Pendahuluan

Kemunculan aliran Syiah bermula dari sekelompok orang yang mengangkat isu adanya sengketa politik antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait). Mereka biasanya menyatakan kebencian terhadap Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab karena dianggap merebut kekuasaan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pengganti Nabi saw. Keyakinan tersebut menjadi ciri khas Syiah tersendiri. Jika disimpulkan secara umum ciri khas Syiah ada dua; Pertama membenci Sahabat Nabi saw dan, Kedua, kecintaan yang ghuluw (berlebihan) kepada Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya atau Ahlul Bait. Isu perebutan Abu Bakar terhadap hak Ali sebagai khalifah inilah yang sangat santer dalam dunia Syiah. Dalam sejarah, kelompok yang mengangkat isu ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dalam buku-buku tarikh disebut sebagai seorang Yahudi yang mengaku masuk Islam pada zaman Khalifah Ustman bin Affan. Kelompok pengikut Abdullah bin Saba’ ini pada zaman itu membenci para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengkultuskan Ali bin Abi Thalib.

Kebencian terhadap Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — terutama Abu Bakar dan Umar — dan kepercayaan terhadap keimamahan Ali beserta keturuannya merupakan akidah dan ciri utama Syiah. Namun dalam dakwahnya, Syiah menggunakan taqiyah (menyembunyikan identitas). Terkadang ditemukan dalam buku-buku Syiah kontemporer yang mengelak adanya ajaran penistaan terhadap Sahabat Nabi saw. Sedangkan kitab-kitab induk Syiah cukup jelas sikap kebenciannya terhadap Sahabat Nabi saw. Sehingga ditemukan kontradiksi antara buku-buku induk Syiah yang ditulis oleh ulama mereka dengan buku-buku yang ditulis Syiah kontemporer di Indonesia. Tentu saja adanya kontradiksi tersebut menimbulkan tanda tanya, apalagi para ulama Syiah yang menulis buku-buku induk tersebut tetap menjadi referensi Syiah kontermporer. Meski Syiah kontemporer, termasuk di Indonesia menyembunyikan identitas akidah dalam buku-bukunya, namun tetap saja dapat dibaca frame pemikiran yang merendahkan Sahabat Nabi saw.

Mengenal Hakikat Syiah

Cara yang tepat dan ilmiah untuk mengenal akidah Syiah adalah dengan mengkaji secara langsung kitab-kitab induk mereka yang dijadikan rujukan utama, seperti al-Kafi, Man La Yadhuruhu al-Faqih, Tahdzibul Ahkam, al-Istibshar, Tafsir al-Qummi, Bihar al-Anwar dan lain-lain. Sebab, sebenarnya Syiah tidak pernah membuang kitab-kitab induk tersebut. Tokoh-tokoh Syiah Indonesia tetap memulyakan kitab-kitab tersebut dan para penulisnya sebagai referensi dalam praktik keagamaannya. Meski dalam buku-bukunya kontemporer cukup jarang mengutip referensi tersebut. Minimimnya perujukan terhadap kitab tersebut ditengarai karena Syiah sedang mengamalkan taqiyyahnya.

Seperti misalnya dalam buku Agar Tidak Terjadi Fitnah: “Sepanjang pengetahuan kami kaum Syiah menganggap kitab al-Kafi, al-Istibshar, Man La Yadhuruhul Faqih dan al-Tahdzib itu adalah kitab standar mereka, namun mereka tidak pernah mengatakan shahihul Kahfi apalagi dikatakan Kitab Sesudah al-Qur’an sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah menganggap bahwa Kitab Bukhari atau Muwatha’ itu adalah satu-satunya Kitab yang Shahih sesudah al-Qur’an..”. Kalimat dalam buku tersebut sepertinya tidak memposisikan al-Kafi sebagai sebuah kitab yang agung yang memuat kata-kata suci dari Imam mereka.

Namun, penulis buku tersebut membantah keraguan terhadap serangan yang ditujukan kepada kitab al-Kafi dimana di dalam kitab tersebut kebanyakan tidak mencantumkan “bersabda Rasulullah saw , tapi hanya berhenti pada perkataan “Berkata Imam …as”. Buku itu menjawab: “…Adapun kebanyakan hadis-hadis kaum Syiah Imamiyah berhenti sampai pada Berkata Imam a.s. karena status imam-imam tersebut di atas sebagai pewaris ilmu nabi, menjadikan mereka berhak menafsirkan serta menakwilkan al-Qur’an, mereka itulah mandatarisnya al-Qur’an di setiap zaman. Karena status Imam-imam tersebut sebagai pengganti Nabi maka apabila ada riwayat yang sudah sampai kepada salah satu dari 12 orang imam tersebut itu sudah sama dengan hadis”. Pernyataan ini merupakan pengakuan terhadap otoritas riwayat dalam al-Kafi.

