Banda Aceh. Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh mengadakan pelantikan pengurus periode 2013-2015 pada Sabtu 31 Agustus 2013 di Aula Mahkamah Syariah Prov. Aceh, Banda Aceh. Hadir pada acara ini para tokoh pemerintah Aceh, ulama, da’i, imam masjid, tokoh masyarakat, tokoh ormas Islam, akademisi, mahasiswa dan lainnya.

Turut hadir yang mewakili Guberbur Aceh, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan Drs.Samidan,AW, mantan ketua DPRD Aceh Drs.Tgk.Muhammad Yus (Abu Yus), Wakil Ketua MPU Aceh Prof.Dr.Tgk.Muslim Ibrahim,MA, Wakil Walikota Banda Aceh Ibu Illiza Sa’aduddin Djamal,SE, Sekda Kota Banda Aceh Drs.T.Saifuddin,TA,M.Si, Kakanwil Kemenag Aceh Drs.Ibnu Sa’dan, MPd, Wakil Mahkamah Syar’iah Aceh Drs.M.Jamil Ibrahim,MH, mantan ketua Dewan Dakwah Sumbar dan pengurus MUI Sumbar Drs.Rusydi,SH, ketua MPU Kota banda Aceh dan tokoh penting lainnya.

Acara pelantikan yang dirangkai dengan seminar nasional itu dimulai pukul 08.30 wib sampai 12.30 wib menjelang zhuhur, ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Pengurus oleh Sekjend MIUMI Aceh Rahmat Fadhil,STP,MSc. Pelantikan dilakukan langsung oleh Sekjend MIUMI Pusat Ust.Bachtiar Nasir,Lc,MM dengan penyematan pin MIUMI secara simbolis kepada Ketua Umum MIUMI Aceh, Ust.Muhammad Yusran Hadi,Lc,MA. Penandatangan berita acara pelantikan oleh Sekjend MIUMI Pusat dan Ketua MIUMI Aceh turut juga disaksikan dan ditandatangani  oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan Drs.Samidan AW dan Setda Kota Banda Aceh Drs.T.Saifuddin TA,M.Si.

Gubernur Aceh dalam sambutannya yang dibacakan oleh Drs. Samidan AW, menyampaikan apresiasi atas hadirnya MIUMI di Aceh. Dalam pesan tertulis itu dr.Zaini Abdullah mengatakan, “Saya selaku Kepala Pemerintah Aceh sangat mendukung kehadiran MIUMI di Aceh dan berharap MIUMI Aceh bisa menjalin kerjasama dengan organisasi Islam yang sudah ada seperti Muhammadiah, NU, MPU, para ulama Aceh dan ormas Islam lainnya.”

Gubernur Aceh juga mengatakan, “MIUMI diharapkan mampu berperan untuk meluruskan pandangan yang kontra dan salah yang menilai bahwa syariat Islam itu tidak relevan dengan dinamika global yang berkembang saat ini, sehingga kebijakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam bisa diperkuat. Dengan demikian, kita tak lagi berdebat soal implementasi syariat, tapi justru fokus untuk memperkuat syariat Islam itu sendiri.”

Sementara itu, Ketua Umum MIUMI Aceh yang juga pengurus Dewan Dakwah Aceh  Ust. M.Yusran Hadi mengatakan, “Hadirnya MIUMI Aceh bukan untuk menjadi pesaing Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan ormas-ormas Islam di Aceh, akan tetapi MIUMI Aceh hadir untuk membantu dan bekerjasama serta bersinergi dengan MPU dan ormas-ormas Islam untuk mencerdaskan umat dan memperkuat penegakan syariat Islam di aceh serta menjaga Aqidah dari paham yang menyimpang dari Islam seperti Syi’ah, liberal dan lainnya.”

Selanjutnya alumnus Universitas Islam Madinah yang juga kandidat Doktor bidang Ushul Fiqh pada IIUM ini mengharapkan dukungan dari semua pihak. “Maka, MIUMI Aceh memerlukan dukungan dari semua pihak, khususnya dari pemerintah Aceh, para ulama, intelektual dan ormas-ormas Islam di Aceh, untuk bersama-sama melaksanakan kewajiban dakwah dalam rangka mencerdaskan umat, membangun peradaban Islam, menegakkan syariat Islam dan membendung paham/aliran sesat di Aceh”. Ujar  Yusran Hadi

Sedangkan Sekjend MIUMI Pusat, Ust.Bachtiar Nasir memberikan masukan dan nasehat kepada pengurus MIUMI Aceh yang baru dilantik, “Saya berharap kepada para pengurus yang baru dilantik, agar dapat menjalankan amanah dan kewajiban dakwah bersama MIUMI dengan baik dan saling menjaga ukhuwwah Islamiah.”

