Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Ibnu Khaldun Al-Magribi Al-Hadrami Al-Maliki, yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun. Lahir di Tunisia pada bulan Ramadhan 732H/133M. Berasal dari keluarga ilmuan dan terhormat yang berhasil menyatukan antara jabatan ilmiah dan pemerintahan, sehingga Ibnu Khaldun tumbuh menjadi pribadi yang haus ilmu pengetahuan dan cinta jabatan secara profesinal.

Ibnu Khaldun memulai pendidikannya dengan membaca, menelaah, dan menghafal Al-Qur’an yang langsung dididik oleh sang ayah, Abu Abdullah Muhammad sebagai guru pertama yang sekaligus  menjabat sebagai menteri walau akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan beralih menekuni kesufian. Pada tahun 749H, terjadi wabah pes yang dahsyat dan mematikan, di antara korbannya adalah kedua orang tua Ibnu Khaldun, serta beberapa gurunya, dan karenanya, ia terpaksa putus sekolah lalu hijrah ke Magrib.

Secara keseluruhan, Ibnu Khaldun memiliki empat periode dalam hidupnya, bermula ketika berada di Tunisia dan berakhir di Kairo Mesir, setiap periode memiliki ciri khas tersendiri.

Pertama, periode pertumbuhan, belajar dan menuntut ilmu (732-751H), selama 20 tahun, seluruhnya dihabiskan di Tunisia. Pada periode ini, Ibnu Khaldun berhasil menyelesaikan studinya dan memiliki ijazah ilmiah, antara guru-gurunya yang memiliki pengaruh dalam membentuk worldview bagi dirinya adalah, Syeikh Muhammad Ibnu Ibrahim guru dalam ilmu-ilmu filsafat dan sastra. Juga, Syaikh Abdul Muhaimin Ibnu Hadrami dalam ilmu-ilmu agama yang meliputi, kitab-kitab hadis seperti Kutub as-Sittah, dan al-Muwatta’.

Kedua, periode sebagai pejabat negara dengan menduduki jabatan-jabatan administrasi, sekertaris dan politik (751-776H). Selama sekitar 25 tahun, ia pindah-pindah dari berbagai negeri Magrib, hingga sampai di Andalusia (Spanyol), dan menduduki jabatan startegis.

Ketiga, periode uzlah, atau mengasingkan diri dengan menulis dan mengadakan penelitian (776-784H). Pada periode ini, Ibnu Khaldun berhasil menulis karyanya yang amat fenomenal “Al-Muqaddimah”.

Keempat, periode mengajar dan menjadi hakim (784-808H). Pada periode ini Ibnu Khaldun meninggalkan kehidupan politik secara totalitas, dan beralih profesi sebagai hakim negara di Mesir sekaligus menjadi guru besar di Al-Azhar dan beberapa sekolah lainnya.

Ibnu Khaldun adalah penulis produktif, tulisan-tulisannya begitu banyak membahas berbagai macam persoalan. Kitab “Al-Muqaddimah” yang merupakan tulisan pengantar dari kitab intinya, “Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada’ wa Akhbar fi Ayyam al-‘Arab wa Al-‘Ajam wa Al-Barbar waman Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-Akhbar”,  atau disingkat “Al-‘Ibar”, adalah pengantar yang terpanjang dalam sejarah tulis menulis. Dan, kata pengantar inilah menjadi inti dari seluruh persoalan yang dibahas dalam “Al-Ibar”.

Ia juga menulis sebuah otobiografi dengan judul “At-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban” yang disebut juga “At-Ta’rif”. Ia menulis biografinya sendiri dengan cara yang sistematis dan ilmiah.

Ibnu Khaldun adalah seorang yang memiliki banyak keahlian, dan telah menghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Beliau dikategorikan sebagai pakar pendidikan, ahli sejarah,  bapak sosiologi, ekonom dan politikus handal.

Bahkan pemikiran ekonominya telah melampaui zaman sesudahnya, termasuk yang dikemukakan Adam Smith (1723-1790) atau David Ricardo (1772-1823).

