Nasib Studi Islam di Perguruan Tinggi
|
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 22 May 2013 04:49 |
|
Pada hari-hari ini, seperti biasa menyongsong tahun ajaran baru, banyak orang tua dan juga siswa yang sibuk bertanya, kemana akan melanjutkan kuliah? Banyak kampus sudah memasang iklan di media massa, mempromosikan program studi di kampus masing-masing.
Seperti biasa, program studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam pun mulai menyiapkan diri untuk menggaet dan menerima mahasiswa baru. Menteri Agama RI belum lama ini menyampaikan, bahwa untuk saat ini, perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) distop dulu. Sekarang, hanya ada UIN di seluruh Indonesia.
Menteri Agama khawatir, pembukaan UIN akan semakin meminggirkan program studi Islam di kampus tersebut, sebagaimana yang terjadi selama ini. Sebab, bukan rahasia lagi, para mahasiswa dan orang tuanya, lebih banyak yang berminat memasuki program-program studi umum yang dibayangkan akan lebih menjamin masa depan.
|
|
|
Workshop : Sejarah Peradaban Palestina dan Korelasinya dengan Peradaban Akhir Zaman
|
|
|
|
|
Written by Agastya Harjunadhi
|
|
Thursday, 16 May 2013 07:41 |
|
Setiap diantara kita baik itu pendidik atau siswa, penting untuk mengetahui sejarah peradaban agamanya karena dari pengetahuan sejarah tersebut, kita mampu membangun nilai-nilai peradaban bangsa.
Sejarah Palestina tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam baik dulu maupun sekarang hingga akhir zaman, karena Palestina adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Palestina adalah negeri Para Nabi, bahkan Palestina adalah salah satu Negara pertama yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Indonesia yang telah merdeka selama 67 tahun lebih seharusnya telah memiliki karakter bangsa yang kuat, tetapi pada kenyataannya bangsa ini semakin jauh dari moral dan karakter yang diharapkan. Apakah kehancuran moral dan karakter bangsa ini muncul dengan sendirinya? atau ada faktor-faktor eksternal yang secara sengaja berusaha melemahkannya……
Dengan workshop ini diharapkan para pendidik dapat menganalisa nilai-nilai karakter yang berbasis Al Qur’an dan Hadits serta mengintegrasikannya terhadap pembangunan karakter bangsa yang merupakan tujuan pendidikan Nasional.
|
|
Last Updated ( Friday, 17 May 2013 09:57 )
|
|
|
|
Teologi Perempuan dalam Islam
|
|
|
|
|
Written by Fahmy Salim, MA
|
|
Thursday, 09 May 2013 10:41 |
|
Suatu hari, saat sedang berkumpul bersama para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Asma’ binti Yazid al-Anshariyah. Setelah dipersilakan, Asma menyampaikan aspirasinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah yang jadikan ayah dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh Muslimah. Tiada satu pun di antara mereka saat ini kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, dan yang mengan dungi anak-anak kalian. Sementara, kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjemaah, shalat Jumat, menengok orang sakit, mengantar je nazah, bisa haji berulangulang, dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah, atau berjihad, kami yang jaga harta kalian, menjahit baju kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”
Rasul melihat-lihat para sahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya lebih baik dari Asma’?” “Tidak wahai Rasul,” jawab sahabat. Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke manapun ia pergi, pahalanya setara dengan apa yang kalian tuntut.” Asma’ lalu pergi keluar seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan. Kisah di atas direkam oleh Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah (Vol 22/420).
|
|
|
Sepatutnya Kontes Miss World Dibatalkan? (2): Penistaan Martabat Perempuan
|
|
|
|
|
Written by DR. Adian Husaini
|
|
Tuesday, 07 May 2013 04:46 |
|
Lazimnya, perempuan biasanya ingin tampil cantik, dan senang dipuji kecantikannya. Sementara laki-laki lazimnya senang memandang kecantikan perempuan. Keinginan naluriah itu ada pada manusia. Rasulullah saw pun memberitahukan, bahwa perempuan dikawini karena empat hal: kecantikannya, hartanya, nasabnya, dan juga agamanya. Nabi memerintahkan untuk mengutamakan faktor agama, jika rumah tangganya mau selamat. Toh, faktor cantik tidak dilarang untuk dijadikan sebagai pertimbangan. Sebab, itu memang naluriah laki-laki normal. Al-Quran juga menjelaskan, salah satu syahwat dunia adalah kecintaan kepada perempuan, anak-anak, harta perniagaan,emas dan perak, sawah ladang, dan peternakan. (QS 3:14).
Islam bukanlah agama yang membunuh naluri manusia, sehingga melarang pemeluknya untuk menikah dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tapi, Islam juga bukan agama yang memerintahkan umatnya untuk mengumbar nafsu syahwatnya. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam menunjung tinggi prinsip keadilan.Islam tidak membunuh hawa nafsu, tetapi mengendalikan dan mengatur hawa nafsu, sesuai dengan konsep Sang Pencipta, agar manusia meraih kebahagiaan (sa’adah); bukan sekedar meraih kepuasan syahwat jasmaniah.
|
|
|
|