampai KH. Ali Maschan Moesa mengkhawatirkan pelajar Indonesia yang di Iran jika mereka pulang. Semangat missionaries Syiah untuk Syiahahisasi bukan basa-basi. Tentu saja semangat demikian mengganggu hubungan Sunnah-Syiah. Persoalan Syiah bisa diselesaikan dengan toleransi. Tapi missionaris Syiah dengan semangat Syiahisasi itu yang bisa mencederai toleransi. Karena itu wacan Indonesia Tanpa Syiah, bermakna, “Indonesai tanpa Syiahisasi”. Wacana ini sah-sah saja sebab, selama ini pemicu konflik Sunnah-Syiah ternyata adanya geliat Syihahisasi terhadap jamaah awam Sunni.

Penutup

Ajakan ukhuwah penganut Syiah dapat dinyatakan kontraproduktif, sebab mereka Syiah masih tetap menggunakan metode taqiyah dalam bermuamalah. Apalagi metode menyembunyikan identitas ini dijadikan sebagai metode dakwah konversi. Sesungguhnya bukannya Sunni yang menolak untuk berukhuwah. Akan tetapi, yang menjadi keberatan umat Sunni adalah kitab-kitab Syiah yang berisi penodaan terhadap sahabat nabi. Sedang, kitab-kitab tersebut menjadi referensi utamanya.

Ukhuwah sebenarnya bukan sekedar berati persaudaraan dalam arti luas. Ukhuwah adalah persudaraan yang diikat oleh keimanan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kamu melihat orang-orang mu’min di dalam saling belas kasih, saling mencintai, dan saling menyayangi adalah bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh mengeluh kesakitan maka seluruh anggota yang lain akan menunjukkan pembelaan “.(HR. Bukhari). Makanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan orang mu’min itu bersaudara. Sehingga, yang tidak beriman, yang menista ajaran Allah bukan saudara. Untuk menciptakan kerukunan di Indonesia, maka orang Syiah harus bersedia membuang ambisinya untuk men-Syiahkan Indonesia dan meninggalkan caci-maki kepada sahabat-sahabat dan istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan itu, kita semua bisa mengkosentrasikan diri untuk bekerja keras membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa Muslim yang kuat dan terhormat. (Kholili Hasib Anggota MIUMI Jawa Timur dan Peneliti INPAS Surabaya/ http://inpasonline.com/new/syiah-antara-hakikat-akidah-dan-isu-ukhuwah/)

Print Friendly, PDF & Email