Usulan untuk mengenal hakikat Syiah melalui referensi-referensi yang muktabar telah diungkapkan oleh Prof. Dr. Quraihs Shihab. Dalam buku Buku Putih Mazhab Syiah ia menulis bahwa Rujukan terbaik untuk memahami Syiah adalah para ulama’nya yang muktabar dan diakui. Ulama dan kitab Syiah yang muktabar inilah yang menjadi pokok panduan Syiah dari dulu hingga sekarang. Sehingga agar tidak terjadi kesalafahaman, perlu meneliti kitab-kitab induk mereka.

1. Arti Kata Syiah

Istilah Syiah dalam konteks pemikiran dan ilmu kalam maksudnya adalah kelompok yang memiliki ajaran tersendiri. Namun, sebelum lahirnya sekte Syiah, istilah ‘syiah’ pernah beredar, tapi dengan makna secara bahasa saja yang artinya ‘pendukung’. Istilah itu bahkan telah beredar pada masa Sahabat Nabi saw. Syi’atu Ali maksudnya pecinta dan pendukung Ali bin Abi Thalib. Sesungguhnya istilah Syi’atu dalam makna pendukung bukan hanya dinisbatkan kepad Ali. Para sahabat yang mencintai Utsman bin Affan disebut Syi’atu Utsman. Jadi, istilah tersebut pada zaman itu tidak ada kaitan ideologis sama sekali dengan Syiah yang sekarang disebut Rafidhah atau Imamiyah. Karena itu, harus dipahami makna kata secara istilah dan secara bahasa. Secara etimologi kata Syiah berarti para pengikut atau pendukung. Secara lebih luas diartikan golongan, pengikut, pembantu, pendukung atau sejenisnya. Pengertian etimologis ini seperti telah disebebutkan dalam al-Quran.

وَدَخَلَٱلْمَدِينَةَعَلَىٰ حِينِغَفْلَةٍۢمِّنْ أَهْلِهَافَوَجَدَفِيهَارَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَامِن شِيعَتِهِۦوَهَٰذَامِنْ عَدُوِّهِ

“Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (syi’atihi) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun)”. (QS. Al-Qashash: 15).

Makna etimologis seperti tersebut dalam al-Quran di atas, juga bukanlah yang dimaksud dengan arti kelompok (firqah) yang akan dibicarakan dalam pembahasan ini. Karena itu, dalam kajian teologi dan pemikiran Islam, kata Syiah bukanlah yang dimaksud dalam makna etimologis tersebut. Membicarakan Syiah sebagai firqah terkait erat dengan fase perkembangan keyakinan kelompok yang memiliki prinsip-prinsip keimamahan dalam akidahnya.

Secara terminologis, al-Syahrastani menerangkan, Syiah adalah kelompok yang berkeyakinan bahwa hak imamah (menjadi pemimpin umat setelah Nabi saw) adalah sayyidina Ali dan keturunannya. Bila tidak dipegang Ali, maka terjadi kedzaliman. Ibn Hazm mendefinisikan, Syiah adalah firqah dengan beranggapan bahwa jika sayyidina Ali adalah orang paling utama setelah Rasulullah saw dan hanya beliau dan keturunannya saja yang berhak menjadi pemimpin umat.

Istilah firqah Syiah sering disandingkan dengan Rafidhah. Menurut Imam Ahmad, Rafidhah adalah orang-orang yang berlepas diri dari para sahabat Nabi saw serta mencaci dan merendahkan mereka. Karena itu, kelompok Syiah yang mengecam dan mencaci Abu Bakar dan Umar r.a biasanya oleh para ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunnah) disebut dengan Rafidhah.

Istilah Rafidhah menurut penjelasan Abul Hasan al-Asy’ari muncul pertama kali berdasarkan perkataan Zaid bin Ali bin al-Husein kepada kelompok Syiah. Abul Hasan al-Asy’ari mengatakan, “Zaid bin Ali tidak lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib r.a dibandingkan semua sahabat Rasulullah saw. Ia mengakui kepemimpinan Abu Bakar serta Umar; ia pun berpendapat harusnya memberontak terhadap para imam yang dzalim. Sewaktu berada di Kufah, di tengah para pengikutnya yang membaiatnya, ia mendengar ada yang menjelek-jelekkan Abu Bakar dan Umar. Serta-merta ia menyalahkan orang itu, sehingga para pembaiatnya memisahkan diri darinya. Lantas beliau mengatakan, ‘Rafadhtumuni’ (kalian meninggalkanku)”. Rafidhah juga disematkan kepada kelompok yang menolak (rafadha) kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Jadi Syiah disebut Rafidhah karena mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Ustman sebagai Khalifah, yang berimplikasi kepada keimanan kaum Syiah.

2. Gejolak Awal: Dari Politik ke Teologi

Gejolak awal Syiah bermula dari isu adanya sengketa politik antara sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Ahl al-Bayt mengenai jabatan khalifah. Isu politis dikobarkan oleh sosok Abdullah bin Saba’. Tersebarlah propaganda yang menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar dan Ustman radhiallāhu ‘anhum merampas hak khalifah. Nama Ali bin Abi Thalib radhiāllahu ‘anhu disodorkan sebagai pemegang hak resmi jabatan khalifah.