Seminar Nasional Keislaman

Setelah pelantikan pengurus MIUMI Aceh, acara dilanjutkan dengan Seminar Nasional Keislaman “Kupas Tuntas Liberal dan Syi’ah di Indonesia” dihadiri sekitar 300 orang peserta yang memadati tempat aula Mahkamah Syar’iah Provinsi Aceh, Banda Aceh. Acara Seminar ini langsung dimoderatori oleh Ketua Umum MIUMI Aceh, Ust.M.Yusran Hadi.

Narasumber pertama, Prof.Dr.Tgk.Muslim Ibrahim,MA, Wakil Ketua MPU Aceh, menjelaskan tentang 13 kriteria aliran sesat yang ditetapkan oleh MPU Aceh dalam fatwa no 4 Tahun 2007 yaitu Pertama, mengingkari salah satu dari rukun Iman. Kedua, mengingkari salah satu dari rukun Islam. Ketiga, meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Keempat, meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran. Kelima, mengingkari kemurnian dan atau kebenaran al-Quran. Keenam, melakukan penafsiran al-Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu tafsir. Ketujuh, mengingkari kedudukan hadits Nabi saw sebagai sumber hukum. Kedelapan, melakukan pensyarahan terhadap hadits tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu musthalah hadits. Kesembilan, menghina dan atau  melecehkan para Nabi dan Rasul Allah. Kesepuluh, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Kesebelas, menghina dan atau  melecehkan para shahabat nabi Muhammad saw. Keduabelas, merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti berhaji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu dan sebagainya. Ketigabelas, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i yang sah, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan anggota kelompoknya.

“Bila salah satu kriteria ini ada, maka dapat dikatakan suatu paham/aliran itu sesat. Terlebih lagi terpenuhi beberapa kriteria sekaligus seperti  Syi’ah dan Liberal. Maka kita harus waspada terhadap paham/aliran sesat ini, terutama generasi muda. ” Ujar Prof. Muslim.

Narasumber berikutnya adalah Ust.Adnin Armas,MA, Direktur INSISTS Jakarta sekaligus pengurus MIUMI pusat, yang merupakan pakar tentang Liberal ini menjelaskan tentang bahaya sekularisme dan liberalisme di Indonesia, di mana mereka berusaha untuk melegalkan zina, kawin sejenis, menggugat keontetikan Al-Quran, menafsirkan Al-Quran sesuai hawa nafsu, dan sebagainya. “Jelas paham liberal itu menyimpang dari Islam (sesat) dan  menyesatkan” ujar Ust. Adnin Armas.

Narasumber ketiga Ust.Fahmi Salim,Lc,MA, Pengurus MUI Pusat dan Muhammadiah Pusat, sekaligus pengurus MIUMI pusat, yang merupakan pakar tentang Syiah menjelaskan  secara detil dan jelas mengenai kesesatan Syiah yang bersumber dari kitab-kitab Syiah itu sendiri. Beliau mengajak para ulama dan intelektual muslim untuk tegas mengatakan bahwa Syiah Imamiyah atau itsna ‘Asyariah atau Rafidhah adalah sesat dan bukan Islam sebagaimana telah di jelaskan dan difatwakan oleh para ulama besar dari berbagai mazhab dalam Islam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, rangkaian kegiatan MIUMI Aceh telah diadakan sebelumnya Silaturrahmi Tokoh pada hari Kamis malam, 29 Agustus 2013 di Aula Kemenag Provinsi Aceh dan Tabligh Akbar tentang Solidaritas untuk Muslim Mesir dan Suriah yang diikuti seribuan masyarakat kota Banda Aceh pada Jum’at malam, 30 Agustus 2013 di Masjid Agung Al-Makmur Lamprit Banda Aceh dengan pembicara Ust.Bachtiar Nasir,Lc,MM (Sekjend MIUMI Pusat dan Juri Hafidz Anak Indonesia RCTI) serta para tokoh MIUMI lainnya.

Print Friendly, PDF & Email