MIUMI – Arrahman Qur’anic Learning Center (AQL) melaksanakan salat gerhana tepat bakda Magrib, 8 Oktober 2014 bertempat di Tebet Utara-I No. 40 Jakarta Selatan, Bertindak sebagai imam adalah Ustad Deden Muhammad Mukhyar al-Hafizh, juara pertama MTQ internasional, Maroko 2013, sedang bertindak sebagai kahtib, Dr. Zainuddin MZ, Ketua MIUMI Jatim, pakar hadis, dan kandidat dosen hadis di Universitas Malik, Saudi Arabia.

Sejak pukul 17.00, jamaah, baik kaum Adam maupun kaum Hawa sudah memadati masjid AQL, dimulai dengan membaca zikir ma’tsurat oleh Ustad Nasrullah, pembaca hadis acara “Khazanah Tras7”. Dilanjutkan dengan salat Magrib yang langsung dipimpin oleh Ustad Deden. Begitu usai Salat berjamaah, Ustad Hendra Udayana, Lc., maju kedepan membacakan tata cara salat gernahana yaitu, terdiri atas dua rakaat berisi dua ruku pada setiap rakaatnya. Setelah takbiratul ihram membaca surah Al-Fatihah seperti biasa, kemudian ruku’ lalu i’tidal dan kembali membaca al-fatihah dan surah lainnya lalu ruku kedua kalinya, i’tidal dan sujud. Rakaat kedua pun demikian adanya.

Ustad Hendra menutup arahannya dengan mengajak semua jamaah untuk berdiri dan salat gerhana berjamaah dengan seruan, As-Shalatu jami’ah!

Usai salat gerhana, dilanjutkan dengan khutbah oleh Dr Zainuddin MZ. Ketua MIUMI Jawa Timur. Memulai khutbahnya dengan berkisah bahwa di zaman Nabi, saat terjadi gerhana, bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah bernama Ibrahim. Saat ia meninggal, Rasulullah dan para sahabatnya benar-benar sedih. Karena itu, ada ungkapan tidaklah terjadi gerhana kecuali Ibrahim meninggal.

moon

Maka Nabi pun memberikan keterangan pada umatnya bahwa gerhana itu tidak terkait dengan wafat atau lahirnya seseorang. Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak pula karena kelahirannya, maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah pada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah, demikian hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim bersumber dari Aisyah.

Ketua MIUMI Jatim ini juga mengaskan bahwa tanda kebesaran Allah begitu banyak dalam Al-Qur’an, misalnya, Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, (QS. Yasin: 39).

Ayat-ayat kauniyah, menunjukkan bahwa alam ini sebagai alat untuk mendekatkan kita pada penciptanya, bukan sebagai sesembahan. Demikian pula fenomena alam seperti gerhana bulan yang terjadi saat ini sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan untuk direnungi lalu dijadikan dorongan agar taat beribadan pada Allah. (Ilham-MIUMI).

Print Friendly, PDF & Email