Penyebaran isu tersebut juga dilakukan dengan cara-cara politis. Imam al-Thabari menerangkan, propaganda ditanamkan kepada orang-orang tertentu yang awam yang baru masuk Islam. Mereka secara diam-diam menyebarkan adanya sengketa politik sambil menyembunyikan maksud mereka itu. Ada dua pokok hal yang menjadi komoditas propaganda, yaitu mengangkat teologi tasyayyu’ (mencintai Ahl al-Bayt secara berlebihan) dan pendiskulaifikasian sejumlah besar sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pengikut kebenarana. Bahwa ada wasiat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali dan keturunannya. Masyarakat awam diprofokasi dengan isu bahwa Ahl al-Bayt bermusuhan dengan sahabat. Mobilisasi propaganda dilakukan di daerah-daerah pinggiran, seperti Mesir dan Irak.

Gejolak makin meningkat pada zaman Ustman bin Affan. Abdullah bin Saba’ menyebarkan pemahaman bahwa setiap Nabi memiliki washi. Dan Ali adalah washi-nya Nabi Muhammad. Di lain tempat ia memasang sikap anti-Ustman bin Affan dengan mencemarkan nama beliau. Politik Abdullah bin Saba’ pun berkembang secara luas di kalangan orang-orang Kufah menjadi sistem keyakinan dan menyebar dari generasi ke generasi menjadi sebuah teologi.

Selain Abdullah bin Saba’, yang banyak disamarkan oleh Syiah kontemporer, ada lagi sosok yang perlu diketahui dalam historisitas politik Imamah. Al-Du’ali pernah membuat provokasi dengan memuji-muji Ali secara berlebihan. Ia mengatakan: “Kutatap roman muka Abu Husein, bak kulihat rembulan yang bersinar terang, membuat semua yang melihat jadi keheranan. Aku mencari Tuhan dan tempat tinggal masa depan melalui cintaku kepada ‘Ali”.

Obsesi politik dengan mengangkat teologi Imamah dengan Ahl al-Bayt sebagai pemegangnya hampir menuai hambatan. Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib tidak berlangsung lama, yaitu lima tahun sejak tahun 35 H sampai 40 H. Ketika putranya, Hasan bin Ali diangkap, situasi politik dipenuhi pertentangan hebat. Kerajaan yang diakui mengangkat Ahl al-Bayt baru dinasti Fatimiyah dan keturunan Hasan yaitu Idris bin Abdullah di Maroko pada tahun 179 H. bahkan dinasti Idris sesungguhnya tidak representatif pemerintahan Syiah, karena wilayah kekuasannya semuanya Sunni.

Ibnu Babawihi al-Qummi, salah seorang ulama’ klasik Syiah menjelaskan tentang pokok-pokok teologi politik tersebut. Ia mengatakan bahwa setiap nabi menyampaikan wasiatnya kepada penerimanya atas perintah Allah swt. Dan bahwa jumlah penerima wasiat itu mencapai seratus dua pulu empat ribu orang. Muhammad Ahmad al-Turkamaniy menukil ‘Aqāid al-Imāmiyah bahwasannya, mereka meyakini Nabi Saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya dan khalifah di muka bumi.

Ketika mereka mengangkat konsep washi terhadap Ali bin Thalib dan keturunannya, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, didiskualifikasi. Alasannya, para sahabat tidak mendukung Ahl al-Bait untuk mengangkat Ali menjadi khalifah. Al-Kulayni dalam kitab al-Kāfi mengatakan: “Pasca wafatnya Nabi, orang-orang menjadi murtad semua, kecuali tiga. Aku bertanya, siapa yang tiga itu? Beliau menjawab; Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi”. Keyakinan ini berimplikasi pada parameter validitas Hadist Syiah. Jalur penerimaan hadist dipersempit hanya melalui riwayat Ahl al-Bayt. Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’ mengatakan; “Syiah tidak menerima hadist-hadits Nabi Saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahl al-Bayt. Sementara hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan lain-lain tidak memiliki nilai walau sedikit”. Khomeini juga membatalkan transmisi hadist dari sahabat selain Ahl al-Bayt. Bahkan ia menuduh sahabat membuat-buat kalimat yang diatasnamakan Nabi Muhammad Saw. Keyakinan seperti tersebut di atas bukan lagi murni politik, tapi telah menjadi sistem dasar teologi Syiah. Setiap pemikiran dan akidah disandarkan kepada konsep Imamah. Dan konsep Imamah sendiri tidak pernah lepas dari cara-cara politik untuk menegakkannya. Seperti yang difatwakan oleh Khomeini bahwa, usaha-usah pendirian Negara Syiah merupakan bagian dari aplikasi iman terhadap wilayah (keimamahan). Pada masa terjadi kekosongan Imam, seperti sekarang, jabatan Imam untuk sementara dikendalikan oleh Wilayat al-Faqih yang bertugas menasihati pemimpin Negara dan sekaligus pemimpin tertinggi dalam perkara agama. Oleh sebab itu, mendirikan Negara ‘Islam’ merupakan keniscayaan bagi Syiah. Karena hal itu bagian dari pengamalan doktrin Imamah. Kesempurnaan teologi Syiah dipraktikkan melalui Imamah.

