MIUMI – Kata ‘Yahudi’ diambil dari salah satu nama anak Nabi Ya’qub yang bernama Yahouza atau Yahoude. Nama ini mulai paten ketika kerajaan Yahouza berdiri pada tahun 586 sebelum masehi. Namun, istilah Yahudi meluas dengan makna penganut agama yang dianut Bani Israel semenjak dari zaman Nabi Musa yang padanya diwahyukan kitab Taurat.

Ada pun ‘bani’ bermakna ‘klan’ dan Israel adalah nama lain dari Nabi Ya’qub, karena itu, Yahudi merupakan bagian dari Bani Israel. Ada pula yang berpendapat bahwa asal ‘Yahudi’ dari kata ‘al-haud’ berarti ‘kembali’ berdasarkan firman Allah, Inna hudna ilaika, sesungguhnya kami kembali (taubat) kepada Engkau, (QS. 7: 156).

Dari sudut istilah, Yahudi adalah kombinasi antara agama dan suku bangsa, kerena itu, ketika menyebut kata ‘Yahudi’ merujuk pada kedua makna tersebut. Namun kepercayaan orang lain pada agama Yahudi tidak dapat menjadikan dirinya sebagai bangsa Yahudi, tapi dengan keluar dari agama Yahudi juga tidak menjadikan seorang Yahudi kehilangan identitasnya.

Yang terpenting dari semua itu. Kata ‘Yahudi’ tidak dipergunakan dalam Al-Qur’an melainkan bercerita tentang suatu keburukan. Contohnya, Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Walan tardha ‘ankal yahudu wan-nashara hatta tattabi’a millatahum, (QS. 2: 120). Atau hadis Nabi, Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia, Yahudi, Nasrani, atau Majusyi, (H.R. Bukhari-Muslim).

Yahudi adalah bangsa yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena ulahnya, hingga tidak pernah awet tuk berdiam di suatu negara. Yahudi dan keonaran bak dua sisi mata uang.

Bermula ketika Nabi Israel (Ya’qub) bersama anak-anaknya hijrah ke Mesir di bawah pemerintahan Nabi Yusuf, setidaknya ada tujuh puluh Yahudi beriman yang turut hijrah.
Setelah Yusuf wafat, mereka pun dizalimi oleh Fir’aun dan keturunannya di Mesir, hingga Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk menyelamatkan mereka yang telah berdiam di Mesir selama 430 tahun. Setelah diselamatkan dari kezaliman Fir’aun, Yahudi tidak bersyukur, malah menyembah berhala dari patung anak sapi yang terbuat dari emas. Mereka pun dihukum oleh Allah dengan tersesat dan luntang-lantung di tengah gurun, hingga diutuslah Nabi Yusya’ bin Nun untuk menyelamatkan mereka.

Demikianlah terus berlaku bagi Bangsa Yahudi, hanya taat seketika jika rasul datang, setelah itu kembali ingkar, membuat keonaran, hingga pada saat tertentu membunuh nabinya, sebagaimana terjadi pada Nabi Zakaria, hal serupa ia iangin lakukan pada Nabi Isa.

Yahudi Modern

Ketika Bangsa Yahudi mengalami pengusiran seperti yang terjadi di Spanyol dan Rusia, bahkan pembantaian massal (holocaust) oleh Hitler di Jerman, mereka justru melarikan diri dan minta perlindungan di wilayah kekuasaan Khalifah Utsmani yang berpusat di Turky dan diterima dengan baik oleh Khalifah, mereka pun menetap di beberapa kota seperti Izmir, Andrianapole, Kota Bursah, dan kawasan-kawasan uatara dan barat Anatolia.

Bagi mereka, juga diberlakukan syariat Islam secara utuh sebagaimana umat Islam, khusunya dalam ranah jinayat. Kesempurnaan syariat Islam melahirkan rasa damai, aman dan sentosa dan pengakuan eksistensi mereka. Keagunagn dan keberkahan menaungi kehidupan Yahudi di bawah bendera Islam.

Banyak di antara mereka yang memeluk Islam, yang dikenal dengan golongan ‘Yahudi Dunamah’. Sayangnya, seperti yang lalu-lalu, keikhlasan mereka bersyahadat hanya di lisan, dan sekadar sebagai topeng. Mereka malah menyusun strategi untuk menghancurkan Islam dari dalam dengan berbagai cara. Bahu-membahu menebarkan kekufuran dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam, antara lain, gerakan ‘freemasonry’.

Yahudi Dunamah menyusun strategi untuk merebut Palestina dari Khilafah Utsmani, yang ternyata mendapat dukungan luas dari kalangan Yahudi di seluruh dunia, mulai dari Eropa, seperti Polandia, Jerman, Belanda, Inggris, dan Italia, demikian pula dari Afrika dan Amerika, ditopang dengan modal besar dari kalangan mereka.

