Salah  satu bukti adanya suatu pikiran seseorang adalah dari tutur katanya. Tutur kata menggunakan bahasa yang setiap katanya mengandung makna atau makna-makna. Setiap makna mengandung konsep dan konsep-konsep itu terajut dalam sebuah jaringan yang membentuk worldview.

Ketika bangsa Melayu tidak memiliki istilah, ‘aql, qalb, nafs, fahm, ‘ilm, yaqin, jahl, sabab, musabbab, ‘aqibah, ruh, sadr dan sebagainya mereka pinjam dari bahasa Islam (Arab). Dari bahasa Islam itu digunakanlah istilah akal, kalbu, nafas, faham, ilmu, yakin, jahil, sebab, musabab, akibat, roh, sadar dan sebagainya.

Generasi bangsa Melayu abad ke dua puluh tidak lagi sadar mereka telah menggunakan kendaraan bahasa Islam ketika mengungkapkan pikiran mereka. Sila-sila dalam PancaSila menggunakan istilah adil, keadilan, beradab, rakyat, hikmat, per musyawaratan, perwakilan. Lembaga tertinggi Negara Indonesia menggunakan istilah Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyaratan Rakyat, seluruhnya menggunakan bahasa Arab. Pertanyaan yang logis: apakah bangsa ini tidak punya istilah sendiri sehingga harus menggunakan bahasa Islam? Apakah bahasa Indonesia adil, beradab, hikmat, musyawarat, Majelis dsb.?

Masuknya istilah-istilah suatu bangsa kedalam bahasa bangsa yang lain adalah sesuatu yang biasa dalam ranah peradaban. Namun jika istilah-istilah yang masuk itu sangat asasi dan sentral dalam worldview bangsa itu maka yang satu telah menguasai yang lain. Berarti masuknya istilah-istilah Islam yang sangat asasi dan sentral ke dalam bahasa Melayu bisa diartikan penguasaan Islam terhadap bahasa dan bangsa Melayu.

Kata kata “ada” yang berarti menjadi, meng-ada atau sesuatu yang ada, sebelum Islam datang hanya menunjukkan sesuatu yang material, atau fisik yang meruang dan mewaktu. Setelah Islam datang kata-kata “ada” berubah secara radikal karena mendapatkan makna baru dari kata-kata “wujud” dari Islam. Katakata bahasa Arab wujud, yang menunjukkan makna suatu konsep yang abstrak yang sekaligus juga suatu realitas Being atau sesuatu yang ada (being), tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Bahasa Melalyu “ada” akhirnya menjadi kaya arti yaitu mengejawantah secara zahir tapi juga yang tersembunyi secara batin.

Karena kata-kata baru itu bukan sekedar kata, tapi mengandung makna dan bahkan konsep, maka Islam telah merubah cara pandang bangsa Melayu dalam berbagai hal melalui bahasa. Itulah yang kemudian diamati oleh Prof. Naquib al-Attas dan ia jadikan teori Islamisasi worldview bangsa Melayu. Apa yang ia maksud “teori Islamisasi” worldview itu adalah transformasi dari worldview Hindu-Buddha kepada worldview Islam. Namun al-Attas menggaris bawahi bahwa hanya sekedar pengertian dasar kata-kata saja tidaklah penting, yang penting adalah pengertian lain yang berhubungan dengannya.  “Sebab kata-kata itu tidak berdiri sendiri tapi memiliki konteks tertentu dan bidang semantiknya sendiri”

Apakah Islam kemudian bisa disebut agama pendatang? Benar Islam dan juga agama agama lain di dunia Melayu, seperti Hindu, Buddha, Katholik, Protestan, Kong Hu Chu adalah pendatang. Bahkan agama Kristen di Eropah, Amerika, Australia adalah agama pendatang.

Namun, Islam datang ke dunia Melayu me lalui proses transformasi yang alami. Tidak ada peperangan, tidak ada paksaan dan tidak ada intimidasi. Pembawa konsep-konsep worldview Islam juga bukan raja-raja perkasa atau para sultan adidaya. Pembawanya adalah para da’i, para saudagar dan para sufi yang saleh, santun yang ikhlas semata dan tidak memiliki kekuatan menekan atau memaksa. Selain karena cara damainya, worldview Islam diterima karena membawa pandangan baru yang sifatnya yang lebih rasional, ilmiyah dan universal.

Di zaman modern ini istilah-istilah baru dari Barat masuk ke dalam bahasa umat Islam melalui disiplin ilmu, budaya, hi buran, media massa dan sebagainya. Istilah-istilah seperti sains, infotainment, kultur, feminisme, demokrasi, ideologi, politik, karakter, moral dan sebagainya telah menjadi bahasa umat Islam. Ini dapat pula disebut dengan Westernisasi melalui bahasa. Sebab makna-mak – na yang masuk kedalam pikiran umat Islam itu berasal dari worldview Barat. Hanya saja istilah Barat itu tidak seperti istilah Islam yang dapat mengganti dan membaratkan worldview Islam. Tentu ini karena kekuatan konsep Islam dalam pikiran bangsa Melayu. Selain itu istilah-istilah dari worldview Barat itu seringkali rancu.

Bahkan akhir-akhir ini ditemukan bahwa makna dalam masyarakat Barat saat ini mengalami krisis yang akut. Makna dari berbagai istilah-istilah di sana itu tidak lagi tetap dan pasti. Setiap masyarakat dapat memahami dengan sistim nilai masing-masing. Peter L Berger dan Thomas Luckman pengusung faham pluralisme itu lalu menulis buku berjudul Modernity, Pluralism and The Crisis of Meaning. Dalam buku ini ia menggambarkan bahwa di dalam masyarakat modern yang plural sistim nilai dan khazanah maknanya tidak lagi menjadi milik umum. Individu-individu dalam masyara kat tumbuh dengan tata nilai masing-masing dan tidak dapat digunakan untuk mensikapi makna kehidupan secara umum.

Arti pernikahan bagi pasangan suami istri, misalnya, sudah berbeda dari, atau malah bisa bertentangan dengan makna yang dipegang oleh masyarakat umum. Yang lebih serius lagi adalah ketika masyarakat tidak lagi memiliki standar nilai kehidupan, sehingga tidak dapat membedakan antara “adalah” dan “seharusnya”, katanya. Inilah yang disebut Peter Berger krisis makna (crisis of meaning). Itulah sebab Muslim yang menggunakan makna-makna dan konsep-konsep dari Barat mengalami kebingungan intelektual dan kegelisahan spiritual. (Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi [Gus Hamid] Ketua MIUMI. Artikel ini pernah dimuat Jurnal ISLAMIA Republika edisi Kamis, 24 Oktober, 2013). / Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Print Friendly, PDF & Email