Adapun isu sengketa politik antara sahabat dan Ahl al-Bayt yang diisukan sepeninggal Nabi Saw, ternyata tidak ada referensi standar sejarah Islam. Ketika terjadi musyawarah antara kaum Anshar dan Muhajirin di balairung Saqifah Bani Sa’idah untuk memilih khalifah, Ali bin Abi Thalib memang tidak terlibat karena sibuk mengurus jenaza Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi pada akhirnya Ali membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Antara Ahl al-Bayt dengan sahabat juga tidak terjadi perselisihan politik, apalagi saling mencaci. Justru Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat kepada keturunannya; “Jagalah hak-hak sahabat Nabi kalian, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak mereka”.

Ketika terjadi perselisihan politik, terutama ketika terjadi perang Jamal dan Shiffin, di zaman Ali bin Abi Thalib, tidak dinafikan terdapat sekelompok pendukung setia Ali. Namun wajah ‘Syiah Ali’, pada zaman itu bukanlah seperti wajah Syiah Imamiyah sekarang. Ibn Taimiyah mengatakan bahwa kaum Syiah dahulu yang ikut serta Ali bin Abi Thalib atau mereka yang hidup pada zaman itu sepakat mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Mereka hanya berselisih tentang mana yang lebih utama antara Ali dan Ustman. Tidak ada caci maki terhadap sahabat. Pengikut setia Ali yang ini bukan kelompok Sabaiyah (pengikut Abdullah bin Saba’). Sehingga tidak bisa dinisbatkan dengan Rafidhah. Syiah Rafidah adalah penerus Sabaiyah yang diidentifikasi menjadi satu kekuatan teologis tersendiri pada tahun 121 H, ketika terjadi penyerbuan kelompok Syiah kepada Hisyam bin Abdul Malik. Sejak ini muncul nama Rafidhah, yang menjelek-jelekkan Abu Bakar dan Umar. Secara teologis kelompok ini penerus dari Sabaiyah zaman dahulu. Keimamahan menjadi prasyarat mutlak untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

3. Akidah Pokok Syiah

Imamah adalah konsep kepemimpinan Syiah yang menjadi kepercayaan mutlak. Doktrin ini menjadi landasan paling dasar dari ajaran-ajaran Syiah lainnya. Akidah Imamah diposisikan sebagai akidah penyerta dalam konsep ketuhanan. Secara elementer, konsep imamah berbeda jauh dengan yang dipahami Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beriman kepada imamah sebagai prasyarat untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak sah keimanan seseorang – meskipun secara tulus beriman kepada Allah dan Rasul –Nya jika tidak diberengi oleh kepercayaan terhadap keimamahan Syiah. Dari sinilah konsep Imamah Syiah merupakan konsep murni teologis, tidak sekedar konsep politis.

Imamah merupakan jabatan ilahi, kedudukannya tidak diperoleh melalui musyawarah akan tetapi ditunjuk olah Allah. Ulama’ kontemporer Syiah, Husein Ali Kasyif al-Ghita’ mengatakan: “Yang dimaksud Imamah adalah suatu jabatan Ilahi. Allah yang memilih berdasarkan pengetahuan-Nya yang azali menyangkut hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia memilih Nabi. Dia memerintahkan kepada Nabi untuk menunjuknya kepada umat dan memerintahkan mereka mengikutinya. Syiah percaya bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menunjuk Ali dengan tegas dan menjadikannya tonggak pemandu bagi manusia sesudah beliau”. Imamah merupakan pokok agama yang membedakan dengan firqah-firqah lainnya, karena sebagaimana diungkapkan ulama Syiah, Ali Kasyif al-Ghita’ bahwa ia memang jabatan ilahiyah. Pengangkatannya seperti Allah mengangkat Nabi, langsung dipilih oleh Allah tanpa musyawarah di antara manusia.

Dalam keyakinan Syiah Imamah ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum meninggal, Ali diberi wasiat oleh Nabi. Namun dalam kenyataannya, dari data-data sejarah baik Syiah atau Ahl al-Sunnah, tidak ditemukan pernyataan tegas Ali yang mengumumkan bahwa dirinya mendapat wasiat dari Nabi. Bahkan ketika ia didesak oleh Abbas untuk menanyakan kepada Rasulullah Saw adakah wasiat kekhalifahan, Ali menolaknya dan bahwa perkara itu bukan ada di pundaknya.