Pada saat bersamaan, Khilafah Utsmani sedang mengalami krisis keungan yang hebat, berimbas pada krisis multidimensi. Pemerintah terlilit hutang yang sulit untuk terlunasi, saat itu yang menjadi penguasa adalah Sultan Abdul Hamid II, melihat momentum emas itu, Theodore Herzl melalui kurirnya datang membawa solusi kepada Sultan, katanya, Jika kita berhasil menguasai Palestina, maka kami akan membayar uang kepada Turki dalam jumlah yang sangat besar dan kami akan memberikan hadiah dalam jumlah yang melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Dan sebagian balasan dari ini, kami senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keungan Turki. Kami akan mengambil tanah-tanah yang menjadi kekuasaan Sultan sesuai dengan hukum yang ada, walaupun sebenarnya mungkin tidak ada perbedaan antara milik umum dan milik pribadi.

Solusi ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Abdul Hamid II, lewat perantara Herzl, Neolanski, beliau menegaskan, Nasihatilah temanmu itu (Herzl) agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini, sebab saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab tanah ini bukan milik saya, adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini. Mereka menyiraminya dengan ceceran darah, maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina tanpa ada imbalan dan balasan apapun, namun, patut diingat, bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik selama hayat masih dikandung badan.

Kenyataan tersebut sangat menyakitkan bagi bangsa Yahudi, mereka lalu mencari cara lain demi meraih cita-citanya, negara Yahudi. Persatuan Yahudi sedunia dirintis dengan sebuah gerakan dinamai ‘Zionisme’ yang memiliki semboyan: satu bahasa ialah bahasa Yahudi; satu bangsa dan tanah air, tanah air Yahudi.

Negara yang akan dibentuk adalah, meliputi seluruh daerah Palestina, Syiria, Libanon, sebagian Mesir, Madinah, Khaibar, hingga Irak dan sekitarnya, cita-cita itu tertuang dalam bendera, dua garis panjang pada sisi bendera bermakna sungai Eufurat di Irak dan Nil di Mesir, ada pun bintang, itulah simbol Yahudi.

Namun saat itu, seluruh negeri dambaan Yahudi berada dalam Khilafah Utsmani, maka cara tuk merebutnya, harus meruntuhkan Khilafah terlebih dahulu.

Herzl menyatakan, Dari pembicaraan yang saya lakukan dengan Sultan Hamid II, saya menetapkan bahwa tidak mungkin kita menarik faedah apa-apa dari Turki (Khilafah Utsmani), kecuali jika ada perubahan politik di dalamnya dengan cara menimbulkan perang di tengah mereka lalu mereka kalah dalam perang tersebut, atau melibatkan mereka dalam sebuah konflik antar bangsa atau dengan cara kedua-duanya.

Siasat berlanjut, kaum Yahudi lalu memulai langkahnya dengan memecah belah kesatuan umat Islam, dihembuskanlah paham fanatisme nasionalisme di kalangan negara-negara Arab, yang pada akhirnya mendorong mereka ramai-ramai pisah dari Khilafah Utsmani yang berpusat di Turki.

Selain itu, kaum muslimin dicekoki paham sesat seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Para cerdik pandai didanai, maka berdirilah kelompok Turki Muda, Kesatuan Utsmani, Organisasi Kesatuan dan Pembangunan. Mereka inilah yang bekerja secara sistematis untuk mengahancurkan Khilafah, lalu membentuk pemerintahan baru yang berkiblat ke Barat lagi pro Yahudi.

Perang Dunia I meletus, bangsa-bangsa Arab yang di bawah Utsmani bersekutu dengan Inggris, Perancis, dan Rusia, sedang Khilafah Utsmani bergabung dengan Jerman dan Austria. Jerman kalah, otomatis Utsmani ikut keok, akhirnya seluruh negara-negara Arab yang selama ini di bawah Utsmani jadi rebutan Inggris, Prancis, dan Italia, penjajahan pun dimulai, segenap negara Islam Timur Tengah jadi jarahan para penjajah.

Puncaknya, pada 2 Nopember 1917, Deklarasi Balfour menetapkan Palestina sebagai tanah air dan negara Bangsa dan agama Yahudi. Khilafah Utsmani akhirnya rontok setelah digrogoti Yahudi pada 3 Maret 1924. Dari sinilah malapetaka itu muncul yang tak pernah reda hingga umat Islam kembali bersatu, dan jika itu terjadi, maka kiamat semakin mendekat. Wallahu a’lam!

Raffles Hills, 20/8/2014.
Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel, Pengurus KPPSI Pusat

Print Friendly, PDF & Email