Publikasi ilmiah Ibnu Khaldun adalah berbasis dari hasil penelitian, termasuk pengamatannya dalam berbagai jenis dan level masyarakat. Selain itu, beliau bukan hanya terpaku pada filsafat dan teoritis, melainkan aplikatif dengan cara terjun langsung menjadi pejabat pemerintah, hakim, dan guru besar. Fokus telaah Ibnu Khaldun kali ini adalah, konsep pembangunan negara.

Fikih Pembangunan

Pengertian fikih secara bahasa adalah pemahaman, sedangkan menurut istilah merupakan ilmu yang mempelajari hukum syariat, termasuk menetapkan kejelasan hukum sebuah perkara, mulai dari wajib, sunnah, mubah, makruh, hingga haram dengan berlandaskan Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan istimbat para ulama muktabar.

Fikih juga dapat bermakna lebih luas, berupa pemahaman dan konsep. Karena itu, ‘fikih pembangunan’ dimaksud adalah konsep pembangunan yang digagas oleh Ibnu Khaldun.

Berdasarkan kitab “Al-Muqaddimah, Darul-Fikri, t.tp., t.th.”, Ibnu Khaldun memaparkan bahwa pembangunan sebuah wilayah atau negara dapat dibentuk dengan terbentuknya sebuah kekuasaan atau pemerintahan, dan pemerintahan hanya dapat terwujud jika salah satu golongan masyarakat dalam wilayah tersebut dapat berkuasa dan menguasai kelompok lainnya.

Kekuasaan yang dimaksud adalah kemampuan untuk menundukkan golongan lainnya atau mampu menimbulkan kesadaran bersama (konsolidasi) untuk membangun negara. Dalam konteks kekinian, pemimpin yang dipilih oleh mayoritas masyarakat berhak menjadi kepala negara sekaligus sebagai penguasa yang dalam pandangan Ibnu Khaldun, kekuasaan tersebut dicapai karena adanya interest berupa kedudukan yang menyenangkan, meliputi berbagai kesenangan materi maupun non materi, kepuasan spritual, visibel maupun invisible sehingga untuk menggapainya seringkali melalui kompetisi yang ketat dan rumit, ini karena, tidak banyak penguasa yang mau menyerahkan tahtanya secara sukarela.

Kekuasaan politik menurut Ibnu Khaldun sejatinya memiliki tujuan pokok untuk kemaslahatan bersama dan demi kemanusiaan. Karena kemaslahatan dan kemanusiaan adalah fitrah sejati umat manusia. Sementara memenuhi fitrah, berupa kebutuhan untuk hidup dan tempat tinggal adalah bagian utama dari tujuan dibentuknya pemerintahan.

Tidak hanya sebatas kemanusiaan dan kemaslahatan, tujuan inti politik bagi Ibnu Khaldun, adalah sebagai amanah dari Allah untuk membumikan undang-undangnya bagi segenap umat manusia demi kamaslahatan bersama. Teraplikasinya syariat Allah kepada segenap makhluk-Nya adalah tonggak utama pembangunan sebuah bangsa. Sebab, bangsa yang berhukum dengan hukum Tuhan adalah bangsa yang baginya diturunkan berkah Allah dari langit, dan akan dikeluarkan rezekinya jika masih berada dalam perut bumi. Pembangunan manusia yang beradab dan bersyariat adalah asas utama dalam membangun sebuah bangsa, karena secanggih apa pun, semewah apa pun sebuah bangsa dari segi fisik, namun kropos dari segi moral, berani menentang dan menantang Tuhan, pada hakikatnya hanya menunggu kehancuran.

Walaupun dalam beberapa aspek, Ibnu Khaldun mengakui bahwa bisa saja sebuah negara berdiri, terbentuk tanpa dengan agama, namun prinsip-prinsip kerja sama dalam mencari kebutuhan primer maupun sekunder, kesadaran melawan musuh, kesadaran akan kelemahan, mampu membaca kekuatan musuh, hingga diperlukannya nasionalisme sebagai bagian dari sugesti membela sesama dan melawan musuh bersama.

Masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang menetap di suatu wilayah dan telah membentuk peradaban, bukan yang nomaden seperti di hutan dan padang pasir. Karena hanya penduduk tetaplah yang mampu membangun negara disebabakan adanya kesadaran bersama di tempat dan waktu yang sama.