Kedudukan imam dalam Syiah terlampau berlebihan. Teologi Imamah, bahkan hampir mirip dengan ketuhanan. Seperti pendapat para Imam memiliki kuasa seperti Allah. Imam Khomeini mengatakan: “Ini kerana bagi imam itu kedudukan-kedudukan maknawi yang tersendiri, terpisah dari keududukan pemerintahan. Imamah merupakan kedudukan Kekhalifahan yang menyeluruh bersifat ketuhanan, yang telah tersebut oleh para Imam a. s, dimana seluruh hal-hal yang paling kecil yang ada ( di bumi) tunduk kepada mereka”. Pemikiran ini diperkuat dengan riwayat dalam al-Kafi yang menyatakan : “Tidakkah engkau tahu bahawa dunia dan akhirat itu untuk Imam, dia mengurusnya sesuai sekehendaknya dan dia memberinya kepada sesiapa yang dia hendaki, yang demikian itu dari (anugerah) Allah”. Bisa disimpulkan, alam semesta ini diatur oleh Allah dan para Imam. Para Imam memiliki hak kuasa yang tidak dimiliki para Nabi sekalipun.

Dalam sejumlah litelatur, Imamah hampir sama dengan Nubuwah. Tapi dalam pustakan Syiah lainnya ditemukan justru Imamah lebih tinggi daripada Nubuwah. Abdul Husein, seorang pemikir Syiah kontemporer, menulis: “Para imam yang dua belas lebih utama daripada semua nabi selain Nabi Muhammad Saw dan keluarganya, barang kali penyebab hal itu adalah, bahwa keyakinan mereka (para imam) lebih banyak dari pada Nabi”. Keyakinan tersebut juga ditegaskan oleh Khomeini. Ia mengatakan, “Sesungguhnya di antara hal yang pokok dalam madzhab kami (Syiah) adalah, bahwa para Imam memiliki derajat yang tidak dapat dijangkau oleh para malaikat muqarrabin dan para nabi yang diutus”.

Pujian-pujian berlebihan juga dapat dijumpai dalam pustaka-pustaka standar Syiah lainnya. Dengan demikian ‘pengkudusan’ terhadap Imam bukan perkara yang menjadi perdebatan di kalangan Syiah, tapi telah menjadi konsensus para ulama’, baik klasik maupun kontemporer. Makanya tidak heran jika ambisi politik Syiah sebenarnya cukup besar kerena didorong oleh ambisi teologi Imamah yang disakralkan itu.

Karena itu fanatisme Syiah terhadap Imamah mengakibatkan pendiskualifikasian terhadap orang-orang di luar Syiah. Teologi Imamah menjadi parameter baku untuk menilai keimanan dan ketauhidan seseorang. Persoalannya, parameter Imamah ini merupakan kreasi para ulama’ Syiah. Meskipun dalam Syiah hal ini menjadi akidah paling mendasar, Ali bin Abi Thalib sendiri tidak pernah mengatakan hal demikian. Dalam kumpulan pidatonya, yang dibukukan dalam Nahajul Balaghah, juga tidak ditemukan fatwa-fatwa seputar kekafiran orang yang tidak mempercayai Imamah. Orang yang menolak keimamahan biasanya disebut syirik. Perluasan makna syirik tentu menguatkan asumsi awal, bahwa Imamah tidak sekedar menyamai Nubuwah, tapi merupakan ruang ilahiyah.

Dengan landasan seperti itu, poisis Imamah menjadi absolut. Dalam pemikiran Syiah, imamah merupakan sumber ilmu yang pasti. Alasannya cukup ekstrim; para imam diyakini tidak pernah lupa dan mengantuk. Seperti dikatakan oleh Imam Khumaini; “Para Imam dimana kita tidak bisa memandangnya tidak mengantuk dan lalai”. Oleh karenanya, imam dalam pemikiran Syiah itu ma’sum (terbebas dari dosa). Bahkan, imamah menjadi salah satu rukun Syiah. Imam Khumaini menjadikannya seperti syahadat, para mayit biasanya dibacakan talqin dengan menyebut-nyebut kewajiban meyakini para Imam.

Keyakinan-keyakini seperti tersebut di atas memperkuat asumsi, bahwa akidah imamah menjadi salah satu aspek penting dalam praktik keyakinan Syiah. Salah satunya, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an berbasis Imamah. Argumentasi yang dikedepankan adalah hujjah berdasarkan konsep prinsipil imamah Syiah. Untuk itu, ayat-ayat yang berkaitan dengan tauhid, syirik dan sebagainya dita’wil dengan konsep Imamah sebagai landasannya. Umumnya ayat yang berkaitan dengan konsep syirik misalnya, ditafsirkan secara konstan tidak lepas dari kepercayaan kepada para imam Syiah.

