Kuntowijoyo pernah berucap, “Bahwa di balik kemajuan ilmu dan teknologi dunia  modern, sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang menghancurkan martabat manusia. Umat manusia memang berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban maju untuk dirinya sendiri, tapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya.”

Tidak berlebihan apa yang dikatakan Kuntowijoyo. Kita melihat bahwa teknologi manusia begitu canggih pada saat ini. Di sepanjang sejarah kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari hasil pikirannya yang begitu gegap gempita, yakni menciptakan dan merekayasa teknologi. Di bidang teknologi informasi, manusia menikmati betul kemudahan mendapatkan arus komunikasi yang begitu mudah. Sayangnya, hal itu semakin menunjukkan manusia tertawan oleh ciptaannya sendiri.

Di Indonesia, dunia pertelevisian kita mengalami kebebasan yang begitu besar. Hasil teknologi yang demikian pesat membuat seluruh lapisan masyarakat menikmatinya. Dari Sabang sampai Merauke, rakyat Indonesia disuguhkan berbagai tayangan televisi. Ironisnya, semakin kemari, televisi kita semakin kehilangan jati dirinya. Apa yang hendak disampaikan kepada masyarakat, kecuali hanya hiburan semu yang tidak jelas arah tujuannya. Mengutip Kuntowijoyo di atas, “Manusia menjadi tawanan hasil ciptaannya sendiri.”

Anda tahu program televisi On the Spot yang ditayangkan Trans 7? Program tersebut seluruhnya berisi courtessy youtube. Hal ini menjadi ironis karena menunjukkan matinya kreativitas pekerja televisi. Betapa tidak? Konten-konten youtube digunakan untuk kepentingan siaran Trans 7. Berapa biaya produksi yang dikeluarkan Trans 7? Jawabnya tidak ada, karena yang dibutuhkan hanya akses internet untuk mendownload video, kemudian diedit, ditambah grafis lalu disiarkan. Itu saja.

Publik tentu bertanya-tanya, untuk apa Trans 7 menyiarkan gambar-gambar yang sudah dilihat jutaan orang di youtube? Apa karena ingin menekan anggaran siaran, akhirnya pengelola stasiun Trans 7 memproduksi program yang paling murah tersebut.

Belum lagi Goyang Caisar yang berhasil dipopulerkan oleh Grup Trans Corporation ini. Masyarakat dipaksa menikmati goyangan yang sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi publik. Pemerhati televisi Sudaryono Achmad menyimpulkan adanya pembodohan publik. Dalam kajian studi media, banyak suara-suara kritis yang disampaikan masyarakat terhadap pengelola televisi. Melalui kajian internal hingga tulisan di internet, mereka melihat jelas adanya proses pembodohan publik ini berlangsung.

Meminjam terminologi Jean Baudrillard (1981) dalam “Simulation”, televisi swasta telah melakukan “Simulakra Media”, memproduksi segala kepalsuan (false) dan menyimpang dari rujukan (referent) kemudian menciptakan topeng-topeng, seperti sosok Caisar yang populer dengan goyangannya.

Dua contoh kasus di atas merupakan segelintir dari matinya kreativitas pekerja televisi nasional kita. Masih banyak yang bisa dikuliti oleh cerdik cendekia atas tayangan-tayangan tidak bermutu. “Creativity is The King” demikian dogma bagi para pekerja televisi. Namun, apa jadinya jika dogma tersebut tidak diiringi dengan upaya keras dan serius menyuguhkan tontontan kepada masyarakat mengenai konten yang berkualitas. Selain kreativitas adalah raja, pekerja televisi jangan mengabaikan dogma lain bahwa, “content is the king” dan pada akhirnya “Audience is The King.” Masyarakat bisa saja mematikan televisi karena buruknya konten yang disuguhkan. Jika sudah demikian, televisi kita memang benar-benar mati. (*)

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email