Pembangunan negara, menurut Ibnu Khaldun juga unik, karena ia akan lahir, tumbuh, berkembang, maju, dan runtuh. Tak ubahnya sebuah perjalanan yang dialami oleh menusia dalam fase hidupnya. Ada empat tahap keberadaan sebuh negara atau dinasti. Pertama, tahap pendirian negara. Ini merupakan tahap penaklukan dan perebutan kekuasaan yang dilandasi dengan membangun kesadaran nasionalisme sebagai alat untuk membentuk dan menata kesadaran bersama.

Kedua. Pemusatan kekuasaan. Tahap ini, penguasa akan berusaha menghilangkan nasionalisme dan mulai memonopoli kekuasaan, serta membersihkan orang-orang lain dari lingkaran kekuasaannya.

Ketiga. Tahap kekosongan, menikmati buah kekuasaan dengan cara menumpuk-numpuk harta kekayaan, berlomba-lomba meraih kemewahan dan kemegahan hidup, inilah puncak kejayaan negara dari sisi materialnya.

Keempat. Tahap ketundukan dan kemalasan. Dalam kondisi ini, negara dalam keadaan stagnan, tidak ada perubahan apa pun yang terjadi, karena ia telah berada pada puncaknya, maka negara seakan sedang menunggu kisah akhirnya.

Kelima. Tahap foya-foya dan penghamburan kekayaan negara. Sebuah negara yang telah uzur dan memasuki era kepunahan, negara yang dilanda penyakit kronis, sekarat, dan sedang menunggu malakul-maut.

Bagian kelima ini ditandai dengan keadaan para pejabatnya hanya memikirkan perut dan di bawah perutnya. Kuliner dan syahwat. Uang negara digarong, meninggalkan ilmu dan iman, dan merajalelanya kemaksiatan dan kebodohan. Para ulama juga telah dirusak dengan ‘wahn’ berupa cinta dunia dan benci akan kematian ‘hubbud-dunya wakarahiyatul maut’, maka muncullah pemimpin yang tidak amanah dan jahil akan agama. Jika ulama dan pemimpinnya sudah sama-sama rusak, maka secara ringkas, masyarakat dan negara pun tinggal menunggu saat-saat akhir ceritanya.

Karena itu, Ibnu Khaldun menawarkan solusi dalam membangun bangsa dan negara, pertama, mengawali pembangunan dari sisi kualitas sumber daya manusianya dengan memberikan pemahaman yang benar kepada segenap rakyat bahwa kesadaran bersama akan keterbatasan untuk melawan musuh dari luar, sehingga berusaha menyamai atau menyaingi bangsa lain yang suatu saat boleh jadi akan melakukan penjajahan dan pencaplokan, baik fisik maupun secara mental dan prilaku.

Kedua, penguatan pemerintah. Hanya dengan solidnya para pemimpin dan pengelolah negara, sehingga bangsa akan kuat. Sebab, jika antarsesama pengelolah negara saja saling bermusuhan dan cakar-cakaran, maka secara otomatis negara menjadi lemah. Adanya konflik di tingkat elite secara otomatis membawa dampak yang besar akan kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara.

Ketiga. Pembangunan bangsa tidak hanya diprioritaskan pada fisik, berupa bangunan-bangunan infrastruktur dan gedung pencakar langit, akan tetapi pembangunan manusia adalah hal yang paling pokok. Sebab kualitas pembangungan fisik sangat tergantung dengan sumber daya manusia yang ada. Rusaknya fasilitas umum, sebagaimana yang terjadi di Indonesia sangat terkait dengan ulah manusia-manusia yang tidak berilmu dan minus beradab.

Sedangkan sistem pendidikan yang ditawarkan Ibnu Khladun, berbasis kurikulum aqli dan naqli juga patut diapresiasi. Aqli adalah materi pendidikan berbasis filsafat dan sains yang menjadi motor penggerak pembangunan bangsa dari segi fisik. Sedang ilmu naqli adalah ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu Allah, berupa Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, asas dalam membangun mental dan psikis bangsa, lazim juga disebut ilmu fardhu ‘ain yang akan membawa kemaslahatan penuntutnya di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam!

Dimuat Jurnal Islamia Harian Republika, 20 Nop. 2014.

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama BAZNAS-DDII & Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Print Friendly, PDF & Email