Salah satu di antaranya, surat al-Zumar ayat 65: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu. Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

Al-Kulaini dalam kitab al-Kafi menjelaskan bahwa yang dimaksud menyekutukan dalam ayat tersebut adalah mempersekutukan imam Ali dengan kepemimpinan orang lain. Keyakinan seperti ini telah dipertegas oleh ulama’ klasik kenamaan Syiah, al-Majlisi dalam karyanya, Bihar al-Anwar. Ia mengatakan: “Ketahuilah bahwa memutlakkan kalimat syirik dan kufur dalam teks-teks Syiah terhadap orang-orang yang tidak mempercayai keimamahan Ali dan para imam setelah beliau dan mengutamakan orang lain daripada mereka, menunjukkan bahwa orang-orang itu kafir dan kekal di neraka”.

Surat al-Baqarah ayat 136 yang menjelaskan tentang persaksian keimanan kepada Allah dan Rasulullah diselewengkan menjadi keimanan terhadap imam dan Ahl al-Bayt. Ayat tersebut berbunyai: “Katakanlah (wahai orang-orang mukmin) ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”. Ayat ini ditafsirkan oleh al-Kulaini secara keliru. Menurutnya, yang dimaksud beriman kepada yang diturunkan Allah adalah beriman kepada Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan para imam setelah mereka. Dengan demikian, tafsir al-Qur’an terlalu jauh diselewengkan dimana tafsir seperti tersebut tidak pernah dijumpai pada ulama’-ulama salaf. Metodologi tafsir berbasis Imamah inilah yang menyalahi metode baku tafsir para ulama’ salaf.

Tanpa perlu penjelasan yang rumit, kita bisa menyimpulkan bahwa konsep syirik dalam Islam telah dibongkar sedemikian rupa dengan memasukkan konsep Imamah sebagai dasarnya. Syirik, yang dalam pemahaman Islam adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain selain-Nya, diperluas maknanya sehingga menjadi orang yang mempersekutukan Allah dan yang mempersekutukan imam Ali. Jadi pemahaman tentang syirik berkait dengan kepercayaan terhadapa imamah. Bahkan akidah imamah menjadi syarat untuk membersihkan dari kesyirikan.

Konsep syirik tidak sekedar penyekutuan terhadap Tuhan, tapi juga kepada imam yang notabene adalah manusia. Konsep seperti ini tampak telah terjerumus kepada paham ‘antroposentrisme’ –yaitu paham yang meyakini manusia sebagai kebenaran. Meski bukan persis sama dengan antroposentrisme yang berasal dari tradisi Barat. Akan tetapi, konsep akidah Syiah yang menjadikan imamah sebagai sentral keyakinan. Konsep akidah tauhid Syiah dengan menjadikan para imam sebagai asasnya, dapat dikatakan memiliki unsur paham antroposentrisme. Apalagi, seperti tersebut dalam riwayat di atas, imamah seperti kedudukan nubuwwah (kenabian) yang memiliki sifat uluhiyyah. Menempatkan manusia (yaitu para imamnya) pada level sifat-sifat ketuhanan. Dalam konsep Islam, seluruh manusia memiliki kesalahan, hanya para nabi yang dijamin kema’shumannya (tidak berbuat salah/dosa). Seperti keterangan Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya Ishmah al-Anbiya bahwa hanya para nabi yang ma’shum dari dosa besar maupun kecil dengan sengaja. Adapun lupa, para nabi bisa melakukan kelupaan. Namun langsung diberi ingatan oleh Allah. Sedangkan para imam, hampir memiliki sifat seperti sifat Allah, tidak lupa dan mengetahui hal-hal ghaib di alam semesta ini. Akidah yang demikian menjadikan para imam memiliki sifat-sifat rububiyyah yang semestinya tidak tepat disematkan kepada manusia.

Doktrin Kebencian dan Pelaknatan

Kemulyaan sahabat Nabi saw oleh aliran Syiah tidak diterima. Beragam tuduhan dilemparkan kepada sejumlah pembesar sahabat dan Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimotivasi oleh tuduhan palsu bahwa para sahabat merebut hak-hak Ahlul Bait. Dalam kitab induk Syiah al-Kafi diriwayatkan bahwa semua sahabat baik kalangan Muhajirin maupun Anshar telah kafir kecuali hanya tiga orang, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari dan Miqdad bin Aswad. Atas klaim ini, siapa saja yang mengingkari Ali juga dikafirkan. Seperti dikatakan dalam al-Kafi:

“Dari Abu Ja’far a.s berkata: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Ali sebagai tanda kewalian (kepemimpinan) antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya. Barang siapa yang mengenalnya, maka ia mu’min. Barangsiapa mengingkarinya, maka ia jadi kafir, barangsiapa yang tidak mengetahuinya berarti ia tersesat, barangsiapa yang mengangkat seseorang bersama dia, maka ia musyrik, dan barang siapa yang datang dengan meyakini keimamahannya maka dia masuk surga”.

Imam al-Majlisi, salah seorang ulama’ Syiah menulis dalam kitabnya Bihar al-Anwar juz 23 termasuk ulama yang ekstrim mencaci sahabat. Secara profokatif ia menulis: “Ketahuilah bahwa mengatakan syirik dan kufur kepada orang yang tidak meyakini keimanan Ali bin Abi Thalib sebagai Imam Syiah, dan imam-imam yang lain dari keturunan beliau, serta mengutamakan yang lain, menunjukkan bahwa mereka kekal di neraka”.

Baginya, umat Islam masih dalam keadaan kufur, sebab tidak meyakini Ali dan keturunannya sebagai imam yang suci. Dalam doktrin Syiah Ali bin Abi Thalib adalah imam suci yang pertama. Imam ini posisinya sama dengan nabi. Pendapat-pendatan mereka dinilai sebagai hadis. Syiah Itsna ‘Asyariyah meyakini ada dua belas imam yang maksum (terbebas dari kesalahan dan dosa).

Imam Khomeini, dalam bukunya Kasfu al-Asrar menuduh Umar bin Khattab menentang al-Qur’an karena Umar membawa riwayat tentang keharaman nikah mut’ah. Abu Bakar ra dituduh tidak memberikan warisan tanah fadak kepada Fatimah. Bahkan Khomeini membuat cerita palsu bahwa Fatimah tidak menyapa mereka berdua hingga wafat.

Hadis yang bersumber dari para Imam adalah shahih tanpa perlu adanya ittishal dengan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Karena status Imam seperti seorang Nabi. Siapa saja yang menolak perintah Imam sama dengan menyalahi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk dalam kepemimpinan Khalifah. Sahabat yang mengangkat Abu Bakar al-Shiddiq sebagai Khalifah pertama, tidak memilih Ali bin Abi Thalib dianggap mengkhianati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kultus yang berlebihan (ghuluw) terhadap Imam, menjadikan penganut Syiah berwajah ekstrim. Siapa saja yang menolak Imam, dihukumi sebagai orang tersesat. Dalam al-Kafi disebutkan riwayat: “Abi Ja’far berkata:”Sesungguhnya Allah SWT menjadikan Sayyidina Ali sebagai tanda antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya. Barangsiapa mengetahuinya, maka ia mukmin. Barangsiapa yang mengingkarinya, maka ia kafir, barangsiapa yang tidak mengetahuinya berarti ia tersesat, barangsiapa yang mengangkat Imam lain bersamanya, maka ia musyrik, dan barang siapa yang mengakui kepemimpinan para Imam, maka ia masuk surga” (al-Kafi juz 1). Jadi, mengakui, dan taat pada para imam menjadi parameter Syiah untuk menilai sesat dan tidaknya seseorang.

Karena keyakinan seperti itu, Syiah menerapkan standar ganda dalam meriwayatkan hadis. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat selain Ahlul Bait. Karena selain Ahlul Bait integritas sahabat dinilai tidak tsiqqah. Husein Kasyif Ghita’, seorang ulama Syiah kontemporer mengatakan: “Saya tidak menerima hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul Bait. Sementara hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan lainnya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun”.

Jalaluddin Rakhmat, ketua Dewan Syura Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) membuat tuduhan-tuduhan merendahkan sahabat. Di antaranya, buku Sahabat Dalam Timbangan al-Qur’an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan, halaman 6, dikatakan Umar bin Khattab meragukan kenabian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syiah membenturkan antara sahabat dan Ahlul Bait, seakan-akan keduanya berseteru. Di antaranya membuat opini bahwa Sayyidah Fatimah melaknat Abu Bakar, karena Abu Bakar dianggap menahan hak waris tanah fadak Fatimah r.a. Atas dasar ini, maka Syiah melaknat sahabat. Tuduhan ini dijawab dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah bahwa Fatimah bukan memaksa meminta warisan tanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi menanyakan statusnya. Abu Bakar menjawab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewariskan hartanya. Fatimah kemudian menerima penjelasan Abu Bakar tersebut.

Kredibilitas Abu Bakar dijatuhkan dengan cara membuat opini-opini bahwa Abu Bakar penentang hukum Allah swt. “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar (Syaikhoni) melanggar al-Qur’an, bermain-main hukum Tuhan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang haram, keduanya dzalim terhadap Fatimah binti Rasulillah saw”.

Khalifah kedua, Umar bin Khattab, r.a, dituduh meragukan kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menentang firman al-Qur’an. Meskit tidak ada kalimat takfir di sini, namun pendapat tersebut menggiring opini bahwa kredibilitas Umar bin Khattab diragukan.

Usman bin Affan, Khalifah ketiga, bersama sejumlah besar sahabat dianggap pernah melarikan diri dari perang Uhud. Ketakutan diserang kaum kafir Qurasy. Para sahabat dalam beberapa persoalan dituduh tidak taat bahkan menentang perintah Rasulullah saw. Tentang larinya para sahabat dalam perang Uhud, karena mereka terdesak pasukan Qurasy. Tapi yang harus dipahami, meski mereka lari, tidak pantas mereka dicaci dan dinista. Ini sebuah kesalahan strategi. Karena itu, tidak tepat mendapat tuduhan menentang Rasulullah saw dan menanggung dosa. Sebagaian di antara syuhada Uhud adalah orang-orang yang diampuni dosanya, dijamin masuk surga. Jika tetap ada penistaan terhadap sahabat, bagaimana mungkin ukhuwah dibangun?

Khomeini mengatakan dalam kitabnya tentang sahabat-sahabat tersebut: “Dan sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang bodoh, dungu, berdosa, tidak pantas menduduki posisi pemimpin”

Sasaran penistaan juga ditujukan kepada para ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah. Muhammad al-Tijani, dalam bukunya al-Syiah hum Ahlussunnah mengatakan bahwa para Imam empat madzhab telah melanggar al-Qur’an dan Hadis, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dikatakan melakukan bid’ah dan meninggalkan imam (imam Syiah) pada zamannya.

Menghina Sahabat

Penistaan terhadap sahabat dapat dikategorikan penodaan agama. Sebab, para sahabat adalah pembesar-pembesar Islam yang mengemban misi suci setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sumber-sumber Islam dikenal kaum Muslimin sedunia melalui para sahabat. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitabnya al-Shawaiq al-Muhriqah menulis riwayat-riwayat buruknya orang yang menodai para sahabat.

Di antaranya; Dari Anas r.a : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihku memilihkan untukku para sahabat-sahabatku, di antara mereka menjadi menantu dan penolong. Barangsiapa menjagaku dalam persoalan para sahabat, maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa menyakitiku dengan menyakiti mereka, maka ia menyakiti Allah swt”

Dari Anas r.a: “Akan datang nanti suatu kaum yang mencaci dan merendahkan para sahabat. Maka janganlah kamu menemani duduk bersama mereka, jangan makan dan minum bersama mereka dan janganlah nikah dengan mereka”.

Dari Thabrani dan Abu Na’im dalam kitab al-Ma’rifah, dari Ibnu Asakir dari Iyadh al-Anshari: “Jagalah hak-hak para sahabat, menantu dan penolongku. Barangsiapa yang menjagaku dalam persoalan mereka maka ia akan dijaga oleh Allah swt di dunia dan di akhirat”.

Ciri-ciri golongan Rafidhal juga pernah dikutip riwaya oleh Ibn Hajar. Dari Imam al-Dzahabi dari Ibnu Abbas: “Akan ada pada akhir zaman nanti kaum yang bernama Rafidhah, mereka menolak Islam. Maka perangilah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik”

Dari Ibrahmin dan Hasan bin Husein bin Ali, dari ayahnya dari kakeknya, Ali bin Abi Thalib r.a. Ali berkata: Rasulullah saw bersabda, “Akan muncul pada umatku pada akhir zaman nanti kaum yang dinamakan Rafidha, mereka menolak Islam”.

Sengketa antara Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya dengan para sahabat sesungguhnya tidak pernah terjadi. Banyak keturunannya yang bernama Abu Bakar dan Umar. Anak Husein bin Ali juga ada yang bernama Abu Bakar dan Umar. Husein bin Ali pernah mengatakan bahwa mencintai Abu Bakar dan Umar bukan semata-mata sunnah, tetapi wajib hukumnya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Saya sudah lihat sendiri sahabat-sahabat Rasulullah saw. Tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari banyak berdiri ruku’ dan sujud (menyembah Allah swt), silih berganti, tampak kegesitan di dahi dan wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di atas bara bila mereka ingat akan hari pembalasan (akhirat) di antara kedua mata mereka tampak bekas sujud mereka yang lama, bila mereka ingat akan Allah, berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong bagaikan condongnya pohon dihembus angin lembut karena takut siksa Allah, serta mengharapkan pahala atau ganjaran dari Allah”.

Cinta kepada sahabat juga menjadi ajaran para keturunan Ali dari Bani Alawi. Diriwayatkan oleh Zuhair bin Mu’awiyah, Mu’awiyah pernah berkata kepada Ja’far al-Shadiq: “Tetanggaku mengatakan bahwa engkau berlepas dari Abu Bakar dan Umar r.a. benarkah itu?” Beliau menjawab, “Allah berlepas dari tetanggamu. Demi Allah, sesungguhnya aku berharap Allah memberiku manfaat berkat hubungan kekerabatanku dengan Abu Bakar r.a

Ja’far al-Shadiq juga pernah mengatakan: “Abu Bakar adalah kakekku. Jika aku tidak mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin dan tidak berlepas dari musuh keduanya, maka kelak di hari kiamat aku tidak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ja’far al-Shadiq memiliki silsilah yang bersambung kepada Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar al-Shiddiq. Dari garis ayahnya, beliau merupakan keturunan Rasulullah saw, sedangkan dari garis ibunya, beliau keturunan Abu Bakar al-Shiddiq. Ibu beliau adalah Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq.(bersambung ke bagian 2) – MIUMI Jatim (Kholili Hasib/ http://inpasonline.com/new/syiah-antara-hakikat-akidah-dan-isu-ukhuwah/)

Print Friendly, PDF & Email